Rabu, 14 Januari 2015

Kamu

Nggak tau kenapa akhir-akhir ini kamu jadi orang yang sering muncul dalam pikiranku. Aku sedang tidak ingin memikirkanmu, tapi kamu muncul dengan brutalnya. Kamu mengobrak-abrik isi otakku, membajak hatiku, bikin aku nggak karuan. Nggak tau kenapa juga, aku jadi sering membuka kenangan masalalu kita. Apa yang pernah kita lakukan, apa yang pernah kamu katakan dan apa yang pernah jadi hal menyenangkan yang aku dapat darimu.

Melihat kamu yang sekarang, aku tiba-tiba teringat kata tantemu "paling susah ngerubah gaya dia", aku tertawa, karena gayamu memang sulit diubah. Dulu kamu memang nggak pernah bisa lepas dari jas hitam itu. Sekarang? Kamu berubah! Cardigan biru, sweater merah, kemeja kotak-kotak, kamu terlihat lebih menyenangkan dipandang, apalagi dengan Jaket Baseball hitam itu.

Aku sedang berusaha keras melupakanmu, namun akhir-akhir ini usahaku terlihat nggak membuahkan hasil. Semakin aku mencoba untuk melupakanmu, kamu semakin muncul. Bahkan ketika doa semalaman jumat kemarin, wajahmu muncul saat aku memejamkan mata. Aku mengusirmu jauh-jauh dari otakku, namun wajah dinginmu muncul terus dan terus, lagi dan lagi.

Aku membiarkan saja kamu masuk ke dalam pikiranku, disaat aku sedang menyembah namaNya, kamu menari-nari indah dalam gelapnya pikiranku. Aku menikmati setiap desiran darahku yang rasanya menusuk-nusuk jantungku, aku menikmati rasa sakitnya, perihnya yang rasanya lucu.

Aku melihat wajah lelahmu kemarin, tatapanmu membuat aku merasa kalau kamu "tidak suka" denganku. Kamu terlihat begitu malas berada dekat-dekat denganku. Aku benci tatapan itu, aku benci segala ekspresimu yang sulit aku tebak. Kamu benar tidak menyukaiku? Kamu benar tak ingin aku berada dekat-dekat denganmu? Aku tak mengerti, aku tak bisa membaca ekspresimu itu.

Aku sadar aku nggak pantas denganmu. Kamu nggak akan mungkin suka dengan wanita jadi-jadian sepertiku. Kamu nggak akan mungkin suka wanita super alay sepertiku. Aku juga sadar kamu nggak akan menyukai wanita yang tak pernah rapih dan selalu bersikap layaknya anak kecil. Tapi aku tak bisa berubah, aku hanya berusaha jadi natural, jadi diriku sendiri.

Tenang, aku sedang dalam 'proses' melupakanmu kok. Wanita diluaran sana memang lebih pantas menggenggam tanganmu, mendapat 'rasa' yang benar-benar tulus darimu. Bukan yang hanya sebagai tempat persinggahan, mainan, teman chat dikala sepi atau apalah istilahnya.

Aku sadar aku yang paling bersalah dalam kisah ini. Aku tau kalau aku nggak melakukan itu, kamu mungkin nggak akan pergi. Eh, tidak! Aku lakukan atau nggak, kamu pasti pergi, karena kamu memang tak pernah punya 'rasa' untukku.


Terima kasih telah menjadi orang yang aku kagumi hampir sewindu. Beberapa kali pria keluar masuk hidupku, kamu tetap jadi orang yang terus-terusan aku kagumi. Tenang, aku sedang dalam 'proses' melupakanmu kok. Kamu nggak usah khawatir kalau aku akan mengganggu hidupmu. Aku hanya akan terus jadi secret admirermu, mengaggumimu dari jauh.

Tidak apa, mengaggumimu dari jauh punya rasanya sendiri, dan aku suka rasa sakitnya. Rasanya lucu, aneh, menyebalkan dan menyesakkan dada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar