Selasa, 28 Januari 2014

From this Momment's Story


From this momment life has began, from this momment you are the one” sepenggal lirik lagu dari Shania Twain-From this momment. Lagu yang berputar indah di Gereja sore itu, membuat hatiku bergetar dahsyat. Aku menari bersama lagu itu seraya meneteskan air mata. Terharu? Tidak mungkin. Sedih? Sepertinya iya, begitulah.

Dua tahun yang lalu aku menari bersama lagu ini, mengiringi kakaknya sahabatku yang menikah hari itu. Kakak itu memang benar-benar terlihat cantik dibalut gaun putih khas pengantin. Wajahnya merona berseri, mungkin efek blush-on. Ah, tapi tidak juga, dia memang sedang bahagia makanya air mukanya berbeda. Diujung sana kulihat sudah ada pria berdiri tegak, dengan pakaian serba putih juga, dialah pria beruntung yang akan menjadi suami kakak yang cantik ini. Aku dan kelima sahabatku menari mengantarkan kakak ini pada calon suaminya dan tibalah dia disana dan duduk bersama calon pendamping hidup selamanya lalu mengikuti ibadah pemberkatan pernikahan mereka.

“Hey, kau cantik sekali tadi” ucapmu, priaku.
“Ah masa? Biasa saja” ucapku dengan senyuman malu-malu.
“Tidak Miryamku sayang, kau memang cantik “ ucapnya menggodaku.
“Ah Reinhard kau membuatku malu” ucapku lalu memukulnya dengan lembut
“Tadi aku sempat membayangkan kau menggunakan gaun pengantin yang digunakan Kak Maria”
“Oh ya, lalu?”
“Lalu aku berdiri didepan mimbar sebagai Kak Yosep menunggumu” ucapnya tersenyum
“Ah, kau ini!” aku tersipu malu mendengarkan ucapnnya.

Aku menangis mengingat percakapan singkat kita yang manis itu, itu memang benar-benar manis. Kuangkat kepalaku lalu kuhapus air mataku dengan tissue dan ku poles wajahku dengan pelembab wajah dan foundation lalu aku tutupi bedak. Kurias wajahku secantik mungkin menutupi mata bengkakku yang sudah kelelahan menangis. Aku poles lagi blush-on di pipiku agar aku benar-benar terlihat cantik dan juga lebih berseri.

“Aku tak suka kau make-up berlebihan, aku lebih suka kau natural”
“Aku juga tak suka make-up berlebihan, itu merusak wajahku”
“Tapi aku suka melihatmu memakai lipstick warna pink itu, itu membuatmu terlihat lebih natural”
“Oh ya? Aku tak suka warnanya terlalu tipis”
“Aku pikir itu bagus. Tapi bagaimanapun, dengan atau tanpa make-up kau tetap Miryamku” ucapmu menatapku, tersenyum manis. Aku balas senyumanmu dengan senyumanku dan kau menggenggam tanganku di taman sore itu.

Kulempar lipstick berwarna pink itu, lagi-lagi aku teringat sepenggal percakapan kecil kita yang indah. Aku mengambil kembali lipstick itu dan memakainya sampai bibirku tertutup sempurna oleh warna pink dari lipstik tersebut. Aku menatap diriku dikaca dan mulai berkata “Maju Miryam, kau cantik kok” aku tersenyum pada bayanganku dikaca, tapi bayanganku dikaca malah menangis. Tak bisa ditutupi memang, aku sedih dan merindukanmu.

“Kenapa sih, rambutmu selalu kau ikat seperti ini”
“Kau tidak tau ya kalau Indonesia itu panas”
“Iya aku tau, tapi rubahlah sedikit penampilanmu”
“Kenapa? Kau mulai jenuh padaku?”
“Bukan begitu, tapi aku lebih suka kau begini” ucapmu sambil menarik tali rambutku.
“Reinhard” teriakku manja
“Diam. Aku hanya ingin memberitahumu betapa kau sangat cantik jika begini” ucapmu merapihkan rambutku disisi kanan dan kiri dan merapihkan poni tipisku, aku hanya terdiam menikmati setiap jarimu di rambutku
“Apa kubilang, kau cantik jika begini” ucapnya menarik daguku lalu mencium keningku.
“Terima Kasih, Reinhard” ucapku
I love you, Miryam” ucapmu manis
Me too, Reinhard” balasku menatapmu.

Kenangan itu kembali tergambar, aku ingat, di taman sore-sore. Kau merapihkan rambutku, sesuatu yang akhirnya jadi rutinitasmu tiap kali kau ingin melihat rambutku terurai. Aku menatap wajahku di cermin, eyeliner diatas kantung mataku luntur karena menangis, menutupi warna merona dipipiku. Rambutku telah aku ikat ekor kuda, aku hendak mencepolnya, tapi aku tarik kembali tali rambutku, kurapihkan poniku dan aku gunakan mahkota renda warna putih buatan temanku lalu merapihkan kembali make-up ku yang luntur. “Kau cantik Miryam, lipstick pink dan rambut teruraimu, kau sangat cantik” ucapku membanggakan diriku sendiri.

“Lihat kostum baruku” ucapku memamerkan kostum-kostum baruku
“Wah bagus-bagus”
Aku suka yang warna ungu ini, menurutmu bagaimana?”
“Kau pasti akan terlihat lebih cantik dengan warna peach ini. Lihat! Cocok sekali dengan warna kulitmu”

“Kau benar”
“Yang ini juga bagus, aku ingin saat menikah nanti, semua penari pengiring menggunakan yang putih ini” ucapmu tersenyum padaku, aku hanya membalas senyumanmu dengan senyumanku yang malu-malu.

Persiapanku selesai, aku turun bersama lima penari lainnya. Menggunakan kostum putih dengan rambut terurai beramahkota renda warna putih dan juga lipstick pink ku. “Kak Miryam cantik sekali” ucap seorang gadis mungil si penabur bunga padaku. “Terima Kasih Angelina” ucapku. Aku berbaris dibarisan depan bersama temanku, dua pasang penari lainnya berdiri berurutan dibelakangku dan temanku, pengantin kecil sudah siap dibelakang untuk menaburkan bunga agar meriah. Suara mobil berhenti didepan gereja, mobil pengantin. Pengantin wanita turun dari mobil dan aku tak bisa melihat wajahnya karena tidak dijinkan untuk menoleh kebelakang, aku harus fokus. Didepan mimbar sana, sudah ada sang pria yang menunggu si pengantin wanita, dialah pria beruntung yang mendapatkan wanita ini.

Lagu From This Momment-pun mengalun indah melalui pita suara seorang pemimpin pujian di gerejaku yang suaranya sangat halus, diiringi dentingan piano dan gesekan biola yang indah. Hatiku bergetar, sangat dahsyat, aku menahan perasaanku ini menahannya sangat keras “sebentar lagi berakhir” aku mendengar bisikan sejuk tanpa wujud, maka aku menahan butiran berlianku yang hampir saja menetes. Akhirnya sampai juga dihadapan sipengantin pria, tampan, sangat tampan dengan pakaian serba putih itu. Aku mempersembahkan wanita cantik ini padamu, Reinhard. Aku sudah tak kuasa menahan berlianku, jatuh sudah saat wanita itu lewat dihadapanku lalu tanganmu menggenggam tangannya. Mungkin orang kira aku terharu, bukan! Aku sedih, aku marah dan aku kecewa. Kau mengakhirinya begitu saja Reinhard, kau mengakhiri 3 tahun perjalanan kita, kau bilang kau akan menikahiku tahun ini tapi nyatanya yang kau genggam bukan tanganku. Bukan aku yang ada dibalutan gaun pengantin putih itu tapi wanita lain, wanita itu yang duduk disampingmu sekarang lalu mendengarkan khotbah tentang pernikahan, nyatanya bukan aku yang akan menemani hidupmu Reinhard tapi wanita itu. Aku kembali ke ruang ganti penari, menangis melihatmu duduk disana dengan wanita itu.

Kau datang sore itu, senyuman bahagia terpancar dari wajahmu, kau mengajakku ke taman tempat kita biasa menghabiskan waktu bersama. Kau membelikanku Ice Cream dan boneka Stich yang baru. Kau mengajaku makan, lalu kita mengambil foto bersama. Kubuka tasmu dan kau mengeluarkan benda itu, benda yang membunuhku, kenapa tak kau keluarkan saja pisau, golok atau apalah lalu tusuk aku dengan itu.
“Mir, aku akan menikah dengan Renina” kau mengeluarkan surat undangan berwarna ungu, warna kesukaanku. Aku tak menjawab hanya menumpakan air dari mataku, hujan turun sangat lebat.
“Mir, ayo pulang”
“Kau pulang saja duluan, aku bisa pulang pakai ojek”
“Mir, nanti kau basah, ayo ke mobil”
“Tidak Rein, kau saja!”
“Miryam!” teriakmu, sama seperti waktu kau meneriakiku untuk minum obat maagku.
“Pergilah Rein” ucapku mengusirmu
“Ayo Miryam, nanti kau sakit” ucapmu menarik tanganku
“Apa perdulimu jika aku sakit? Sekarang saja aku sedang sakit, kau tidak tau betapa sakitnya aku Reinhard!”
“Tapi kita kan sudah berakhir dan juga kau tau bahwa aku telah memiliki Renina”
“Iya aku tau, salahku memang belum bisa melupakanmu, makanya kau pergi saja biar aku bisa melupakanmu!”
“Miryam”
“Tak usah perdulikan aku Reinhard. Pergilah, toh sebentar lagi kau juga akan meninggalkanku selamanya”
“Miryam, aku perduli padamu”
“Mulai sekarang berhentilah memperdulikan aku Reinhard, dan aku akan belajar melupakanmu”
“Tapi kau akan menari kan dipernikahanku?” ucapnya menatapku, aku menatapnya rasanya aku memukulnya sekeras mungkin. Betapa jahatnya dia, aku sudah terluka seperti ini tapi dia masih memintaku menari di pernikahannya.
“Iya, aku akan menari” ucapku lalu memeluknya, berharap beban dihatiku hilang atau berharap Reinhard membatalkan pernikahnnya. Tapi itu tak mungkin.

“Selamat menempuh hidup baru Reinhard dan Renina” ucapan selamat yang datang bertubi-tubi kepada pasangan suami-istri yang baru ini.
Selamat Reinhardku sayang, walaupun sebenarnya kau belum benar-benar mengakhiri ini, tapi kau sudah memilih jalan hidupmu! Bahagialah kau! Kau harus bahagia, awas kalau tak bahagia. Aku akan menunggumu, mungkin tidak untuk sekarang tapi akan aku temukan kau dikehidupanku selanjutnya setelah Tuhan datang kembali. Aku mencintaimu, Reindhard~



cr. Maylan H. Saragih | @MaylanHandas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar