Senin, 17 November 2014

Selamat Ulang Tahun, Bye!

Dua tahun sudah berlalu. Dua tahun berakhirnya hubungan kita dimasa lalu. Aku hanya tiba-tiba terkenang masa itu. Bukan karena belum bisa melupakanmu, hanya, entahlah, terkenang saja begitu.

Teringat dengan jelas beberapa minggu sebelum hubungan kita berakhir. Hubungan kita sudah payah. Kamu tak pernah mencoba membalas pesanku. Kamu tak pernah mau mengangkat teleponku. Kamu yang selalu lari dari komentar di social media, kamu menghindari aku.

Dengan rasa yang disebut cinta yang masih tersisa, aku membuka laptop dan mencari foto kita. Dengan deraian air mata, aku menggabungkan beberapa foto kita. Aku bicara “yang, aku kangen” pada gambar dirimu yang kala itu menghiasi wallpaper laptopku. Aku kembali mengambil handphoneku, menghubungimu, namun sia-sia saja karena kamu tak mau mengangkat teleponku.

Aku pergi ke sebuah toko, lalu memberikan foto kita yang kemudian ditempelkan ke gelas. Itu adalah hadiah ulang tahun dariku untukmu. Dengan menahan air mata saat melihat kemesraan kita di gelas tersebut, aku membungkusnya.

Aku mengucapkan “selamat ulang tahun” untukmu sabtu pagi. Aku melihat di social media, sudah banyak foto-foto tentang ulang tahunmu. Kamu terlihat sangat ceria, bahagia. Aku menjerit dalam batinku “kamu senang ya banyak yang ngerayain ulang tahun kamu dan kamu senang karena nggak ada aku”. Aku kembali membuka laptopku, memutar video kacangan yang aku buat untuk kado ulang tahunmu. Tapi aku simpan saja karena aku tak yakin kau mau menyimpannya.

Minggu sorenya, aku meletakan kado yang sudah dibungkus itu diatas mimbar. “selamat ulang tahun ya yang” ucapku tanpa menatap mata indahmu. Aku berlalu, menundukan kepalaku, menahan air mataku. Tak lama kau mengirimkan pesan padaku “kamu mau ketemu aku nggak? Kalau mau turun, kalau nggak aku pulang”. Aku turun, karena aku rindu kamu.

Setelah bicara denganmu, kamupun pulang. Masih ada “yang, aku sudah sampai” kala itu. Tak lama kemudian, akhirnya kamu memutuskan kita. Dengan alasan bertele-telemu yang berputar-putar. Dengan alasan yang membuat kamu merasa tak kuat bersama aku karena kesalahanku, memang aku bukan wanita sempurna, bukan.

Bukannya aku tak tau bahwa diluar sana kau telah memiliki wanita baru. Muridmu, anak didikmu kala itu. Aku hanya sengaja menutup mataku karena sejujurnya aku tak ingin kita berakhir. Aku ingin kita tetap bersama walau kamu terasa sangat amat dingin. Pada kenyataannya aku seperti berdiri di tengah rel kereta, menunggu kereta menabrakku. Aku hanya menunggumu mengakhiri semuanya dan ketika semuanya berakhir, aku mati.


Selamat ulang tahun (mantan) yang terkasih. Selamat menikmati duniamu. Aku sudah move-on kok, hanya sedikit terkenang saja. Bye!