“Walaupun salah, nggak
mau kalah” Statement kekanak-kanakan yang dulu kita buat.
Halo sahabat-sahabat binatang gue. Halo Kufu-kufu, Halo Kodok, Halo
Cicak, Halo Curut dan Halo Jangkrik. Kapan kita bikin film absurd
lagi? Kapan kita bisa ketawa lepas kayak dulu lagi? Kapan?
Semalam kalian dengan
agak sedikit memaksa ngajakin gue buat kumpul. Untungnya semalam
kelas berakhir cepat, jadi gue bisa datang buat nemuin kalian. Kalian
berada diatap rumah Kodok dan gue bersama Kufu-kufu yang jemput gue
segera nyusul kalian yang lagi ada diatap. Dengan konyol saat gue
udah ditangga menuju keatap kalian menyanyikan lagu “Happy
Birthday” ngebawa sebuah Bolu lapis Surabaya dan sebuah lilin yang
biasa digunakan untuk mati lampu ditengahnya. Gue tertawa dengan
konyolnya, pasalnya “Ultah gue kan bukan hari ini”, mereka
tertawa dan bicara “simbolis aja, mumpung kita lagi kumpul” kata
Cicak yang megang kue Lapis Surabaya itu.
Kita semua duduk diatap
rumah malam itu, meskipun tanpa bintang tapi tetap indah. Menikmati
kue dan soda yang dicampur dengan susu. Mengobrol membabi buta, makan
tanpa memikirkan berat badan dan tertawa tanpa memikirkan tetangga
yang mungkin sudah tidur. Mengambil beberapa gambar sambil
mendengarkan Hoobastank yang menyanyikan The Reason. Seketika hening.
Keheningan malam yang khas dari rumah yang dikelilingi oleh
kebun-kebun. Kita semua bisu beberapa entah berapa lama sampai pada
akhirnya Pangerannya Curut yang memecahkan keheningan itu dengan
lawakan singkatnya.
Lalu kita sibuk dengan
gadget kita masing-masing. Hening. Hanya tetap Hoobastank dengan The
Reasonnya yang memecahkan keheningan. Kufu-kufu, Cicak dan gue sibuk
dengan blackberry masing-masing. Kodok dengan handphone yang
menelepon pangerannya yang jauh disana dan Curut bercanda mesra ala
ABG dengan pangerannya yang dia bawa. Sedangkan Jangkrik, tidak bisa
hadir. Lalu gue ngerasa kalau kita kaku, entah kita atau hanya gue
karena beberapa topik obrolan kalian masih mengenai “kumpul
kemarin”. Memang, disetiap kalian ngajak gue untuk kumpul gue
selalu yang paling nggak bisa. Alasan klasik “sibuk”. Karena gue
harus menghabiskan pagi-sore di Pabrik, sore-malam di Kampus dan
sabtu-minggu di Gereja, nyaris nggak punya waktu untuk memanjakan
diri sendiri dan dihabiskan bersama orang-orang diluar Kampus dan
Gereja.
Candaan kita masih tetap
lucu, kekonyolan kita masih tetap sama. Tapi nggak tau kenapa gue
ngerasa ketawa kita nggak lepas, ada sesuatu yang mengganjal. Gue
kangen masa sekolah dulu, yang kita bisa ngebego bareng, rusuh bareng
tanpa gue harus ngerasa kaku. Mungkin karena gue jarang kumpul sama
kalian atau apa ya, gue nggak tau. Tapi gimanapun kalian adalah mata
gue saat gue sekolah, kalian adalah guru yang mengajarkan sesuatu
yang nggak pernah diajarin disekolah ataupun tempat les, kalian
adalah orang-orang absurd yang selalu ada buat gue. Kalian tetap
sahabat gue. Dan gue? Masih psikolog gagal kalian kan?
♥#SemF...