Rabu, 11 Februari 2015

Little Sweet Momment : Backstage

Aku sedang mendengarkan All of Me milik John Legend di bangku taman kampus ketika Pras menepuk bahuku. "Woi. Rapat" ucapnya kemudian berlalu.
"Sial!" umpatku. Pras menghancurkan imajinasi indahku tentang lagu ini. Lagu indah yang hanya diiringi dengan dentingan piano merdu yang membuat aku berkhayal John Legend menyanyikan lagu ini untukku. Ya, hanya khayalan.

Dengan langkah berat aku menuju ruang rapat. Ruangan tempat berkumpulnya para anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang sangat tidak menyenangkan ini. Kalau saja bukan karena Mr. Smith, aku tak akan bergabung dengan badan ini.

Mr. Smith adalah dosen Bahasa Inggris sekaligus pengurus dari BEM. Menurut senior-seniorku, Mr. Smith sangat selektif memilih anggota, dan aku adalah manusia paling beruntung (menurut mereka) karena bisa menjadi anggota BEM tanpa mengikuti seleksi apapun. Karena itulah, BEM menjadi tempat yang sangat tidak menyenangkan untukku karena beberapa anggotanya membenci aku yang bisa menjadi anggota tanpa mengikuti seleksi.

"Baiklah, agenda rapat kita hari ini adalah membahas acara ulang tahun kampus tercinta kita ini. Kita mulai dari acara pensinya" Itu yang bicara Tomi atau yang hanya biasa dipanggil Tom, seniorku, semester 5. Dia adalah ketua BEM. Tampan, cerdas, tegas, terkenal dan disukai banyak wanita. Mungkin atas dasar itu Mr. Smith mencalonkannya menjadi ketua BEM dan kemudian terpilih.

"Khael, susunan acara yang saya minta kemarin sudah kamu buat?" Tanya Tom padaku yang sedang asik mencorat-coret buku catatan miniku.
"Sudah kak, ini" Ucapku sambil memberikan buku itu pada Tom.
"Apa ini? Lirik lagu John Legend?" Katanya dengan nada kagetnya seraya sedikit membentak. Seluruh anggota BEM yang lain tertawa, mentertawai kebodohanku. Aku memaki diriku sendiri. Bisa-bisanya aku salah memberikan catatan. Bodoh, bodoh, bodoh.
Aku melihat sudat mata Mr. Smith. Kalau tidak sedang ramai, pasti Mr. Smith sudah membentakku dengan kalimat khasnya "Bikin malu!".
"Sorry kak, sorry, ini yang benernya kak, sorry banget kak" ucapku memohon maaf pada ketuaku ini.
"Oke. Besok-besok kalau rapat jangan melamun" Katanya, kemudian memberikan susunan acara pada sekertaris yang kemudian dibacakan.

Rapat hari inipun berakhir dengan terpilihnya MC untuk acara, dan pengisi-pengisi acara lainnya. Tugasku adalah menemui Ketua Divisi Teater, Seni Musik dan membuat pendaftaran untuk Band Band yang hendak mengisi acara. Sedangkan Panitia inti seperti Ketua, Sekertaris dan Bendahara akan mencari Bintang Tamu yang dirahasiakan dari kami.

***

Akhirnya tiba juga hari ulang tahun kampusku. Acaranya sangat meriah karena juga ternyata dihadiri oleh senior-senior yang sudah lulus. Gedung sewaan yang mampu menampung 3000 orang ini menjadi lautan manusia. Acaranya memang diadakan di dalam ruangan. Sengaja, mengingat ini adalah musim hujan tak ingin mengambil resiko maka kami menyewa gedung.

Acara demi acara terus berjalan. Aku yang paling lelah sepertinya. Kulihat wajah tenang dari Kakak Ketua itu bersama dengan sekertaris setianya itu duduk berdampingan. Sedangkan aku yang sibuk bolak-balik demi lancarnya kegiatan ini, beginilah nasib seksi acara (atau sebut saja seksi repot)

Akhirnya ketua ambil alih. Tomi menyuruh semua panitia berkumpul disamping panggung karena dia akan mengeluarkan bintang tamu 'rahasia'nya itu. Aku malas, makanya aku minta ijin pada Tom untuk duduk di bangku penonton bersama Merry dan Andre. Aku yakin bintang tamunya hanyalah Band lokal daerahku yang gaya bermusiknya cadas dengan pakaian serba hitam dan rambut kusut. Tom mengijinkan aku untuk duduk di kursi penonton. "Kamu sudah terlalu lelah" ucapnya. Ternyata dari tadi dia tau aku lelah, dia tidak terlalu buruk ternyata.

Semua panitia sudah duduk disudut yang berlawanan dengan para Panitia Inti. Mereka (baca : Tom) mengucapkan banyak terima kasih untuk kehadiran teman-teman, senior-senior dan para dosen. Tak lama, keluarlah si Bintang tamu rahasia itu. aku memejamkan mata karena lelahnya.
"Benn.. Benn.." Teriak para gadis dibelakangku.
"Oh, nama bintang tamunya Ben" Seruku dalam hati, aku masih tetap tak membuka mataku karena jujur aku sangat lelah.
"Mik, Benedict tuh" Senggol Merry padaku yang akhirnya aku membuka mata, memandang pemandangan indah didepanku. pria dengan kemeja putih panjang itu menarikan jari-jari indahnya diatas tuts hitam putih itu. Menyanyikan lagu John Legend - All of Me. Aku merapikan posisi dudukku yang tadinya merosot, membersihkan kaca mata dan masih tak percaya kalau itu adalah Benedict.
Aku menatapnya, terkagum dengan pesonanya, aku terbawa arus permainan jari-jari indahnya. Ben menatap kearahku, seperti sedang menyanyikan lagu All of Me itu untukku. Aku tersenyum, tersipu malu.
"Oh, ada Velly pantesan Ben nyanyinya segitu mengahayati" celetuk Andre yang tau banyak tentang Benedict. Velly adalah orang yang yang sekarang ini sedang dekat dengan Ben. Ya, si cantik itu, selevel dengan Ben. Bagai tertusuk paku tiba-tiba aku merasa kesakitan yang tak mampu terungkapkan. Menetskan air mata saja aku tak mampu. Kulirik kearah kanan, ya Velly disana, ternyata Ben memainkan matanya pada wanita itu bukan padaku. Lagu pun berakhir, semua orang bertepuk tangan atas permainan indah Ben, tak terkecuali aku.

Andre dan Merry menghampiri Velly. Aku hanya menyapa sekenanya saja, karena aku harus kembali berkumpul bersama panitia dan pengisi acara. Kulihat semua panitia sudah berkumpul bersama para pengisi acara. Tak kusangka, Ben masih ada disini, dibelakang panggung. Tom mengucapkan selamat yang tulus padaku, beberapa teman lain yang dulunya terlihat membenciku juga mengucapkan selamat yang tulus. Kata mereka acara ini sukses berkat aku juga, aku jadi terharu.

Sesi terakhir adalah sesi berfoto. Semua panitia berfoto bersama semua pengisi acara serta Bintang tamu spesial kami. Tak kuduga, Tino, photographer kami menyuruhku berdiri disamping Ben. Lalu Ben merangkulku dan juga Tom yang berdiri disisi satunya. Aliran darahku mengalir deras ketika pria itu merangkulku lalu menatapku, serasa aku ingin teriak 'please, jangan phpin aku'.

Sesi foto selesai. Panitia dan para pengisi acara mulai membubarkan dirinya masing-masing. Ada yang masih mengobrol dan tertawa-tawa, ada yang membereskan barang-barangnya dan yang menarik perhatianku adalah kerumunan di dekat Grand Piano. Ada sekumpulan wanita yang masih meminta foto bersama dengan Benedict, aku hanya tersenyum dari kejauhan ini dan mulai merapikan barang-barangku.

Kerumunan tersebut bubar, aku melihat Benedict masih duduk dihadapan Grand Piano tersebut.
"Minta foto dong kak" Ucapku dari belakang pundaknya, dia menoleh dan mengeluarkan senyuman khasnya yang penuh misteri--yang sangat aku sukai.
"Kayak nggak pernah foto sama aku deh" Katanya kemudian mulai menarikan jari-jari indahnya.
"Tadi mainnya keren banget" Kataku memuji permainannya tadi
"Makasih. Mau denger lagi gak?" Katanya sambil menoleh, matanya mencuri mataku dan aku tak mampu bicara.
"Sini, duduk disamping aku" Katanya, layaknya menerima perintah dari atasan aku langsung duduk disebelahnya. Dia mulai menarikan jari-jari indahnya diatas tuts hitam putih itu, lalu menyanyikan lagu itu lebih indah dari yang aku dengar diatas panggung tadi.
Aku bertepuk tangan setelah dia menyelesaikan permainan indahnya itu.
"Keren banget" Kataku sambil menyeka air mata yang menetes karena indahnya permainan jari-jari Ben.
"How many times do I have to tell you? Even when you're crying you're beautiful too" Nyanyinya mengulang lirik lagu John Legend yang artinya : Udah berapa kali aku bilang sama kamu? Walaupun kamu nangis, kamu tetep cantik. Wanita mana yang tidak meleleh ketika pria menyanyikan lirik lagu tersebut?
"Aduh, melted nih" Kataku padanya yang sepertinya senang membuat aku meleleh.
"Mana? Kamu belum berubah jadi cairan tuh, masih utuh, masih chubby" Katanya kemudian mencubit pipiku.
"Kamu mau aku berubah jadi cairan?" Tanyaku
"Gak apa-apa, ntar aku masukin dalam botol terus aku pajang di kamar" Katanya sambil tertawa dan akupun tertawa bersamanya.
"Ayo pulang" Ajakku
"Nanti ah, bentar lagi" Katanya yang kemudian kembali menatap Grand Piano tersebut.
"Kamu betah banget disini" Ucapku.
"Gimana gak betah duduk di depan Grand Piano impian aku dan cewek cantik disebelahku" Katanya kemudian tersenyum dan kembali menatap Grand Piano tersebut.
"Gombalnya pinter sekarang" Kataku, lalu mengacak-acak rambutnya.
"Ayolah pulang" lanjutku, "Velly nungguin kamu loh!" kataku dengan spontan.
"Velly? Emang dia ada disini?" Tanyanya, kemudian mengeluarkan gadgetnya, aku hanya mengangguk.
"Biarin deh" Lanjutnya, "Dia nggak bilang mau kesini" Katanya, kemudian memasukan kembali gadgetnya ke sakunya lalu menarikan lagi jari-jari indahnya, entah memainkan lagu apa, tapi aku senang mendengar dan memperhatikan jari-jari indahnya di atas tuts hitam putih itu.
"Kamu pulang sama siapa?" Tanyanya, memecah keheningan.
"Sendiri" Kataku singkat
"Naik apa?" Tanyanya lagi.
"Naik angkot palingan" ucapku
"Nggak berubah ya kamu, angkot mulu" Katanya
"Tadi pagi aku dijemput dosen aku, hujan soalnya, makanya nggak bawa motor. Merry udah pergi sama Andre tadi bareng Velly,Lady dan Rina" kataku setelah melihat isi BBM dari Merry.
"Oh, ada Lady sama Rina juga" Gumamnya.
"Iya" ucapku singkat padanya.
"Yuk pulang" Ajaknya, menatap kearahku. Aku menganggukan kepala dan berjalan mendahului Ben.
"Hujan Ben" Kataku
"Kamu ada payung?" Tanyanya.
"Ada" jawabku singkat
"Aku pinjem, kamu tunggu sini" Katanya kemudian membuka payung pink-ku dan kemudian berlalu.
Tak lama, sebuah mobil berwarna putih, parkir persis didepanku.
"Yuk" Ajaknya, ternyata Ben, aku langsung masuk ke mobilnya.

Ben mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati, mengingat sedang hujan, lalu Ben menghentikan mobilnya disalah satu rumah makan khas Manado.
"Karena hujan, kita makan dulu ya" Katanya kemudian mematikan mobilnya. Aku hanya menuruti perintahnya. Ben memesan makanan yang beberapanya aku tau dan sudah dipastikan kalau rasanya pasti pedas. Ben memang suka dengan masakan-masakan yang berasa pedas.

Hujan terlihat menetes lebih tipis, langit mulai terlihat cerah. Aku keluar rumah makan tersebut bersama Ben lalu masuk ke mobilnya. Sepanjang jalan, kami hanya tertawa, bicara dan menghabiskan hari ini.
"Ben, Ben! Pelangi" ucapku spontan melihat pelangi yang indah itu. Ben kemudian meminggirkan mobilnya ke sebuah lapangan yang luas. Spontan aku keluar dari mobil, berlari ke arah pelangi. Ben mengikutiku. Aku mengambil beberapa gambar bersama pelangi yang dilangit dan pelangi disampingku. Kami tertawa tak perduli pikiran aneh orang yang berlalu lalang.

Ben sudah bersandar dipintu mobilnya, memperhatikanku yang sedari tadi masih sibuk dengan kamera ponselku untuk mengambil beberapa momment indah itu. Tanpa sepengatahuan Ben, aku mencuri fotonya yang sedang bersandar di pintu mobilnya itu. Dia memang terlihat indah, sangat indah. Aku ikutan bersandar dimobilnya sambil melihat ke arah pelangi tersebut. Ben melakukan hal yang sama. Aku merasakan ada sesuatu yang dingin menyentuh jari-jariku, kemudian terasa semakin hangat, aku menoleh dan ternyata Ben menggenggam tanganku. Aku hanya mampu tersenyum menikmati sisa hari ini bersamanya.

"Thanks ya Ben!" ucapku didalam mobil ketika tiba di depan kontrakanku.
"Sama-sama" Katanya
"Kamu nggak mau mampir?" Tanyaku
"Nggak deh, ntar malem aku mesti ngiringin Vanny"
"Oh gitu, hati-hati ya Ben"
"Iya"
"Yaudah. Bye" Kataku sambil memncoba membuka pintu mobil yang ternyata tidak bisa dibuka.
"Kamu nggak mau semangatin aku?" Tanyanya
"Oh, semangat ya Ben!" Kataku, kemudian mencoba lagi membuka pintunya, Ben menarik tanganku, kemudian mencium keningku. Aku terpaku dengan kejadian ini dan aku mengerti sekarang.
"Oh. oke, semangat ya Ben!" Kataku mencium pipinya. Ben keluar membukakan pintu untukku.
"Thanks ya!" Ucapnya menggenggam tanganku.
"Ok. Thanks juga Ben!" Kataku kemudian dia masuk kembali ke mobilnya dan dia pun berlalu.


Memang hari ini aku tak melakukan hal bodoh, namun Ben muncul. Ben muncul sebentar dan seperti biasanya, dia menghilang. Aku mengucapkan selamat malam pada foto yang aku curi tadi, gaya cueknya yang selalu membuat aku jatuh cinta. Aku mengirimkan pesan terakhir hari ini "Gnite, Thanks dan semangat ya" yang kemudia hanya dibalas "Iya. Sama-sama. Thanks juga Khael :)". Lalu kembali seperti tak saling mengenal, kembali ke dunia Mikhaela dan dunia Benedict. Mikhaela yang cerewet dan Benedict yang pendiam. Tidak ada chat, tidak ada sapaan istimewa. Semuanya serba biasa, seperti biasanya.