Hari ini gue janjian sama temen gue
buat hunting foto di perkampungan yang nggak terlalu jauh dari
kontrakan gue. Gue dianterin sama Merry sampai ke persimpangan ke
arah kampung itu. Merry cuma nganterin doang abis itu dia langsung
pergi ke kampus, ada urusan.
Merry adalah temen sekontrakan gue.
Sebenernya namanya Maria, cuma gue lebih suka panggil dia Merry. Dia
juga gitu, lebih suka manggil gue Mikhy padahal yang lain panggil gue
Khael. Merry juga temen sekampus gue tapi beda jurusan. Gue temenan
sama Merry dari TK, percaya nggak? Merry sekarang udah lumayan
cerewet, nggak sependiem dulu, tapi sifat manjanya yang khas itu
nggak berubah dari dulu.
“Sampai sini aja ya Mik, lo tinggal
masuk aja ke gang itu, ikutin jalan aja terus, lo pasti bakal nemu
sawah-sawah sama sungai dangkal yang keren. Happy hunting ya Mikhy!”
“Thanks ya Mer, lo hati-hati ya!”
“Iya. Eh by the way lo pulangnya
gimana?”
“Nanti gue nebeng Devi aja pasti dia
bawa motor”
“Oh, oke deh. Have fun ya! Bye”
“Bye Mer, take care!” Gue
melambaikan tangan.
Gue masuk ke gang perkampungan itu. Ada
pondok kecil yang terbuat dari bilik dan atapnya dari daun-daun gitu.
Disitu ada ibu-ibu yang ngejagain pondok yang ternyata adalah warung
kecil.
“Permisi bu” ucap gue sambil
menundukan kepala tanda hormat
“Oh, iya neng” Kata si Ibu sambil
melebarkan senyuman ikhlasnya, gue melanjutkan perjalanan.
Nggak jauh dari situ ada sebuah pos
ronda yang disampingnya ada rumah yang terbuat dari triplek. Semua
sisinya dipenuhi coretan grafiti yang sama sekali nggak rapih dan
nggak nyeni. Ada dua bapak-bapak yang lagi ngopi sambil main
catur.
“Permisi pak” ucap gue lagi seramah
mungkin pada bapak-bapak itu.
“Mangga neng” (Mangga : Silahkan)
jawab bapak-bapak itu sambil senyum ramah. Lalu gue melanjutkan
perjalanan.
Nggak kerasa gue jalan udah lumayan
jauh. Dan udah nemu sungai dangkal yang tadi Merry bilang. Asli,
keren banget. Ada pohon besar dan ada bangku yang terbuat dari kayu.
Gue duduk disitu lalu ngeluarin air minum dari tas yang sengaja gue
bawa. Untung nggak terlalu panas karena emang udah sore juga. Gue
duduk dan mencari handphone di tas gue, dan ternyata handphone
gue ketinggalan. Gue lupa nyabut handphone dari chargerannya
tadi. Astaga! Gimana caranya Devi tau posisi gue. Gue tetap duduk
disitu sambil maki-maki diri gue sendiri. “Tolol!, Pelupa!”. Gue
berdoa dalam hati supaya Devi tau gue ada disini sambil ngambil
beberapa gambar sungai dan sawah yang asli, keren banget.
“Neng, ikut abang yuk” Tiba-tiba
ada suara pria dari belakang gue dan gue kaget karena mukanya absurd
dan rambutnya berantakan banget. Gue rasa dia itu orang gila deh. Dia
duduk dibangku itu terus gue lari menjauhi dia.
“Awas lu ya kalau lewat sini, gue
bunuh lu!” Kata dia sambil negluarin golok yang udah karatan. Asli
gue takut banget.
Langit mulai berubah warna jadi jingga,
tanda sebentar lagi matahari bakalan pindah ke belahan bumi bagian
lain dan gue masih belum beranjak dari tempat gue berdiri menjauhi
orang gila itu. Gue melangkah mendekati arah tadi dan orang gila itu
masih disana. Dia ngeliat gue dan dia nimpukin gue pakai kerikil yang
sukses kena jidat gue lalu meneteskan darah.
“Kampret!” umpat gue ngeliat darah
yang menetes dan menimbulkan efek pusing.
“Dasar orang gila! Devi mana sih”
Kata gue lagi, ngedumel sendiri dan nggak sadar netesin air
mata karena takut + capek + pusing yang numpuk semua.
Jam di pergelangan tangan gue
menunjukan 5:45. udah hampir dua jam gue disini dan nggak bisa pulang
karena ada orang gila itu. Dan selama 105 menit gue disini nggak ada
satupun penduduk asli yang lewat. Gue memutuskan untuk jalan ke arah
yang lebih jauh dari orang gila itu, siapa tau gue menemukan jalan ke
rumah salah satu penduduk. And thanks God banget gue ngedenger
ada suara motor yang jalan ke arah gue, motor yang kayaknya gue
kenal. Dan dia pun berhenti lalu buka kaca helmnya.
“Khael” kata dia pakai muka bingung
“Benedict? Ya Tuhan, aku seneng
banget ketemu kamu” kata gue sambil meluk dia karena kesenengan
“Kamu ngapain kok bisa sampai ada
disini?” kata Ben yang ternyata ngelus kepala gue.
“Aku nyasar” Kata gue mengakui
malu-malu sambil ngelepasin pelukan gue.
“Nyasar? Kamu dari mana emang? Bahaya
loh kamu jam segini ada disini”
“Iya, aku aja takut dari tadi. Aku
dari kontrakan”
“Kalau kamu nyasar kenapa nggak minta
jemput?”
“Aku nggak bawa handphone”
“Sumpah ya kamu bodoh! Padahal dari
sini kamu tinggal ikutin jalan, nanti belok kiri terus ketemu
persimpangan tinggal naik ojek atau angkot bisa sampai kontrakan”
“Iya aku tau, tapi di dekat sungai
sana ada orang gila. Dia ancem mau bunuh aku kalau lewat situ lagi”
“Hahaha. Orang gila? Serius kamu?”
“Serius, nih liat jidat aku berdarah
gara-gara ditimpuk pakai kerikil sama orang gila itu”
“Hahaha. Orang gila ketemu orang
bodoh. Ayo naik” kata Ben sambil terus ketawa dan gue naik ke
motornya dengan pasrah.
“Kamu mau kemana emang Ben?”
“Aku mau ngiringin temen aku nyanyi”
“Aku mau ngiringin temen aku nyanyi”
“Dimana?”
“Di Melodic Mall, aku nggak bisa
anter kamu sampai kontrakan loh. Aku harus udah ada disana jam
setengah 7. Atau kamu mau ikut aku aja? Ada Raisa loh”
“Raisa? Aku ikut kamu”
“Tapi janji nggak akan ganggu aku
ya?”
“Iya, fotoin kamu aja boleh ya?”
“Boleh kok. Pakai nih” Kata Ben
memberikan helm warna pink ke gue.
“Kamu bawa helm pink?”
“Iya, tadi aku disuruh jemput Kezia
tapi dia udah dijemput Papa. Kamu pakai aja”
“Ini kebetulan atau gimana ya?”
Kata gue bingung
“Nggak ngerti, rencana Tuhan kali.
Nggak tau kenapa juga tadi aku tiba-tiba pengen banget lewat sini”
Kata Ben lalu menutup kaca helmnya. Ben mengendari motornya dengan
cepat tapi hati-hati.
“Kita sampai” Kata Ben, lalu narik
tangan gue ke salah satu ruangan.
“Hi Ben!” Kata perempuan cantik itu
yang gue tebak adalah Vanny yang bakal diiringin sama Ben.
“Hi Van, gue belom telat kan yah?”
Kata Ben duduk di kursi disebelah Vanny yang sedang dimake-up.
“Belom kok” Kata Vanny tanpa
menoleh ke arah Ben.
“Van, kenalin itu Mikhaela, panggil
aja Khael” Kata Ben yang kemudian membersihkan wajahnya
“Hi Vanny” sapa gue pada Vanny yang
masih make-up
“Hi, Khael salam kenal ya” Sapanya
dari kaca
“Dia gue bawa kesini nggak apa-apa
kan, Van? Dia tuh korban kekerasan orang gila”
“Astaga” Kali ini Vanny nengok ke
arah gue
“Jidat lo berdarah ya?”
Kata Vanny ke gue
“Iya, ditimpuk orang gila”
“Ya ampun, ada-ada aja.
Boy, tolong lukanya si Khael ditutupin ya. Biar gue nyisir rambut
sendiri aja”
“Nggak apa-apa kok, cuma
luka kecil aja” Kata gue berusaha ngelak
“Luka kecil harus
ditutupin juga kali Khael, lo kan mau nonton konser gue” Kata Vanny
sambil tertawa meledek gue. Akhirnya luka gue diplester sama si
Boy-asisten Vanny yang kayak banci itu.
Vanny dan Ben keliatan
serasi banget. Selalu kompak diatas panggung. Mereka berdua menjadi
penampil diawal dan diakhir acara. Raisa, Tangga dan HiVi! adalah
bintang tamu spesial pada acara HUT Melodic Mall yang ke-10. acaranya
meriah banget, diadakan di Hall Tengah Mall tersebut. Dengan HTM
50ribu. Gue nonton gratis plus bisa foto sama semua bintang tamu. How
lucky I am.
“Van, gue cabs ya!”
Kata Ben mengambil tasnya di sofa putih di ruang make-up
“Oke, Ben, thanks ya. Lo
main keren hari ini”
“Lo juga. Bye”
“Bye Ben, Bye Khael”
“Bye Vanny, makasih ya
buat plester dan foto barengnya”
“Sama-sama, hati-hati ya
Khael, Ben” Lalu gue melangkahkan kaki keluar dari ruang make-up
tersebut
“Kamu laper?” Tanya Ben
saat berjalan menjauhi ruang make-up
“Banget!”
“Sejak kapan?”
“Sejak dikejar orang gila
tadi sore”
“Dasar bodoh! Kenapa nggak
bilang? Kan aku bisa beliin kamu makanan kecil”
“Kan kamu bilang aku nggak
boleh gangguin kamu”
“Bodoh!” Ben narik gue
ke salah satu tempat makan.
“Kamu suka bakso kan?”
kata Ben lalu memesan tanpa nanya gue mau makan apa. Gue dan Ben
makan pesenannya Ben. Enak banget! Nggak salah si Ben pesen
makanannya.
Setelah selesai makan gue
dan Ben keluar dari Melodic Mall, dia ngajak gue ke Taman Kota yang
lagi ngadain pesta kembang api yang keren banget. Gue duduk di
rerumputan sambil makan bakpao coklat yang dibeliin Ben tanpa nanya
dulu.
“Keren ya” Kata Ben yang
memecahkan kesunyian diantara gue dan Ben lalu melepaskan sweaternya.
“Iya keren banget” Kata
gue menyandarkan kepala di bahu Ben. Ben ngasih sweaternya buat gue
pake tanpa bicara lalu ngelus kepala gue dan nggak sadar gue
ketiduran sejenak.
Saat gue membuka mata gue
liat jam di pergelangan tangan gue menunjukan 10:00 p.m. Udah malam
ternyata, walaupun belum terlalu malam untuk anak-anak Kota. Ben cuma
sibuk sama gadgetnya dan menyadari gue bangun.
“Pulang yuk” Kata Ben ke
gue lalu masukin gadget kesayangannya itu ke tas.
“Yuk. Nih, sweater kamu”
“Pake aja dulu sampai
kontrakan kamu” lalu Ben melangkahkan kaki duluan ke parkiran motor
dan Taman Kota pun berlalu.
“Kamu nggak mau mampir
dulu? Kayaknya sih ada Andre, ada motornya tuh” Tanya gue ke Ben
yang kayaknya kedinginan karena emang cuaca lagi dingin banget.
“Nggak deh, udah malam
juga”
“Yakin? Nggak mau minum
coklat panas dulu?” Tanya gue sambil ngembaliin sweaternya. Ben
cuma senyum sambil gelengin kepala.
“Aku pulang ya, takut
dicariin mama” Kata Ben dengan nada sok manja sambil ngelus kepala
gue.
“Yaudah. Salam ya buat
mama. And thanks udah nganterin aku”
“Gitu doang?”
“Lah, terus?” Tanya gue
bingung, Ben cuma senyum terus ketawa sedikit.
“Cepet sembuh ya” Kata
Ben yang narik kepala gue lalu cium jidat gue yang diplaster. Gue
bingung, gatau harus apa, seneng campur deg-degan.
“Aku pulang ya” Kata Ben
yang mau pakai helmnya
“Ben”
“Ya”
“Thanks” kata gue nyium
pipinya, malu-malu, Ben senyum lalu gue melambaikan tangan. Ben pun
berlalu.
“Mikhy” Jerit Merry dari
ruang tengah kontrakan gue yang lumayan beasar ini.
“Lo dari mana? Pulang sama
siapa? Lo baik-baik aja kan? Jidat lo kenapa?”
“Sssst! Merry berisik ih.
Gue baik-baik aja kok”
“Lo kemana aja? Kenapa
handphone nggak dibawa? Devi tadi kesini dan gue kaget dia
nggak sama lo. Gue sama Andre nyari ke perkampungan itu, lo nggak ada
tapi gue nemu botol air lo ini. Gue khawatir banget Mikhy” kata
Merry dengan gaya manjanya yang khas, terus meluk gue.
“Lo dianterin ya Khel? Apa
naik ojek? Kayak ada suara motor berhenti tadi” Tanya Andre ke gue
“Iya gue dianterin sama
Benedict”
“Ha? Ben? Dia nganterin
lo? Terus dia mana?” Tanya Andre dengan wajah bingung campur lega
karena gue pulang dengan selamat.
“Pulang, takut dicariin
nyokap. Udah ya gue mau cuci muka dan tidur, bye” Kata gue lalu
meninggalkan Merry dan Andre di ruang tengah.
Gue ambil handphone gue yang
udah penuh sama notification dan juga missed call dari
Devi, Andre dan Merry. Lalu gue nge-chat Ben.
“Ben”
“Ha?”
“Udah sampai kah?”
“Udah kok”
“Sekali lagi thanks ya Ben
udah jadi Guardian Angel aku”
“Sama-sama Khael. Jangan
bodoh lagi ya”
“Menurut kamu aku harus
berubah?”
“Berubah aja sedikit.
Jangan terlalu sering bodohnya. Bodohnya pas aku bisa nolongin kamu
aja dari situasi yang kamu ciptakan atas kebodohan kamu. Ngerti kan?”
“Ngerti kok. Makasih ya
orang pinter”
“Sama-sama. Kan nggak akan
ada orang pinter tanpa adanya orang bodoh :) Gnite Mikhaela”
“Gnite Benedict”
Chat berakhir dan
berakhirlah kedekatan gue dan Benedict. Kembali seperti tak saling
mengenal, kembali ke dunia Mikhaela dan dunia Benedict. Mikhaela yang
cerewet dan Benedict yang pendiam. Tidak ada chat, tidak ada
sapaan istimewa. Semuanya serba biasa, seperti biasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar