Mungkin kalian akan bingung dengan ini.
Kalian boleh bilang kasihan sama hidup gue yang absurd ini. Ini bukan
cerita komedi ataupun horor, cuma kisah klasik, lagu lama, kaset
kusut, roman picisan tentang anak muda, keluarga, cinta dan segala
macam keanehannya.
Nama gue Velerie. Gue ceritain sedikit
tentang fisik gue. Mata gue bulat tapi berukuran agak kecil, alis
tebal, wajah oval, dagu panjang, hidung macung, rambut lurus panjang,
badan tinggi dan ramping, kulit putih khas Asia, Secara fisik, gue
cantik. Secara bokap gue turunan Jepang-Holand dan nyokap
Inggris-Bali. Keluarga gue broken abis. Bokap gue tinggal di
Amsterdam, Nyokap gue di London, Kakak laki-laki gue di Tokyo, Kakak
perempuan gue di Jakarta dan gue tinggal di Bali sama tante gue
tercinta.
Tante gue ini keturunan Bali-Inggris,
gara-gara Nini (panggilan untuk Nenek dalam Bahasa Bali) menikah sama
Bule yang mampir ke Bali, jadilah dia Grandpa (Panggilan untuk Kakek
dalam bahasa Inggris, singkatan dari Grand Father) gue. Gue dipanggil
Veli sama tante gue yang nggak bisa mengucapkan huruf R, dan dia gue
panggil Aunty, so simple.
Ya udah, lupain aja soal keluarga gue.
Gue seorang Indigo. Kaget? Biasa aja. Gue cuma anak biasa dengan
kecerdasan tinggi, mampu melihat mahluk halus dan melihat masa depan.
Di usia gue yang ke 14 tahun gue sudah lulus dari salah satu Sekolah
Menengah Atas dengan nilai nyaris sempurna. Yang indigo bukan cuma
gue. Tapi Aunty juga. Keturunan dari Nini katanya sih. Tapi yang gue
bingungkan adalah kenapa gue yang Indigo? Kan seharusnya yang Indigo
itu anaknya Aunty, secara Aunty juga Indigo. Tapi memang harus begitu
kata Aunty. Suatu hari nanti juga kalau gue punya anak, kemungkinan
besar anak gue nggak akan Indigo. Kalaupun iya, nggak akan sesempurna
gue dan Aunty. Paling cuma Gifted (memiliki kecerdasan tinggi) atau
Cenayang (mampu melihat masa depan dan mahluk halus), sedangkan gue
dan Aunty adalah Talented (Memiliki kecerdasan tinggi, mampu melihat
masa depan dan mahluk halus). Begitu sih menurut teori dari Aunty.
Hari ini adalah hari pertama gue jadi
Mahasiswi. Gue pindah ke Jakarta sama Aunty. Oh iya, Aunty gue belum
menikah, usianya sih udah 30 tahun dan sudah mapan. Pernah suatu hari
gue bincang-bincang sama Aunty.
“Aunt, kenapa sih belum nikah?”
Tanya gue ke Aunty yang lagi asik sama Laptopnya
“Belum nemu sayang” Katanya sambil
tetap natap layarnya.
“Belum nemu gimana? Kemarin udah ada
Uncle Randy yang mau sama Aunty” Kata gue lagi, kepo.
“Bukan dia yang Aunty cari” ucapnya
lagi, santai.
“Terus yang Aunty cari yang kayak
gimana emang? Ucle Randy, almost perfect” Kata gue ngedeketin
Aunty, akhirnya Aunty meletakan laptopnya di meja. Lalu mengambil
bantal sofa.
“Kamu tau dari mana Uncle Randy
almost perfect?”
“Dari cara dia memperlakukan Aunty”
“Memang Randy sangat baik. Tapi bukan
yang terbaik untuk Indigo seperti kita”
“Maksud Aunty?”
“Sini, Aunty ceritain sesuatu. Dulu,
Aunty benci banget jadi Indigo. Semua anak Indigo pasti ngalamin ini.
Dianggap aneh, sok dan sebagainya. Sama seperti kamu kan” Kata
Aunty lalu menghela nafas sebentar.
“Iya, jadi Indigo emang nggak enak.
Gak punya temen” kata gue, seolah bicara sama diri gue sendiri. Di
Bali, hanya ada 2 orang yang benar-benar mau jadi temen gue. Lea
(perempuan, keturunan Bali-Amerika) dan Keenan (laki-laki, keturunan
Bali-Belanda). Tapi merekapun sekarang jarang main sama gue karena
mereka masih sekolah dan gue sudah lulus.
“Dulu Nini pernah bilang sama Aunty,
kalau Aunty bakalan ketemu sama jodoh Aunty di usia 17 tahun. Dan
pria itu haruslah pria yang tidak bisa kita (Indigo) baca” kata
Aunty meletakan bantal sofa lalu meneguk teh yang tadi gue bikinin.
“Maksudnya?” Tanya gue nggak ngerti
“Kata Nini, saat usia kita mencapai
17tahun, kemampuan kita akan bertambah satu, yaitu membaca pikiran
orang lain. Jadi kita bisa tau apa yang ada di pikiran orang-orang
tentang kita atau tentang orang lain” kata Aunty lagi lalu ngelap
kaca matanya pakai tisu yang ada di meja.
“Dulu” lanjutnya “Aunty waktu
mulai bisa baca pikiran orang, Aunty baca semua pikiran teman-teman
Aunty dan Aunty benci ada dikelas itu karena semua orang memandang
aneh Aunty. Sampai suatu hari ada anak baru bernama Hendri yang
pikirannya nggak bisa Aunty baca, gerak-geriknya nggak terdeteksi dan
ramalan tentang dia tertutup oleh gorden hitam besar” katanya lalu
memakai lagi kaca matanya.
“Terus?”
“Karena Aunty benci Indigo, Aunty
buang jauh-jauh pikiran tentang dia. Aunty selalu bilang 'saya bukan
Indigo' tapi itu malah bikin Aunty stress dan minta sama Nini buat
pindah kampus” katanya lalu menerawang keluar jendela “Seandainya
waktu itu Aunty bertahan dikelas itu, dekat dengan Hendri, pastilah
sekarang Aunty sudah menikah” Katanya lalu menepuk pundak gue
“Nanti, kalau usia kamu sudah 17 tahun dan kamu menemukan pria yang
pikirannya tidak bisa kamu baca, yakin itu pasti jodoh kamu” Kata
Aunty, gue cuma senyum ngangguk-ngangguk lalu Aunty pergi bawa
laptopnya.
Anyway, balik lagi dihari pertama gue
jadi mahasiswi. Kakak perempuan gue yang di Jakarta pindah ke
Washington, DC. Kayaknya emang keluarga gue itu nggak boleh tinggal
disatu kota barengan gitu. Harus satu orang di kota yang berbeda. Gue
masuk ke salah satu Universitas kenamaan di Jakarta, gampang buat gue
ngelewatin semua tesnya. Hari pertama gue nih. I'm ready to go.
Bermodalkan Mobil hitam muatan 4-5 orang yang elegan ini, kiriman
dari Kakak Laki-laki gue di Tokyo sebagai hadiah ulang tahun yang
ke-15, gue ready ke kampus. Gue nggak ikut ospek dengan jutaan
alasan yang dibuat-buat. Aunty juga mendukung aksi nggak-ikut-ospek
gue itu dengan cara meminta izin secara alangsung pada pihak kampus.
Jakarta, beda banget sama Bali, ya jelaslah! Macet, ribet dan yang
jelas, jarang ada pantai! Gue melaju dikecepatan normal. Gue sampai
dikampus 30 menit sebelum mata kuliah pertama dimulai. Gue parkir
disamping Honda Civic warna putih yang keliatan elegan juga. Gue
keluar dari mobil gue dan menuju ruangan kelas. Gue udah memprediksi
apa yang bakal terjadi hari ini. Bakalan cuma membosankan. Gue duduk
di kursi ala anak kuliahan. Duduk di pojokan kelas yang mepet tembok.
Sengaja. Didepan gue ada seorang cewek cantik. Dengan malu-malu dia
ngajak gue kenalan.
“Hai. Gue Geny” katanya sambil
mengulurkan tangan dia.
“Hai. Gue Velerie, panggil aja Veli”
kata gue menjabat tangannya.
“Senang bisa kenalan sama lo Vel,
semoga kita bisa jadi teman baik ya Vel”
“Iya. Gue juga berharap kayak gitu”
ucap gue.
Gue dan Geny ngomongin banyak hal. Kita
punya banyak kesamaan. Selera musik dan film. Gue langsung teringat
sama gambar yang tiba-tiba gue gambar kemarin. Gue menggambar seorang
wanita muda cantik berambut hitam ala orang Indonesia dan bermata
sipit. Sepertinya itu bertanda bahwa Geny akan menjadi sahabat
terbaik gue dikampus ini. Mungkin.
Hari-hari di kampus kerasa standar
abis. Karena apa yang gue lakukan setiap harinya sudah muncul di
mimpi gue. Nasib jadi anak Indigo. Bahkan kuis mendadak yang akan
diadakan dosen aja ketebak sama gue. Otomatis setiap ada kuis
mendadak, gue selalu dapet A. Geni adalah orang yang paling beruntung
karena punya temen Indigo kayak gue. Setiap mau ada ujian mendadak
gue selalu bilang sama dia. Jadi ya score dia nggak akan pernah
sejelek score anak-anak lain dikelas. Karena ke-Indogoan gue ini,
sekali lagi, gue dibenci sama temen-temen sekelas gue. Pertama karena
gue selalu dapet nilai bagus. Kedua karena gue sering pasang muka
aneh dan suka ngejerit kaget dan ngomong sendiri. Gue kayak gitu
karena kadang gue ngeliat ada mahluk kampret dikelas. Dan kadang ada
yang ngajakin gue ngobrol. Ajaib banget kan hidup gue?