Aku
sedang mendengarkan All of Me milik John Legend di bangku taman
kampus ketika Pras menepuk bahuku. "Woi. Rapat" ucapnya
kemudian berlalu.
"Sial!"
umpatku. Pras menghancurkan imajinasi indahku tentang lagu ini. Lagu
indah yang hanya diiringi dengan dentingan piano merdu yang membuat
aku berkhayal John Legend menyanyikan lagu ini untukku. Ya, hanya
khayalan.
Dengan
langkah berat aku menuju ruang rapat. Ruangan tempat berkumpulnya
para anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang sangat tidak
menyenangkan ini. Kalau saja bukan karena Mr. Smith, aku tak akan
bergabung dengan badan ini.
Mr.
Smith adalah dosen Bahasa Inggris sekaligus pengurus dari BEM.
Menurut senior-seniorku, Mr. Smith sangat selektif memilih anggota,
dan aku adalah manusia paling beruntung (menurut mereka) karena bisa
menjadi anggota BEM tanpa mengikuti seleksi apapun. Karena itulah,
BEM menjadi tempat yang sangat tidak menyenangkan untukku karena
beberapa anggotanya membenci aku yang bisa menjadi anggota tanpa
mengikuti seleksi.
"Baiklah,
agenda rapat kita hari ini adalah membahas acara ulang tahun kampus
tercinta kita ini. Kita mulai dari acara pensinya" Itu yang
bicara Tomi atau yang hanya biasa dipanggil Tom, seniorku, semester
5. Dia adalah ketua BEM. Tampan, cerdas, tegas, terkenal dan disukai
banyak wanita. Mungkin atas dasar itu Mr. Smith mencalonkannya
menjadi ketua BEM dan kemudian terpilih.
"Khael,
susunan acara yang saya minta kemarin sudah kamu buat?" Tanya
Tom padaku yang sedang asik mencorat-coret buku catatan miniku.
"Sudah
kak, ini" Ucapku sambil memberikan buku itu pada Tom.
"Apa
ini? Lirik lagu John Legend?" Katanya dengan nada kagetnya
seraya sedikit membentak. Seluruh anggota BEM yang lain tertawa,
mentertawai kebodohanku. Aku memaki diriku sendiri. Bisa-bisanya aku
salah memberikan catatan. Bodoh, bodoh, bodoh.
Aku
melihat sudat mata Mr. Smith. Kalau tidak sedang ramai, pasti Mr.
Smith sudah membentakku dengan kalimat khasnya "Bikin malu!".
"Sorry
kak, sorry, ini yang benernya kak, sorry banget kak" ucapku
memohon maaf pada ketuaku ini.
"Oke.
Besok-besok kalau rapat jangan melamun" Katanya, kemudian
memberikan susunan acara pada sekertaris yang kemudian dibacakan.
Rapat
hari inipun berakhir dengan terpilihnya MC untuk acara, dan
pengisi-pengisi acara lainnya. Tugasku adalah menemui Ketua Divisi
Teater, Seni Musik dan membuat pendaftaran untuk Band Band yang
hendak mengisi acara. Sedangkan Panitia inti seperti Ketua,
Sekertaris dan Bendahara akan mencari Bintang Tamu yang dirahasiakan
dari kami.
***
Akhirnya
tiba juga hari ulang tahun kampusku. Acaranya sangat meriah karena
juga ternyata dihadiri oleh senior-senior yang sudah lulus. Gedung
sewaan yang mampu menampung 3000 orang ini menjadi lautan manusia.
Acaranya memang diadakan di dalam ruangan. Sengaja, mengingat ini
adalah musim hujan tak ingin mengambil resiko maka kami menyewa
gedung.
Acara
demi acara terus berjalan. Aku yang paling lelah sepertinya. Kulihat
wajah tenang dari Kakak Ketua itu bersama dengan sekertaris setianya
itu duduk berdampingan. Sedangkan aku yang sibuk bolak-balik demi
lancarnya kegiatan ini, beginilah nasib seksi acara (atau sebut saja
seksi repot)
Akhirnya
ketua ambil alih. Tomi menyuruh semua panitia berkumpul disamping
panggung karena dia akan mengeluarkan bintang tamu 'rahasia'nya itu.
Aku malas, makanya aku minta ijin pada Tom untuk duduk di bangku
penonton bersama Merry dan Andre. Aku yakin bintang tamunya hanyalah
Band lokal daerahku yang gaya bermusiknya cadas dengan pakaian serba
hitam dan rambut kusut. Tom mengijinkan aku untuk duduk di kursi
penonton. "Kamu sudah terlalu lelah" ucapnya. Ternyata dari
tadi dia tau aku lelah, dia tidak terlalu buruk ternyata.
Semua
panitia sudah duduk disudut yang berlawanan dengan para Panitia Inti.
Mereka (baca : Tom) mengucapkan banyak terima kasih untuk kehadiran
teman-teman, senior-senior dan para dosen. Tak lama, keluarlah si
Bintang tamu rahasia itu. aku memejamkan mata karena lelahnya.
"Benn..
Benn.." Teriak para gadis dibelakangku.
"Oh,
nama bintang tamunya Ben" Seruku dalam hati, aku masih tetap tak
membuka mataku karena jujur aku sangat lelah.
"Mik,
Benedict tuh" Senggol Merry padaku yang akhirnya aku membuka
mata, memandang pemandangan indah didepanku. pria dengan kemeja putih
panjang itu menarikan jari-jari indahnya diatas tuts hitam putih itu.
Menyanyikan lagu John Legend - All of Me. Aku merapikan posisi
dudukku yang tadinya merosot, membersihkan kaca mata dan masih tak
percaya kalau itu adalah Benedict.
Aku
menatapnya, terkagum dengan pesonanya, aku terbawa arus permainan
jari-jari indahnya. Ben menatap kearahku, seperti sedang menyanyikan
lagu All of Me itu untukku. Aku tersenyum, tersipu malu.
"Oh,
ada Velly pantesan Ben nyanyinya segitu mengahayati" celetuk
Andre yang tau banyak tentang Benedict. Velly adalah orang yang yang
sekarang ini sedang dekat dengan Ben. Ya, si cantik itu, selevel
dengan Ben. Bagai tertusuk paku tiba-tiba aku merasa kesakitan yang
tak mampu terungkapkan. Menetskan air mata saja aku tak mampu.
Kulirik kearah kanan, ya Velly disana, ternyata Ben memainkan matanya
pada wanita itu bukan padaku. Lagu pun berakhir, semua orang bertepuk
tangan atas permainan indah Ben, tak terkecuali aku.
Andre
dan Merry menghampiri Velly. Aku hanya menyapa sekenanya saja, karena
aku harus kembali berkumpul bersama panitia dan pengisi acara.
Kulihat semua panitia sudah berkumpul bersama para pengisi acara. Tak
kusangka, Ben masih ada disini, dibelakang panggung. Tom mengucapkan
selamat yang tulus padaku, beberapa teman lain yang dulunya terlihat
membenciku juga mengucapkan selamat yang tulus. Kata mereka acara ini
sukses berkat aku juga, aku jadi terharu.
Sesi
terakhir adalah sesi berfoto. Semua panitia berfoto bersama semua
pengisi acara serta Bintang tamu spesial kami. Tak kuduga, Tino,
photographer kami menyuruhku berdiri disamping Ben. Lalu Ben
merangkulku dan juga Tom yang berdiri disisi satunya. Aliran darahku
mengalir deras ketika pria itu merangkulku lalu menatapku, serasa aku
ingin teriak 'please, jangan phpin aku'.
Sesi
foto selesai. Panitia dan para pengisi acara mulai membubarkan
dirinya masing-masing. Ada yang masih mengobrol dan tertawa-tawa, ada
yang membereskan barang-barangnya dan yang menarik perhatianku adalah
kerumunan di dekat Grand Piano. Ada sekumpulan wanita yang masih
meminta foto bersama dengan Benedict, aku hanya tersenyum dari
kejauhan ini dan mulai merapikan barang-barangku.
Kerumunan
tersebut bubar, aku melihat Benedict masih duduk dihadapan Grand
Piano tersebut.
"Minta
foto dong kak" Ucapku dari belakang pundaknya, dia menoleh dan
mengeluarkan senyuman khasnya yang penuh misteri--yang sangat aku
sukai.
"Kayak
nggak pernah foto sama aku deh" Katanya kemudian mulai menarikan
jari-jari indahnya.
"Tadi
mainnya keren banget" Kataku memuji permainannya tadi
"Makasih.
Mau denger lagi gak?" Katanya sambil menoleh, matanya mencuri
mataku dan aku tak mampu bicara.
"Sini,
duduk disamping aku" Katanya, layaknya menerima perintah dari
atasan aku langsung duduk disebelahnya. Dia mulai menarikan jari-jari
indahnya diatas tuts hitam putih itu, lalu menyanyikan lagu itu lebih
indah dari yang aku dengar diatas panggung tadi.
Aku
bertepuk tangan setelah dia menyelesaikan permainan indahnya itu.
"Keren
banget" Kataku sambil menyeka air mata yang menetes karena
indahnya permainan jari-jari Ben.
"How
many times do I have to tell you? Even when you're crying you're
beautiful too" Nyanyinya mengulang lirik lagu John Legend yang
artinya : Udah berapa kali aku bilang sama kamu? Walaupun kamu
nangis, kamu tetep cantik. Wanita mana yang tidak meleleh ketika
pria menyanyikan lirik lagu tersebut?
"Aduh,
melted nih" Kataku padanya yang sepertinya senang membuat
aku meleleh.
"Mana?
Kamu belum berubah jadi cairan tuh, masih utuh, masih chubby"
Katanya kemudian mencubit pipiku.
"Kamu
mau aku berubah jadi cairan?" Tanyaku
"Gak
apa-apa, ntar aku masukin dalam botol terus aku pajang di kamar"
Katanya sambil tertawa dan akupun tertawa bersamanya.
"Ayo
pulang" Ajakku
"Nanti
ah, bentar lagi" Katanya yang kemudian kembali menatap Grand
Piano tersebut.
"Kamu
betah banget disini" Ucapku.
"Gimana
gak betah duduk di depan Grand Piano impian aku dan cewek cantik
disebelahku" Katanya kemudian tersenyum dan kembali menatap
Grand Piano tersebut.
"Gombalnya
pinter sekarang" Kataku, lalu mengacak-acak rambutnya.
"Ayolah
pulang" lanjutku, "Velly nungguin kamu loh!" kataku
dengan spontan.
"Velly?
Emang dia ada disini?" Tanyanya, kemudian mengeluarkan
gadgetnya, aku hanya mengangguk.
"Biarin
deh" Lanjutnya, "Dia nggak bilang mau kesini" Katanya,
kemudian memasukan kembali gadgetnya ke sakunya lalu menarikan lagi
jari-jari indahnya, entah memainkan lagu apa, tapi aku senang
mendengar dan memperhatikan jari-jari indahnya di atas tuts hitam
putih itu.
"Kamu
pulang sama siapa?" Tanyanya, memecah keheningan.
"Sendiri"
Kataku singkat
"Naik
apa?" Tanyanya lagi.
"Naik
angkot palingan" ucapku
"Nggak
berubah ya kamu, angkot mulu" Katanya
"Tadi
pagi aku dijemput dosen aku, hujan soalnya, makanya nggak bawa motor.
Merry udah pergi sama Andre tadi bareng Velly,Lady dan Rina"
kataku setelah melihat isi BBM dari Merry.
"Oh,
ada Lady sama Rina juga" Gumamnya.
"Iya"
ucapku singkat padanya.
"Yuk
pulang" Ajaknya, menatap kearahku. Aku menganggukan kepala dan
berjalan mendahului Ben.
"Hujan
Ben" Kataku
"Kamu
ada payung?" Tanyanya.
"Ada"
jawabku singkat
"Aku
pinjem, kamu tunggu sini" Katanya kemudian membuka payung
pink-ku dan kemudian berlalu.
Tak
lama, sebuah mobil berwarna putih, parkir persis didepanku.
"Yuk"
Ajaknya, ternyata Ben, aku langsung masuk ke mobilnya.
Ben
mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati, mengingat sedang hujan,
lalu Ben menghentikan mobilnya disalah satu rumah makan khas Manado.
"Karena
hujan, kita makan dulu ya" Katanya kemudian mematikan mobilnya.
Aku hanya menuruti perintahnya. Ben memesan makanan yang beberapanya
aku tau dan sudah dipastikan kalau rasanya pasti pedas. Ben memang
suka dengan masakan-masakan yang berasa pedas.
Hujan
terlihat menetes lebih tipis, langit mulai terlihat cerah. Aku keluar
rumah makan tersebut bersama Ben lalu masuk ke mobilnya. Sepanjang
jalan, kami hanya tertawa, bicara dan menghabiskan hari ini.
"Ben,
Ben! Pelangi" ucapku spontan melihat pelangi yang indah itu. Ben
kemudian meminggirkan mobilnya ke sebuah lapangan yang luas. Spontan
aku keluar dari mobil, berlari ke arah pelangi. Ben mengikutiku. Aku
mengambil beberapa gambar bersama pelangi yang dilangit dan pelangi
disampingku. Kami tertawa tak perduli pikiran aneh orang yang berlalu
lalang.
Ben
sudah bersandar dipintu mobilnya, memperhatikanku yang sedari tadi
masih sibuk dengan kamera ponselku untuk mengambil beberapa momment
indah itu. Tanpa sepengatahuan Ben, aku mencuri fotonya yang sedang
bersandar di pintu mobilnya itu. Dia memang terlihat indah, sangat
indah. Aku ikutan bersandar dimobilnya sambil melihat ke arah pelangi
tersebut. Ben melakukan hal yang sama. Aku merasakan ada sesuatu yang
dingin menyentuh jari-jariku, kemudian terasa semakin hangat, aku
menoleh dan ternyata Ben menggenggam tanganku. Aku hanya mampu
tersenyum menikmati sisa hari ini bersamanya.
"Thanks
ya Ben!" ucapku didalam mobil ketika tiba di depan kontrakanku.
"Sama-sama"
Katanya
"Kamu
nggak mau mampir?" Tanyaku
"Nggak
deh, ntar malem aku mesti ngiringin Vanny"
"Oh
gitu, hati-hati ya Ben"
"Iya"
"Yaudah.
Bye" Kataku sambil memncoba membuka pintu mobil yang ternyata
tidak bisa dibuka.
"Kamu
nggak mau semangatin aku?" Tanyanya
"Oh,
semangat ya Ben!" Kataku, kemudian mencoba lagi membuka
pintunya, Ben menarik tanganku, kemudian mencium keningku. Aku
terpaku dengan kejadian ini dan aku mengerti sekarang.
"Oh.
oke, semangat ya Ben!" Kataku mencium pipinya. Ben keluar
membukakan pintu untukku.
"Thanks
ya!" Ucapnya menggenggam tanganku.
"Ok.
Thanks juga Ben!" Kataku kemudian dia masuk kembali ke mobilnya
dan dia pun berlalu.
Memang
hari ini aku tak melakukan hal bodoh, namun Ben muncul. Ben muncul
sebentar dan seperti biasanya, dia menghilang. Aku mengucapkan
selamat malam pada foto yang aku curi tadi, gaya cueknya yang selalu
membuat aku jatuh cinta. Aku mengirimkan pesan terakhir hari ini
"Gnite, Thanks dan semangat ya" yang kemudia hanya dibalas
"Iya. Sama-sama. Thanks juga Khael :)". Lalu kembali
seperti tak saling mengenal, kembali ke dunia Mikhaela dan dunia
Benedict. Mikhaela yang cerewet dan Benedict yang pendiam. Tidak ada
chat, tidak ada sapaan
istimewa. Semuanya serba biasa, seperti biasanya.
