Rabu, 11 Februari 2015

Little Sweet Momment : Backstage

Aku sedang mendengarkan All of Me milik John Legend di bangku taman kampus ketika Pras menepuk bahuku. "Woi. Rapat" ucapnya kemudian berlalu.
"Sial!" umpatku. Pras menghancurkan imajinasi indahku tentang lagu ini. Lagu indah yang hanya diiringi dengan dentingan piano merdu yang membuat aku berkhayal John Legend menyanyikan lagu ini untukku. Ya, hanya khayalan.

Dengan langkah berat aku menuju ruang rapat. Ruangan tempat berkumpulnya para anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang sangat tidak menyenangkan ini. Kalau saja bukan karena Mr. Smith, aku tak akan bergabung dengan badan ini.

Mr. Smith adalah dosen Bahasa Inggris sekaligus pengurus dari BEM. Menurut senior-seniorku, Mr. Smith sangat selektif memilih anggota, dan aku adalah manusia paling beruntung (menurut mereka) karena bisa menjadi anggota BEM tanpa mengikuti seleksi apapun. Karena itulah, BEM menjadi tempat yang sangat tidak menyenangkan untukku karena beberapa anggotanya membenci aku yang bisa menjadi anggota tanpa mengikuti seleksi.

"Baiklah, agenda rapat kita hari ini adalah membahas acara ulang tahun kampus tercinta kita ini. Kita mulai dari acara pensinya" Itu yang bicara Tomi atau yang hanya biasa dipanggil Tom, seniorku, semester 5. Dia adalah ketua BEM. Tampan, cerdas, tegas, terkenal dan disukai banyak wanita. Mungkin atas dasar itu Mr. Smith mencalonkannya menjadi ketua BEM dan kemudian terpilih.

"Khael, susunan acara yang saya minta kemarin sudah kamu buat?" Tanya Tom padaku yang sedang asik mencorat-coret buku catatan miniku.
"Sudah kak, ini" Ucapku sambil memberikan buku itu pada Tom.
"Apa ini? Lirik lagu John Legend?" Katanya dengan nada kagetnya seraya sedikit membentak. Seluruh anggota BEM yang lain tertawa, mentertawai kebodohanku. Aku memaki diriku sendiri. Bisa-bisanya aku salah memberikan catatan. Bodoh, bodoh, bodoh.
Aku melihat sudat mata Mr. Smith. Kalau tidak sedang ramai, pasti Mr. Smith sudah membentakku dengan kalimat khasnya "Bikin malu!".
"Sorry kak, sorry, ini yang benernya kak, sorry banget kak" ucapku memohon maaf pada ketuaku ini.
"Oke. Besok-besok kalau rapat jangan melamun" Katanya, kemudian memberikan susunan acara pada sekertaris yang kemudian dibacakan.

Rapat hari inipun berakhir dengan terpilihnya MC untuk acara, dan pengisi-pengisi acara lainnya. Tugasku adalah menemui Ketua Divisi Teater, Seni Musik dan membuat pendaftaran untuk Band Band yang hendak mengisi acara. Sedangkan Panitia inti seperti Ketua, Sekertaris dan Bendahara akan mencari Bintang Tamu yang dirahasiakan dari kami.

***

Akhirnya tiba juga hari ulang tahun kampusku. Acaranya sangat meriah karena juga ternyata dihadiri oleh senior-senior yang sudah lulus. Gedung sewaan yang mampu menampung 3000 orang ini menjadi lautan manusia. Acaranya memang diadakan di dalam ruangan. Sengaja, mengingat ini adalah musim hujan tak ingin mengambil resiko maka kami menyewa gedung.

Acara demi acara terus berjalan. Aku yang paling lelah sepertinya. Kulihat wajah tenang dari Kakak Ketua itu bersama dengan sekertaris setianya itu duduk berdampingan. Sedangkan aku yang sibuk bolak-balik demi lancarnya kegiatan ini, beginilah nasib seksi acara (atau sebut saja seksi repot)

Akhirnya ketua ambil alih. Tomi menyuruh semua panitia berkumpul disamping panggung karena dia akan mengeluarkan bintang tamu 'rahasia'nya itu. Aku malas, makanya aku minta ijin pada Tom untuk duduk di bangku penonton bersama Merry dan Andre. Aku yakin bintang tamunya hanyalah Band lokal daerahku yang gaya bermusiknya cadas dengan pakaian serba hitam dan rambut kusut. Tom mengijinkan aku untuk duduk di kursi penonton. "Kamu sudah terlalu lelah" ucapnya. Ternyata dari tadi dia tau aku lelah, dia tidak terlalu buruk ternyata.

Semua panitia sudah duduk disudut yang berlawanan dengan para Panitia Inti. Mereka (baca : Tom) mengucapkan banyak terima kasih untuk kehadiran teman-teman, senior-senior dan para dosen. Tak lama, keluarlah si Bintang tamu rahasia itu. aku memejamkan mata karena lelahnya.
"Benn.. Benn.." Teriak para gadis dibelakangku.
"Oh, nama bintang tamunya Ben" Seruku dalam hati, aku masih tetap tak membuka mataku karena jujur aku sangat lelah.
"Mik, Benedict tuh" Senggol Merry padaku yang akhirnya aku membuka mata, memandang pemandangan indah didepanku. pria dengan kemeja putih panjang itu menarikan jari-jari indahnya diatas tuts hitam putih itu. Menyanyikan lagu John Legend - All of Me. Aku merapikan posisi dudukku yang tadinya merosot, membersihkan kaca mata dan masih tak percaya kalau itu adalah Benedict.
Aku menatapnya, terkagum dengan pesonanya, aku terbawa arus permainan jari-jari indahnya. Ben menatap kearahku, seperti sedang menyanyikan lagu All of Me itu untukku. Aku tersenyum, tersipu malu.
"Oh, ada Velly pantesan Ben nyanyinya segitu mengahayati" celetuk Andre yang tau banyak tentang Benedict. Velly adalah orang yang yang sekarang ini sedang dekat dengan Ben. Ya, si cantik itu, selevel dengan Ben. Bagai tertusuk paku tiba-tiba aku merasa kesakitan yang tak mampu terungkapkan. Menetskan air mata saja aku tak mampu. Kulirik kearah kanan, ya Velly disana, ternyata Ben memainkan matanya pada wanita itu bukan padaku. Lagu pun berakhir, semua orang bertepuk tangan atas permainan indah Ben, tak terkecuali aku.

Andre dan Merry menghampiri Velly. Aku hanya menyapa sekenanya saja, karena aku harus kembali berkumpul bersama panitia dan pengisi acara. Kulihat semua panitia sudah berkumpul bersama para pengisi acara. Tak kusangka, Ben masih ada disini, dibelakang panggung. Tom mengucapkan selamat yang tulus padaku, beberapa teman lain yang dulunya terlihat membenciku juga mengucapkan selamat yang tulus. Kata mereka acara ini sukses berkat aku juga, aku jadi terharu.

Sesi terakhir adalah sesi berfoto. Semua panitia berfoto bersama semua pengisi acara serta Bintang tamu spesial kami. Tak kuduga, Tino, photographer kami menyuruhku berdiri disamping Ben. Lalu Ben merangkulku dan juga Tom yang berdiri disisi satunya. Aliran darahku mengalir deras ketika pria itu merangkulku lalu menatapku, serasa aku ingin teriak 'please, jangan phpin aku'.

Sesi foto selesai. Panitia dan para pengisi acara mulai membubarkan dirinya masing-masing. Ada yang masih mengobrol dan tertawa-tawa, ada yang membereskan barang-barangnya dan yang menarik perhatianku adalah kerumunan di dekat Grand Piano. Ada sekumpulan wanita yang masih meminta foto bersama dengan Benedict, aku hanya tersenyum dari kejauhan ini dan mulai merapikan barang-barangku.

Kerumunan tersebut bubar, aku melihat Benedict masih duduk dihadapan Grand Piano tersebut.
"Minta foto dong kak" Ucapku dari belakang pundaknya, dia menoleh dan mengeluarkan senyuman khasnya yang penuh misteri--yang sangat aku sukai.
"Kayak nggak pernah foto sama aku deh" Katanya kemudian mulai menarikan jari-jari indahnya.
"Tadi mainnya keren banget" Kataku memuji permainannya tadi
"Makasih. Mau denger lagi gak?" Katanya sambil menoleh, matanya mencuri mataku dan aku tak mampu bicara.
"Sini, duduk disamping aku" Katanya, layaknya menerima perintah dari atasan aku langsung duduk disebelahnya. Dia mulai menarikan jari-jari indahnya diatas tuts hitam putih itu, lalu menyanyikan lagu itu lebih indah dari yang aku dengar diatas panggung tadi.
Aku bertepuk tangan setelah dia menyelesaikan permainan indahnya itu.
"Keren banget" Kataku sambil menyeka air mata yang menetes karena indahnya permainan jari-jari Ben.
"How many times do I have to tell you? Even when you're crying you're beautiful too" Nyanyinya mengulang lirik lagu John Legend yang artinya : Udah berapa kali aku bilang sama kamu? Walaupun kamu nangis, kamu tetep cantik. Wanita mana yang tidak meleleh ketika pria menyanyikan lirik lagu tersebut?
"Aduh, melted nih" Kataku padanya yang sepertinya senang membuat aku meleleh.
"Mana? Kamu belum berubah jadi cairan tuh, masih utuh, masih chubby" Katanya kemudian mencubit pipiku.
"Kamu mau aku berubah jadi cairan?" Tanyaku
"Gak apa-apa, ntar aku masukin dalam botol terus aku pajang di kamar" Katanya sambil tertawa dan akupun tertawa bersamanya.
"Ayo pulang" Ajakku
"Nanti ah, bentar lagi" Katanya yang kemudian kembali menatap Grand Piano tersebut.
"Kamu betah banget disini" Ucapku.
"Gimana gak betah duduk di depan Grand Piano impian aku dan cewek cantik disebelahku" Katanya kemudian tersenyum dan kembali menatap Grand Piano tersebut.
"Gombalnya pinter sekarang" Kataku, lalu mengacak-acak rambutnya.
"Ayolah pulang" lanjutku, "Velly nungguin kamu loh!" kataku dengan spontan.
"Velly? Emang dia ada disini?" Tanyanya, kemudian mengeluarkan gadgetnya, aku hanya mengangguk.
"Biarin deh" Lanjutnya, "Dia nggak bilang mau kesini" Katanya, kemudian memasukan kembali gadgetnya ke sakunya lalu menarikan lagi jari-jari indahnya, entah memainkan lagu apa, tapi aku senang mendengar dan memperhatikan jari-jari indahnya di atas tuts hitam putih itu.
"Kamu pulang sama siapa?" Tanyanya, memecah keheningan.
"Sendiri" Kataku singkat
"Naik apa?" Tanyanya lagi.
"Naik angkot palingan" ucapku
"Nggak berubah ya kamu, angkot mulu" Katanya
"Tadi pagi aku dijemput dosen aku, hujan soalnya, makanya nggak bawa motor. Merry udah pergi sama Andre tadi bareng Velly,Lady dan Rina" kataku setelah melihat isi BBM dari Merry.
"Oh, ada Lady sama Rina juga" Gumamnya.
"Iya" ucapku singkat padanya.
"Yuk pulang" Ajaknya, menatap kearahku. Aku menganggukan kepala dan berjalan mendahului Ben.
"Hujan Ben" Kataku
"Kamu ada payung?" Tanyanya.
"Ada" jawabku singkat
"Aku pinjem, kamu tunggu sini" Katanya kemudian membuka payung pink-ku dan kemudian berlalu.
Tak lama, sebuah mobil berwarna putih, parkir persis didepanku.
"Yuk" Ajaknya, ternyata Ben, aku langsung masuk ke mobilnya.

Ben mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati, mengingat sedang hujan, lalu Ben menghentikan mobilnya disalah satu rumah makan khas Manado.
"Karena hujan, kita makan dulu ya" Katanya kemudian mematikan mobilnya. Aku hanya menuruti perintahnya. Ben memesan makanan yang beberapanya aku tau dan sudah dipastikan kalau rasanya pasti pedas. Ben memang suka dengan masakan-masakan yang berasa pedas.

Hujan terlihat menetes lebih tipis, langit mulai terlihat cerah. Aku keluar rumah makan tersebut bersama Ben lalu masuk ke mobilnya. Sepanjang jalan, kami hanya tertawa, bicara dan menghabiskan hari ini.
"Ben, Ben! Pelangi" ucapku spontan melihat pelangi yang indah itu. Ben kemudian meminggirkan mobilnya ke sebuah lapangan yang luas. Spontan aku keluar dari mobil, berlari ke arah pelangi. Ben mengikutiku. Aku mengambil beberapa gambar bersama pelangi yang dilangit dan pelangi disampingku. Kami tertawa tak perduli pikiran aneh orang yang berlalu lalang.

Ben sudah bersandar dipintu mobilnya, memperhatikanku yang sedari tadi masih sibuk dengan kamera ponselku untuk mengambil beberapa momment indah itu. Tanpa sepengatahuan Ben, aku mencuri fotonya yang sedang bersandar di pintu mobilnya itu. Dia memang terlihat indah, sangat indah. Aku ikutan bersandar dimobilnya sambil melihat ke arah pelangi tersebut. Ben melakukan hal yang sama. Aku merasakan ada sesuatu yang dingin menyentuh jari-jariku, kemudian terasa semakin hangat, aku menoleh dan ternyata Ben menggenggam tanganku. Aku hanya mampu tersenyum menikmati sisa hari ini bersamanya.

"Thanks ya Ben!" ucapku didalam mobil ketika tiba di depan kontrakanku.
"Sama-sama" Katanya
"Kamu nggak mau mampir?" Tanyaku
"Nggak deh, ntar malem aku mesti ngiringin Vanny"
"Oh gitu, hati-hati ya Ben"
"Iya"
"Yaudah. Bye" Kataku sambil memncoba membuka pintu mobil yang ternyata tidak bisa dibuka.
"Kamu nggak mau semangatin aku?" Tanyanya
"Oh, semangat ya Ben!" Kataku, kemudian mencoba lagi membuka pintunya, Ben menarik tanganku, kemudian mencium keningku. Aku terpaku dengan kejadian ini dan aku mengerti sekarang.
"Oh. oke, semangat ya Ben!" Kataku mencium pipinya. Ben keluar membukakan pintu untukku.
"Thanks ya!" Ucapnya menggenggam tanganku.
"Ok. Thanks juga Ben!" Kataku kemudian dia masuk kembali ke mobilnya dan dia pun berlalu.


Memang hari ini aku tak melakukan hal bodoh, namun Ben muncul. Ben muncul sebentar dan seperti biasanya, dia menghilang. Aku mengucapkan selamat malam pada foto yang aku curi tadi, gaya cueknya yang selalu membuat aku jatuh cinta. Aku mengirimkan pesan terakhir hari ini "Gnite, Thanks dan semangat ya" yang kemudia hanya dibalas "Iya. Sama-sama. Thanks juga Khael :)". Lalu kembali seperti tak saling mengenal, kembali ke dunia Mikhaela dan dunia Benedict. Mikhaela yang cerewet dan Benedict yang pendiam. Tidak ada chat, tidak ada sapaan istimewa. Semuanya serba biasa, seperti biasanya.

Rabu, 14 Januari 2015

Kamu

Nggak tau kenapa akhir-akhir ini kamu jadi orang yang sering muncul dalam pikiranku. Aku sedang tidak ingin memikirkanmu, tapi kamu muncul dengan brutalnya. Kamu mengobrak-abrik isi otakku, membajak hatiku, bikin aku nggak karuan. Nggak tau kenapa juga, aku jadi sering membuka kenangan masalalu kita. Apa yang pernah kita lakukan, apa yang pernah kamu katakan dan apa yang pernah jadi hal menyenangkan yang aku dapat darimu.

Melihat kamu yang sekarang, aku tiba-tiba teringat kata tantemu "paling susah ngerubah gaya dia", aku tertawa, karena gayamu memang sulit diubah. Dulu kamu memang nggak pernah bisa lepas dari jas hitam itu. Sekarang? Kamu berubah! Cardigan biru, sweater merah, kemeja kotak-kotak, kamu terlihat lebih menyenangkan dipandang, apalagi dengan Jaket Baseball hitam itu.

Aku sedang berusaha keras melupakanmu, namun akhir-akhir ini usahaku terlihat nggak membuahkan hasil. Semakin aku mencoba untuk melupakanmu, kamu semakin muncul. Bahkan ketika doa semalaman jumat kemarin, wajahmu muncul saat aku memejamkan mata. Aku mengusirmu jauh-jauh dari otakku, namun wajah dinginmu muncul terus dan terus, lagi dan lagi.

Aku membiarkan saja kamu masuk ke dalam pikiranku, disaat aku sedang menyembah namaNya, kamu menari-nari indah dalam gelapnya pikiranku. Aku menikmati setiap desiran darahku yang rasanya menusuk-nusuk jantungku, aku menikmati rasa sakitnya, perihnya yang rasanya lucu.

Aku melihat wajah lelahmu kemarin, tatapanmu membuat aku merasa kalau kamu "tidak suka" denganku. Kamu terlihat begitu malas berada dekat-dekat denganku. Aku benci tatapan itu, aku benci segala ekspresimu yang sulit aku tebak. Kamu benar tidak menyukaiku? Kamu benar tak ingin aku berada dekat-dekat denganmu? Aku tak mengerti, aku tak bisa membaca ekspresimu itu.

Aku sadar aku nggak pantas denganmu. Kamu nggak akan mungkin suka dengan wanita jadi-jadian sepertiku. Kamu nggak akan mungkin suka wanita super alay sepertiku. Aku juga sadar kamu nggak akan menyukai wanita yang tak pernah rapih dan selalu bersikap layaknya anak kecil. Tapi aku tak bisa berubah, aku hanya berusaha jadi natural, jadi diriku sendiri.

Tenang, aku sedang dalam 'proses' melupakanmu kok. Wanita diluaran sana memang lebih pantas menggenggam tanganmu, mendapat 'rasa' yang benar-benar tulus darimu. Bukan yang hanya sebagai tempat persinggahan, mainan, teman chat dikala sepi atau apalah istilahnya.

Aku sadar aku yang paling bersalah dalam kisah ini. Aku tau kalau aku nggak melakukan itu, kamu mungkin nggak akan pergi. Eh, tidak! Aku lakukan atau nggak, kamu pasti pergi, karena kamu memang tak pernah punya 'rasa' untukku.


Terima kasih telah menjadi orang yang aku kagumi hampir sewindu. Beberapa kali pria keluar masuk hidupku, kamu tetap jadi orang yang terus-terusan aku kagumi. Tenang, aku sedang dalam 'proses' melupakanmu kok. Kamu nggak usah khawatir kalau aku akan mengganggu hidupmu. Aku hanya akan terus jadi secret admirermu, mengaggumimu dari jauh.

Tidak apa, mengaggumimu dari jauh punya rasanya sendiri, dan aku suka rasa sakitnya. Rasanya lucu, aneh, menyebalkan dan menyesakkan dada.

Senin, 17 November 2014

Selamat Ulang Tahun, Bye!

Dua tahun sudah berlalu. Dua tahun berakhirnya hubungan kita dimasa lalu. Aku hanya tiba-tiba terkenang masa itu. Bukan karena belum bisa melupakanmu, hanya, entahlah, terkenang saja begitu.

Teringat dengan jelas beberapa minggu sebelum hubungan kita berakhir. Hubungan kita sudah payah. Kamu tak pernah mencoba membalas pesanku. Kamu tak pernah mau mengangkat teleponku. Kamu yang selalu lari dari komentar di social media, kamu menghindari aku.

Dengan rasa yang disebut cinta yang masih tersisa, aku membuka laptop dan mencari foto kita. Dengan deraian air mata, aku menggabungkan beberapa foto kita. Aku bicara “yang, aku kangen” pada gambar dirimu yang kala itu menghiasi wallpaper laptopku. Aku kembali mengambil handphoneku, menghubungimu, namun sia-sia saja karena kamu tak mau mengangkat teleponku.

Aku pergi ke sebuah toko, lalu memberikan foto kita yang kemudian ditempelkan ke gelas. Itu adalah hadiah ulang tahun dariku untukmu. Dengan menahan air mata saat melihat kemesraan kita di gelas tersebut, aku membungkusnya.

Aku mengucapkan “selamat ulang tahun” untukmu sabtu pagi. Aku melihat di social media, sudah banyak foto-foto tentang ulang tahunmu. Kamu terlihat sangat ceria, bahagia. Aku menjerit dalam batinku “kamu senang ya banyak yang ngerayain ulang tahun kamu dan kamu senang karena nggak ada aku”. Aku kembali membuka laptopku, memutar video kacangan yang aku buat untuk kado ulang tahunmu. Tapi aku simpan saja karena aku tak yakin kau mau menyimpannya.

Minggu sorenya, aku meletakan kado yang sudah dibungkus itu diatas mimbar. “selamat ulang tahun ya yang” ucapku tanpa menatap mata indahmu. Aku berlalu, menundukan kepalaku, menahan air mataku. Tak lama kau mengirimkan pesan padaku “kamu mau ketemu aku nggak? Kalau mau turun, kalau nggak aku pulang”. Aku turun, karena aku rindu kamu.

Setelah bicara denganmu, kamupun pulang. Masih ada “yang, aku sudah sampai” kala itu. Tak lama kemudian, akhirnya kamu memutuskan kita. Dengan alasan bertele-telemu yang berputar-putar. Dengan alasan yang membuat kamu merasa tak kuat bersama aku karena kesalahanku, memang aku bukan wanita sempurna, bukan.

Bukannya aku tak tau bahwa diluar sana kau telah memiliki wanita baru. Muridmu, anak didikmu kala itu. Aku hanya sengaja menutup mataku karena sejujurnya aku tak ingin kita berakhir. Aku ingin kita tetap bersama walau kamu terasa sangat amat dingin. Pada kenyataannya aku seperti berdiri di tengah rel kereta, menunggu kereta menabrakku. Aku hanya menunggumu mengakhiri semuanya dan ketika semuanya berakhir, aku mati.


Selamat ulang tahun (mantan) yang terkasih. Selamat menikmati duniamu. Aku sudah move-on kok, hanya sedikit terkenang saja. Bye!

Selasa, 04 November 2014

Mungkin Kebetulan!

Gue tau kita baru kenal, tapi nggak tau kenapa gue ngerasa kita punya banyak kesamaan.

Manusia ini datang dari kota asalnya, merantau ke “Kota Seribu Pabrik”. Dia cantik saat pertama kali gue ngeliat dia. Dia diam dan selalu sibuk dengan gadgetnya. Awalnya gue kenalan sok manja unyu-unyu alay sama dia tapi kok sekarang gue nyesel kenalan sok manja unyu-unyu alay soalnya ternyata dia mahluk tersomplak sedunia.

Gue emang bukan manusia dalam jajaran 'temen deket' dia, gue nggak ngabisin banyak waktu buat belanja gaul dan kuliner wara-wiri sama dia. Gue hanya menghabiskan sedikit waktu untuk ngobrol dan bercerita sesuatu yang nggak penting.

Gue bukan manusia yang pandai basa-basi, begitu juga dia. Dia lebih suka sendirian karena dia ngerasa nggak perlu nyari topik obrolan supaya suasana nggak garing, gue kadang juga begitu. Imajinasi dia tinggi, sama. Dan kita lebih banyak temenan sama pria dari pada wanita.

Gue pernah pacaran sama anak pendeta yang somplak, dia juga. Dia pernah menjalin kasih dengan pria yang berbeda, gue juga. Dan si pria berbeda itu sama-sama pengangkat dari masa lalu kami, unik kan? Kami juga pernah ditaksir pria aneh yang sama. Bukan kebetulan.

Dan kami, mengagumi pria yang sama. Pria yang sama. Orang yang sama, satu tubuh, satu jiwa. Tapi pria itu lebih menyukainya dibanding gue. Entah kenapa, selera kita yang payah atau pria itu memang punya pesona. Tapi sekarang, pria itu mulai dilepaskan. Perbedaanya, dia yang menghindari pria itu sedangkan gue, pria itu yang mengindari gue. Ya, kalian bisa tau kan apa maksudnya. Yang lebih unik waktu kemarin gue ngobrol sama dia. Dia mengeluarkan sebutan “si cowok kurus” dan entah kebetulan atau nggak tapi gue pernah nyebut pria itu dengan sebutan “skinny boy”


Yeah, walaupun nggak deket-deket amat. Tapi dengan sedikit ngobrol sama dia, gue bisa rasa gue sama dia ada persamaan. Gue ngerasa kayak bercermin aja, ada ternyata orang yang beberapa sikapnya mirip dengan gue. Dunia ini lucu, kehidupan ini seru, gue makin penasaran sama apa yang bakal terjadi. Apa gue bakal nemu lagi orang yang sikapnya sama dengan gue? Have a sit and watch! Have a nice movie!~

Rabu, 10 September 2014

Another Little Sweet Momment

Hari ini gue janjian sama temen gue buat hunting foto di perkampungan yang nggak terlalu jauh dari kontrakan gue. Gue dianterin sama Merry sampai ke persimpangan ke arah kampung itu. Merry cuma nganterin doang abis itu dia langsung pergi ke kampus, ada urusan.

Merry adalah temen sekontrakan gue. Sebenernya namanya Maria, cuma gue lebih suka panggil dia Merry. Dia juga gitu, lebih suka manggil gue Mikhy padahal yang lain panggil gue Khael. Merry juga temen sekampus gue tapi beda jurusan. Gue temenan sama Merry dari TK, percaya nggak? Merry sekarang udah lumayan cerewet, nggak sependiem dulu, tapi sifat manjanya yang khas itu nggak berubah dari dulu.
“Sampai sini aja ya Mik, lo tinggal masuk aja ke gang itu, ikutin jalan aja terus, lo pasti bakal nemu sawah-sawah sama sungai dangkal yang keren. Happy hunting ya Mikhy!”
“Thanks ya Mer, lo hati-hati ya!”
“Iya. Eh by the way lo pulangnya gimana?”
“Nanti gue nebeng Devi aja pasti dia bawa motor”
“Oh, oke deh. Have fun ya! Bye”
“Bye Mer, take care!” Gue melambaikan tangan.

Gue masuk ke gang perkampungan itu. Ada pondok kecil yang terbuat dari bilik dan atapnya dari daun-daun gitu. Disitu ada ibu-ibu yang ngejagain pondok yang ternyata adalah warung kecil.
“Permisi bu” ucap gue sambil menundukan kepala tanda hormat
“Oh, iya neng” Kata si Ibu sambil melebarkan senyuman ikhlasnya, gue melanjutkan perjalanan.
Nggak jauh dari situ ada sebuah pos ronda yang disampingnya ada rumah yang terbuat dari triplek. Semua sisinya dipenuhi coretan grafiti yang sama sekali nggak rapih dan nggak nyeni. Ada dua bapak-bapak yang lagi ngopi sambil main catur.
“Permisi pak” ucap gue lagi seramah mungkin pada bapak-bapak itu.
“Mangga neng” (Mangga : Silahkan) jawab bapak-bapak itu sambil senyum ramah. Lalu gue melanjutkan perjalanan.

Nggak kerasa gue jalan udah lumayan jauh. Dan udah nemu sungai dangkal yang tadi Merry bilang. Asli, keren banget. Ada pohon besar dan ada bangku yang terbuat dari kayu. Gue duduk disitu lalu ngeluarin air minum dari tas yang sengaja gue bawa. Untung nggak terlalu panas karena emang udah sore juga. Gue duduk dan mencari handphone di tas gue, dan ternyata handphone gue ketinggalan. Gue lupa nyabut handphone dari chargerannya tadi. Astaga! Gimana caranya Devi tau posisi gue. Gue tetap duduk disitu sambil maki-maki diri gue sendiri. “Tolol!, Pelupa!”. Gue berdoa dalam hati supaya Devi tau gue ada disini sambil ngambil beberapa gambar sungai dan sawah yang asli, keren banget.
“Neng, ikut abang yuk” Tiba-tiba ada suara pria dari belakang gue dan gue kaget karena mukanya absurd dan rambutnya berantakan banget. Gue rasa dia itu orang gila deh. Dia duduk dibangku itu terus gue lari menjauhi dia.
“Awas lu ya kalau lewat sini, gue bunuh lu!” Kata dia sambil negluarin golok yang udah karatan. Asli gue takut banget.

Langit mulai berubah warna jadi jingga, tanda sebentar lagi matahari bakalan pindah ke belahan bumi bagian lain dan gue masih belum beranjak dari tempat gue berdiri menjauhi orang gila itu. Gue melangkah mendekati arah tadi dan orang gila itu masih disana. Dia ngeliat gue dan dia nimpukin gue pakai kerikil yang sukses kena jidat gue lalu meneteskan darah.
“Kampret!” umpat gue ngeliat darah yang menetes dan menimbulkan efek pusing.
“Dasar orang gila! Devi mana sih” Kata gue lagi, ngedumel sendiri dan nggak sadar netesin air mata karena takut + capek + pusing yang numpuk semua.

Jam di pergelangan tangan gue menunjukan 5:45. udah hampir dua jam gue disini dan nggak bisa pulang karena ada orang gila itu. Dan selama 105 menit gue disini nggak ada satupun penduduk asli yang lewat. Gue memutuskan untuk jalan ke arah yang lebih jauh dari orang gila itu, siapa tau gue menemukan jalan ke rumah salah satu penduduk. And thanks God banget gue ngedenger ada suara motor yang jalan ke arah gue, motor yang kayaknya gue kenal. Dan dia pun berhenti lalu buka kaca helmnya.
“Khael” kata dia pakai muka bingung
“Benedict? Ya Tuhan, aku seneng banget ketemu kamu” kata gue sambil meluk dia karena kesenengan
“Kamu ngapain kok bisa sampai ada disini?” kata Ben yang ternyata ngelus kepala gue.
“Aku nyasar” Kata gue mengakui malu-malu sambil ngelepasin pelukan gue.
“Nyasar? Kamu dari mana emang? Bahaya loh kamu jam segini ada disini”
“Iya, aku aja takut dari tadi. Aku dari kontrakan”
“Kalau kamu nyasar kenapa nggak minta jemput?”
“Aku nggak bawa handphone
“Sumpah ya kamu bodoh! Padahal dari sini kamu tinggal ikutin jalan, nanti belok kiri terus ketemu persimpangan tinggal naik ojek atau angkot bisa sampai kontrakan”
“Iya aku tau, tapi di dekat sungai sana ada orang gila. Dia ancem mau bunuh aku kalau lewat situ lagi”
“Hahaha. Orang gila? Serius kamu?”
“Serius, nih liat jidat aku berdarah gara-gara ditimpuk pakai kerikil sama orang gila itu”
“Hahaha. Orang gila ketemu orang bodoh. Ayo naik” kata Ben sambil terus ketawa dan gue naik ke motornya dengan pasrah.

“Kamu mau kemana emang Ben?”
“Aku mau ngiringin temen aku nyanyi”
“Dimana?”
“Di Melodic Mall, aku nggak bisa anter kamu sampai kontrakan loh. Aku harus udah ada disana jam setengah 7. Atau kamu mau ikut aku aja? Ada Raisa loh”
“Raisa? Aku ikut kamu”
“Tapi janji nggak akan ganggu aku ya?”
“Iya, fotoin kamu aja boleh ya?”
“Boleh kok. Pakai nih” Kata Ben memberikan helm warna pink ke gue.
“Kamu bawa helm pink?”
“Iya, tadi aku disuruh jemput Kezia tapi dia udah dijemput Papa. Kamu pakai aja”
“Ini kebetulan atau gimana ya?” Kata gue bingung
“Nggak ngerti, rencana Tuhan kali. Nggak tau kenapa juga tadi aku tiba-tiba pengen banget lewat sini” Kata Ben lalu menutup kaca helmnya. Ben mengendari motornya dengan cepat tapi hati-hati.

“Kita sampai” Kata Ben, lalu narik tangan gue ke salah satu ruangan.
“Hi Ben!” Kata perempuan cantik itu yang gue tebak adalah Vanny yang bakal diiringin sama Ben.
“Hi Van, gue belom telat kan yah?” Kata Ben duduk di kursi disebelah Vanny yang sedang dimake-up.
“Belom kok” Kata Vanny tanpa menoleh ke arah Ben.
“Van, kenalin itu Mikhaela, panggil aja Khael” Kata Ben yang kemudian membersihkan wajahnya
“Hi Vanny” sapa gue pada Vanny yang masih make-up
“Hi, Khael salam kenal ya” Sapanya dari kaca
“Dia gue bawa kesini nggak apa-apa kan, Van? Dia tuh korban kekerasan orang gila”
“Astaga” Kali ini Vanny nengok ke arah gue
“Jidat lo berdarah ya?” Kata Vanny ke gue
“Iya, ditimpuk orang gila”
“Ya ampun, ada-ada aja. Boy, tolong lukanya si Khael ditutupin ya. Biar gue nyisir rambut sendiri aja”
“Nggak apa-apa kok, cuma luka kecil aja” Kata gue berusaha ngelak
“Luka kecil harus ditutupin juga kali Khael, lo kan mau nonton konser gue” Kata Vanny sambil tertawa meledek gue. Akhirnya luka gue diplester sama si Boy-asisten Vanny yang kayak banci itu.

Vanny dan Ben keliatan serasi banget. Selalu kompak diatas panggung. Mereka berdua menjadi penampil diawal dan diakhir acara. Raisa, Tangga dan HiVi! adalah bintang tamu spesial pada acara HUT Melodic Mall yang ke-10. acaranya meriah banget, diadakan di Hall Tengah Mall tersebut. Dengan HTM 50ribu. Gue nonton gratis plus bisa foto sama semua bintang tamu. How lucky I am.
“Van, gue cabs ya!” Kata Ben mengambil tasnya di sofa putih di ruang make-up
“Oke, Ben, thanks ya. Lo main keren hari ini”
“Lo juga. Bye”
“Bye Ben, Bye Khael”
“Bye Vanny, makasih ya buat plester dan foto barengnya”
“Sama-sama, hati-hati ya Khael, Ben” Lalu gue melangkahkan kaki keluar dari ruang make-up tersebut

“Kamu laper?” Tanya Ben saat berjalan menjauhi ruang make-up
“Banget!”
“Sejak kapan?”
“Sejak dikejar orang gila tadi sore”
“Dasar bodoh! Kenapa nggak bilang? Kan aku bisa beliin kamu makanan kecil”
“Kan kamu bilang aku nggak boleh gangguin kamu”
“Bodoh!” Ben narik gue ke salah satu tempat makan.
“Kamu suka bakso kan?” kata Ben lalu memesan tanpa nanya gue mau makan apa. Gue dan Ben makan pesenannya Ben. Enak banget! Nggak salah si Ben pesen makanannya.

Setelah selesai makan gue dan Ben keluar dari Melodic Mall, dia ngajak gue ke Taman Kota yang lagi ngadain pesta kembang api yang keren banget. Gue duduk di rerumputan sambil makan bakpao coklat yang dibeliin Ben tanpa nanya dulu.
“Keren ya” Kata Ben yang memecahkan kesunyian diantara gue dan Ben lalu melepaskan sweaternya.
“Iya keren banget” Kata gue menyandarkan kepala di bahu Ben. Ben ngasih sweaternya buat gue pake tanpa bicara lalu ngelus kepala gue dan nggak sadar gue ketiduran sejenak.
Saat gue membuka mata gue liat jam di pergelangan tangan gue menunjukan 10:00 p.m. Udah malam ternyata, walaupun belum terlalu malam untuk anak-anak Kota. Ben cuma sibuk sama gadgetnya dan menyadari gue bangun.
“Pulang yuk” Kata Ben ke gue lalu masukin gadget kesayangannya itu ke tas.
“Yuk. Nih, sweater kamu”
“Pake aja dulu sampai kontrakan kamu” lalu Ben melangkahkan kaki duluan ke parkiran motor dan Taman Kota pun berlalu.

“Kamu nggak mau mampir dulu? Kayaknya sih ada Andre, ada motornya tuh” Tanya gue ke Ben yang kayaknya kedinginan karena emang cuaca lagi dingin banget.
“Nggak deh, udah malam juga”
“Yakin? Nggak mau minum coklat panas dulu?” Tanya gue sambil ngembaliin sweaternya. Ben cuma senyum sambil gelengin kepala.
“Aku pulang ya, takut dicariin mama” Kata Ben dengan nada sok manja sambil ngelus kepala gue.
“Yaudah. Salam ya buat mama. And thanks udah nganterin aku”
“Gitu doang?”
“Lah, terus?” Tanya gue bingung, Ben cuma senyum terus ketawa sedikit.
“Cepet sembuh ya” Kata Ben yang narik kepala gue lalu cium jidat gue yang diplaster. Gue bingung, gatau harus apa, seneng campur deg-degan.
“Aku pulang ya” Kata Ben yang mau pakai helmnya
“Ben”
“Ya”
“Thanks” kata gue nyium pipinya, malu-malu, Ben senyum lalu gue melambaikan tangan. Ben pun berlalu.

“Mikhy” Jerit Merry dari ruang tengah kontrakan gue yang lumayan beasar ini.
“Lo dari mana? Pulang sama siapa? Lo baik-baik aja kan? Jidat lo kenapa?”
“Sssst! Merry berisik ih. Gue baik-baik aja kok”
“Lo kemana aja? Kenapa handphone nggak dibawa? Devi tadi kesini dan gue kaget dia nggak sama lo. Gue sama Andre nyari ke perkampungan itu, lo nggak ada tapi gue nemu botol air lo ini. Gue khawatir banget Mikhy” kata Merry dengan gaya manjanya yang khas, terus meluk gue.
“Lo dianterin ya Khel? Apa naik ojek? Kayak ada suara motor berhenti tadi” Tanya Andre ke gue
“Iya gue dianterin sama Benedict”
“Ha? Ben? Dia nganterin lo? Terus dia mana?” Tanya Andre dengan wajah bingung campur lega karena gue pulang dengan selamat.
“Pulang, takut dicariin nyokap. Udah ya gue mau cuci muka dan tidur, bye” Kata gue lalu meninggalkan Merry dan Andre di ruang tengah.

Gue ambil handphone gue yang udah penuh sama notification dan juga missed call dari Devi, Andre dan Merry. Lalu gue nge-chat Ben.
“Ben”
“Ha?”
“Udah sampai kah?”
“Udah kok”
“Sekali lagi thanks ya Ben udah jadi Guardian Angel aku”
“Sama-sama Khael. Jangan bodoh lagi ya”
“Menurut kamu aku harus berubah?”
“Berubah aja sedikit. Jangan terlalu sering bodohnya. Bodohnya pas aku bisa nolongin kamu aja dari situasi yang kamu ciptakan atas kebodohan kamu. Ngerti kan?”
“Ngerti kok. Makasih ya orang pinter”
“Sama-sama. Kan nggak akan ada orang pinter tanpa adanya orang bodoh :) Gnite Mikhaela”
Gnite Benedict”

Chat berakhir dan berakhirlah kedekatan gue dan Benedict. Kembali seperti tak saling mengenal, kembali ke dunia Mikhaela dan dunia Benedict. Mikhaela yang cerewet dan Benedict yang pendiam. Tidak ada chat, tidak ada sapaan istimewa. Semuanya serba biasa, seperti biasanya.

Rabu, 04 Juni 2014

Selamat Ulang Tahun

Banyak kata-kata yang tak mampu kurangkai.
Mereka hanya berputar manis diotakku.
Tak mengerti maksudnya, merusak otak saja!

Dalam sepi aku terdiam, diam dalam sepi itu mudah.
Bagaimana caranya diam dikeramaian?

Orang-orang disekitarku tersenyum, aku juga.
Tersenyum dengan palsu, menggelikan.

Kutatap layar gadget, mengharap apa?
Apakah layar gadget mampu memberi ketenangan?

Teman-teman tertawa, aku juga.
Tawa kepalsuan, miris.

Baik, aku akan diam saja disini dengan bodoh.
Sambil menekan tombol lock-unlock digadget.
Mengharapkan sesuatu, mungkin tidak?
Lalu haripun berakhir dengan dua kata “tidak mungkin”.

Aku duduk diam lagi, berusaha meneteskan air dari mata.
Supaya wajahku terasa segar karena air, alasan.
Sayangnya air itu tak keluar, sudah tak mampu sepertinya.

Hanya seperti sesak yang tak mampu dihindari.
Kadang terasa kosong, sesekali hampa.

Kamis, 29 Mei 2014

Indigo needs Indigo. Part I

Mungkin kalian akan bingung dengan ini. Kalian boleh bilang kasihan sama hidup gue yang absurd ini. Ini bukan cerita komedi ataupun horor, cuma kisah klasik, lagu lama, kaset kusut, roman picisan tentang anak muda, keluarga, cinta dan segala macam keanehannya.

Nama gue Velerie. Gue ceritain sedikit tentang fisik gue. Mata gue bulat tapi berukuran agak kecil, alis tebal, wajah oval, dagu panjang, hidung macung, rambut lurus panjang, badan tinggi dan ramping, kulit putih khas Asia, Secara fisik, gue cantik. Secara bokap gue turunan Jepang-Holand dan nyokap Inggris-Bali. Keluarga gue broken abis. Bokap gue tinggal di Amsterdam, Nyokap gue di London, Kakak laki-laki gue di Tokyo, Kakak perempuan gue di Jakarta dan gue tinggal di Bali sama tante gue tercinta.
Tante gue ini keturunan Bali-Inggris, gara-gara Nini (panggilan untuk Nenek dalam Bahasa Bali) menikah sama Bule yang mampir ke Bali, jadilah dia Grandpa (Panggilan untuk Kakek dalam bahasa Inggris, singkatan dari Grand Father) gue. Gue dipanggil Veli sama tante gue yang nggak bisa mengucapkan huruf R, dan dia gue panggil Aunty, so simple.

Ya udah, lupain aja soal keluarga gue. Gue seorang Indigo. Kaget? Biasa aja. Gue cuma anak biasa dengan kecerdasan tinggi, mampu melihat mahluk halus dan melihat masa depan. Di usia gue yang ke 14 tahun gue sudah lulus dari salah satu Sekolah Menengah Atas dengan nilai nyaris sempurna. Yang indigo bukan cuma gue. Tapi Aunty juga. Keturunan dari Nini katanya sih. Tapi yang gue bingungkan adalah kenapa gue yang Indigo? Kan seharusnya yang Indigo itu anaknya Aunty, secara Aunty juga Indigo. Tapi memang harus begitu kata Aunty. Suatu hari nanti juga kalau gue punya anak, kemungkinan besar anak gue nggak akan Indigo. Kalaupun iya, nggak akan sesempurna gue dan Aunty. Paling cuma Gifted (memiliki kecerdasan tinggi) atau Cenayang (mampu melihat masa depan dan mahluk halus), sedangkan gue dan Aunty adalah Talented (Memiliki kecerdasan tinggi, mampu melihat masa depan dan mahluk halus). Begitu sih menurut teori dari Aunty.

Hari ini adalah hari pertama gue jadi Mahasiswi. Gue pindah ke Jakarta sama Aunty. Oh iya, Aunty gue belum menikah, usianya sih udah 30 tahun dan sudah mapan. Pernah suatu hari gue bincang-bincang sama Aunty.
“Aunt, kenapa sih belum nikah?” Tanya gue ke Aunty yang lagi asik sama Laptopnya
“Belum nemu sayang” Katanya sambil tetap natap layarnya.
“Belum nemu gimana? Kemarin udah ada Uncle Randy yang mau sama Aunty” Kata gue lagi, kepo.
“Bukan dia yang Aunty cari” ucapnya lagi, santai.
“Terus yang Aunty cari yang kayak gimana emang? Ucle Randy, almost perfect” Kata gue ngedeketin Aunty, akhirnya Aunty meletakan laptopnya di meja. Lalu mengambil bantal sofa.
“Kamu tau dari mana Uncle Randy almost perfect?”
“Dari cara dia memperlakukan Aunty”
“Memang Randy sangat baik. Tapi bukan yang terbaik untuk Indigo seperti kita”
“Maksud Aunty?”
“Sini, Aunty ceritain sesuatu. Dulu, Aunty benci banget jadi Indigo. Semua anak Indigo pasti ngalamin ini. Dianggap aneh, sok dan sebagainya. Sama seperti kamu kan” Kata Aunty lalu menghela nafas sebentar.
“Iya, jadi Indigo emang nggak enak. Gak punya temen” kata gue, seolah bicara sama diri gue sendiri. Di Bali, hanya ada 2 orang yang benar-benar mau jadi temen gue. Lea (perempuan, keturunan Bali-Amerika) dan Keenan (laki-laki, keturunan Bali-Belanda). Tapi merekapun sekarang jarang main sama gue karena mereka masih sekolah dan gue sudah lulus.
“Dulu Nini pernah bilang sama Aunty, kalau Aunty bakalan ketemu sama jodoh Aunty di usia 17 tahun. Dan pria itu haruslah pria yang tidak bisa kita (Indigo) baca” kata Aunty meletakan bantal sofa lalu meneguk teh yang tadi gue bikinin.
“Maksudnya?” Tanya gue nggak ngerti
“Kata Nini, saat usia kita mencapai 17tahun, kemampuan kita akan bertambah satu, yaitu membaca pikiran orang lain. Jadi kita bisa tau apa yang ada di pikiran orang-orang tentang kita atau tentang orang lain” kata Aunty lagi lalu ngelap kaca matanya pakai tisu yang ada di meja.
“Dulu” lanjutnya “Aunty waktu mulai bisa baca pikiran orang, Aunty baca semua pikiran teman-teman Aunty dan Aunty benci ada dikelas itu karena semua orang memandang aneh Aunty. Sampai suatu hari ada anak baru bernama Hendri yang pikirannya nggak bisa Aunty baca, gerak-geriknya nggak terdeteksi dan ramalan tentang dia tertutup oleh gorden hitam besar” katanya lalu memakai lagi kaca matanya.
“Terus?”
“Karena Aunty benci Indigo, Aunty buang jauh-jauh pikiran tentang dia. Aunty selalu bilang 'saya bukan Indigo' tapi itu malah bikin Aunty stress dan minta sama Nini buat pindah kampus” katanya lalu menerawang keluar jendela “Seandainya waktu itu Aunty bertahan dikelas itu, dekat dengan Hendri, pastilah sekarang Aunty sudah menikah” Katanya lalu menepuk pundak gue “Nanti, kalau usia kamu sudah 17 tahun dan kamu menemukan pria yang pikirannya tidak bisa kamu baca, yakin itu pasti jodoh kamu” Kata Aunty, gue cuma senyum ngangguk-ngangguk lalu Aunty pergi bawa laptopnya.

Anyway, balik lagi dihari pertama gue jadi mahasiswi. Kakak perempuan gue yang di Jakarta pindah ke Washington, DC. Kayaknya emang keluarga gue itu nggak boleh tinggal disatu kota barengan gitu. Harus satu orang di kota yang berbeda. Gue masuk ke salah satu Universitas kenamaan di Jakarta, gampang buat gue ngelewatin semua tesnya. Hari pertama gue nih. I'm ready to go. Bermodalkan Mobil hitam muatan 4-5 orang yang elegan ini, kiriman dari Kakak Laki-laki gue di Tokyo sebagai hadiah ulang tahun yang ke-15, gue ready ke kampus. Gue nggak ikut ospek dengan jutaan alasan yang dibuat-buat. Aunty juga mendukung aksi nggak-ikut-ospek gue itu dengan cara meminta izin secara alangsung pada pihak kampus. Jakarta, beda banget sama Bali, ya jelaslah! Macet, ribet dan yang jelas, jarang ada pantai! Gue melaju dikecepatan normal. Gue sampai dikampus 30 menit sebelum mata kuliah pertama dimulai. Gue parkir disamping Honda Civic warna putih yang keliatan elegan juga. Gue keluar dari mobil gue dan menuju ruangan kelas. Gue udah memprediksi apa yang bakal terjadi hari ini. Bakalan cuma membosankan. Gue duduk di kursi ala anak kuliahan. Duduk di pojokan kelas yang mepet tembok. Sengaja. Didepan gue ada seorang cewek cantik. Dengan malu-malu dia ngajak gue kenalan.
“Hai. Gue Geny” katanya sambil mengulurkan tangan dia.
“Hai. Gue Velerie, panggil aja Veli” kata gue menjabat tangannya.
“Senang bisa kenalan sama lo Vel, semoga kita bisa jadi teman baik ya Vel”
“Iya. Gue juga berharap kayak gitu” ucap gue.

Gue dan Geny ngomongin banyak hal. Kita punya banyak kesamaan. Selera musik dan film. Gue langsung teringat sama gambar yang tiba-tiba gue gambar kemarin. Gue menggambar seorang wanita muda cantik berambut hitam ala orang Indonesia dan bermata sipit. Sepertinya itu bertanda bahwa Geny akan menjadi sahabat terbaik gue dikampus ini. Mungkin.


Hari-hari di kampus kerasa standar abis. Karena apa yang gue lakukan setiap harinya sudah muncul di mimpi gue. Nasib jadi anak Indigo. Bahkan kuis mendadak yang akan diadakan dosen aja ketebak sama gue. Otomatis setiap ada kuis mendadak, gue selalu dapet A. Geni adalah orang yang paling beruntung karena punya temen Indigo kayak gue. Setiap mau ada ujian mendadak gue selalu bilang sama dia. Jadi ya score dia nggak akan pernah sejelek score anak-anak lain dikelas. Karena ke-Indogoan gue ini, sekali lagi, gue dibenci sama temen-temen sekelas gue. Pertama karena gue selalu dapet nilai bagus. Kedua karena gue sering pasang muka aneh dan suka ngejerit kaget dan ngomong sendiri. Gue kayak gitu karena kadang gue ngeliat ada mahluk kampret dikelas. Dan kadang ada yang ngajakin gue ngobrol. Ajaib banget kan hidup gue?