Kamis, 29 Mei 2014

Indigo needs Indigo. Part I

Mungkin kalian akan bingung dengan ini. Kalian boleh bilang kasihan sama hidup gue yang absurd ini. Ini bukan cerita komedi ataupun horor, cuma kisah klasik, lagu lama, kaset kusut, roman picisan tentang anak muda, keluarga, cinta dan segala macam keanehannya.

Nama gue Velerie. Gue ceritain sedikit tentang fisik gue. Mata gue bulat tapi berukuran agak kecil, alis tebal, wajah oval, dagu panjang, hidung macung, rambut lurus panjang, badan tinggi dan ramping, kulit putih khas Asia, Secara fisik, gue cantik. Secara bokap gue turunan Jepang-Holand dan nyokap Inggris-Bali. Keluarga gue broken abis. Bokap gue tinggal di Amsterdam, Nyokap gue di London, Kakak laki-laki gue di Tokyo, Kakak perempuan gue di Jakarta dan gue tinggal di Bali sama tante gue tercinta.
Tante gue ini keturunan Bali-Inggris, gara-gara Nini (panggilan untuk Nenek dalam Bahasa Bali) menikah sama Bule yang mampir ke Bali, jadilah dia Grandpa (Panggilan untuk Kakek dalam bahasa Inggris, singkatan dari Grand Father) gue. Gue dipanggil Veli sama tante gue yang nggak bisa mengucapkan huruf R, dan dia gue panggil Aunty, so simple.

Ya udah, lupain aja soal keluarga gue. Gue seorang Indigo. Kaget? Biasa aja. Gue cuma anak biasa dengan kecerdasan tinggi, mampu melihat mahluk halus dan melihat masa depan. Di usia gue yang ke 14 tahun gue sudah lulus dari salah satu Sekolah Menengah Atas dengan nilai nyaris sempurna. Yang indigo bukan cuma gue. Tapi Aunty juga. Keturunan dari Nini katanya sih. Tapi yang gue bingungkan adalah kenapa gue yang Indigo? Kan seharusnya yang Indigo itu anaknya Aunty, secara Aunty juga Indigo. Tapi memang harus begitu kata Aunty. Suatu hari nanti juga kalau gue punya anak, kemungkinan besar anak gue nggak akan Indigo. Kalaupun iya, nggak akan sesempurna gue dan Aunty. Paling cuma Gifted (memiliki kecerdasan tinggi) atau Cenayang (mampu melihat masa depan dan mahluk halus), sedangkan gue dan Aunty adalah Talented (Memiliki kecerdasan tinggi, mampu melihat masa depan dan mahluk halus). Begitu sih menurut teori dari Aunty.

Hari ini adalah hari pertama gue jadi Mahasiswi. Gue pindah ke Jakarta sama Aunty. Oh iya, Aunty gue belum menikah, usianya sih udah 30 tahun dan sudah mapan. Pernah suatu hari gue bincang-bincang sama Aunty.
“Aunt, kenapa sih belum nikah?” Tanya gue ke Aunty yang lagi asik sama Laptopnya
“Belum nemu sayang” Katanya sambil tetap natap layarnya.
“Belum nemu gimana? Kemarin udah ada Uncle Randy yang mau sama Aunty” Kata gue lagi, kepo.
“Bukan dia yang Aunty cari” ucapnya lagi, santai.
“Terus yang Aunty cari yang kayak gimana emang? Ucle Randy, almost perfect” Kata gue ngedeketin Aunty, akhirnya Aunty meletakan laptopnya di meja. Lalu mengambil bantal sofa.
“Kamu tau dari mana Uncle Randy almost perfect?”
“Dari cara dia memperlakukan Aunty”
“Memang Randy sangat baik. Tapi bukan yang terbaik untuk Indigo seperti kita”
“Maksud Aunty?”
“Sini, Aunty ceritain sesuatu. Dulu, Aunty benci banget jadi Indigo. Semua anak Indigo pasti ngalamin ini. Dianggap aneh, sok dan sebagainya. Sama seperti kamu kan” Kata Aunty lalu menghela nafas sebentar.
“Iya, jadi Indigo emang nggak enak. Gak punya temen” kata gue, seolah bicara sama diri gue sendiri. Di Bali, hanya ada 2 orang yang benar-benar mau jadi temen gue. Lea (perempuan, keturunan Bali-Amerika) dan Keenan (laki-laki, keturunan Bali-Belanda). Tapi merekapun sekarang jarang main sama gue karena mereka masih sekolah dan gue sudah lulus.
“Dulu Nini pernah bilang sama Aunty, kalau Aunty bakalan ketemu sama jodoh Aunty di usia 17 tahun. Dan pria itu haruslah pria yang tidak bisa kita (Indigo) baca” kata Aunty meletakan bantal sofa lalu meneguk teh yang tadi gue bikinin.
“Maksudnya?” Tanya gue nggak ngerti
“Kata Nini, saat usia kita mencapai 17tahun, kemampuan kita akan bertambah satu, yaitu membaca pikiran orang lain. Jadi kita bisa tau apa yang ada di pikiran orang-orang tentang kita atau tentang orang lain” kata Aunty lagi lalu ngelap kaca matanya pakai tisu yang ada di meja.
“Dulu” lanjutnya “Aunty waktu mulai bisa baca pikiran orang, Aunty baca semua pikiran teman-teman Aunty dan Aunty benci ada dikelas itu karena semua orang memandang aneh Aunty. Sampai suatu hari ada anak baru bernama Hendri yang pikirannya nggak bisa Aunty baca, gerak-geriknya nggak terdeteksi dan ramalan tentang dia tertutup oleh gorden hitam besar” katanya lalu memakai lagi kaca matanya.
“Terus?”
“Karena Aunty benci Indigo, Aunty buang jauh-jauh pikiran tentang dia. Aunty selalu bilang 'saya bukan Indigo' tapi itu malah bikin Aunty stress dan minta sama Nini buat pindah kampus” katanya lalu menerawang keluar jendela “Seandainya waktu itu Aunty bertahan dikelas itu, dekat dengan Hendri, pastilah sekarang Aunty sudah menikah” Katanya lalu menepuk pundak gue “Nanti, kalau usia kamu sudah 17 tahun dan kamu menemukan pria yang pikirannya tidak bisa kamu baca, yakin itu pasti jodoh kamu” Kata Aunty, gue cuma senyum ngangguk-ngangguk lalu Aunty pergi bawa laptopnya.

Anyway, balik lagi dihari pertama gue jadi mahasiswi. Kakak perempuan gue yang di Jakarta pindah ke Washington, DC. Kayaknya emang keluarga gue itu nggak boleh tinggal disatu kota barengan gitu. Harus satu orang di kota yang berbeda. Gue masuk ke salah satu Universitas kenamaan di Jakarta, gampang buat gue ngelewatin semua tesnya. Hari pertama gue nih. I'm ready to go. Bermodalkan Mobil hitam muatan 4-5 orang yang elegan ini, kiriman dari Kakak Laki-laki gue di Tokyo sebagai hadiah ulang tahun yang ke-15, gue ready ke kampus. Gue nggak ikut ospek dengan jutaan alasan yang dibuat-buat. Aunty juga mendukung aksi nggak-ikut-ospek gue itu dengan cara meminta izin secara alangsung pada pihak kampus. Jakarta, beda banget sama Bali, ya jelaslah! Macet, ribet dan yang jelas, jarang ada pantai! Gue melaju dikecepatan normal. Gue sampai dikampus 30 menit sebelum mata kuliah pertama dimulai. Gue parkir disamping Honda Civic warna putih yang keliatan elegan juga. Gue keluar dari mobil gue dan menuju ruangan kelas. Gue udah memprediksi apa yang bakal terjadi hari ini. Bakalan cuma membosankan. Gue duduk di kursi ala anak kuliahan. Duduk di pojokan kelas yang mepet tembok. Sengaja. Didepan gue ada seorang cewek cantik. Dengan malu-malu dia ngajak gue kenalan.
“Hai. Gue Geny” katanya sambil mengulurkan tangan dia.
“Hai. Gue Velerie, panggil aja Veli” kata gue menjabat tangannya.
“Senang bisa kenalan sama lo Vel, semoga kita bisa jadi teman baik ya Vel”
“Iya. Gue juga berharap kayak gitu” ucap gue.

Gue dan Geny ngomongin banyak hal. Kita punya banyak kesamaan. Selera musik dan film. Gue langsung teringat sama gambar yang tiba-tiba gue gambar kemarin. Gue menggambar seorang wanita muda cantik berambut hitam ala orang Indonesia dan bermata sipit. Sepertinya itu bertanda bahwa Geny akan menjadi sahabat terbaik gue dikampus ini. Mungkin.


Hari-hari di kampus kerasa standar abis. Karena apa yang gue lakukan setiap harinya sudah muncul di mimpi gue. Nasib jadi anak Indigo. Bahkan kuis mendadak yang akan diadakan dosen aja ketebak sama gue. Otomatis setiap ada kuis mendadak, gue selalu dapet A. Geni adalah orang yang paling beruntung karena punya temen Indigo kayak gue. Setiap mau ada ujian mendadak gue selalu bilang sama dia. Jadi ya score dia nggak akan pernah sejelek score anak-anak lain dikelas. Karena ke-Indogoan gue ini, sekali lagi, gue dibenci sama temen-temen sekelas gue. Pertama karena gue selalu dapet nilai bagus. Kedua karena gue sering pasang muka aneh dan suka ngejerit kaget dan ngomong sendiri. Gue kayak gitu karena kadang gue ngeliat ada mahluk kampret dikelas. Dan kadang ada yang ngajakin gue ngobrol. Ajaib banget kan hidup gue?

Rabu, 21 Mei 2014

Malam Absurd bersama #SemF...

“Walaupun salah, nggak mau kalah” Statement kekanak-kanakan yang dulu kita buat. Halo sahabat-sahabat binatang gue. Halo Kufu-kufu, Halo Kodok, Halo Cicak, Halo Curut dan Halo Jangkrik. Kapan kita bikin film absurd lagi? Kapan kita bisa ketawa lepas kayak dulu lagi? Kapan?

Semalam kalian dengan agak sedikit memaksa ngajakin gue buat kumpul. Untungnya semalam kelas berakhir cepat, jadi gue bisa datang buat nemuin kalian. Kalian berada diatap rumah Kodok dan gue bersama Kufu-kufu yang jemput gue segera nyusul kalian yang lagi ada diatap. Dengan konyol saat gue udah ditangga menuju keatap kalian menyanyikan lagu “Happy Birthday” ngebawa sebuah Bolu lapis Surabaya dan sebuah lilin yang biasa digunakan untuk mati lampu ditengahnya. Gue tertawa dengan konyolnya, pasalnya “Ultah gue kan bukan hari ini”, mereka tertawa dan bicara “simbolis aja, mumpung kita lagi kumpul” kata Cicak yang megang kue Lapis Surabaya itu.

Kita semua duduk diatap rumah malam itu, meskipun tanpa bintang tapi tetap indah. Menikmati kue dan soda yang dicampur dengan susu. Mengobrol membabi buta, makan tanpa memikirkan berat badan dan tertawa tanpa memikirkan tetangga yang mungkin sudah tidur. Mengambil beberapa gambar sambil mendengarkan Hoobastank yang menyanyikan The Reason. Seketika hening. Keheningan malam yang khas dari rumah yang dikelilingi oleh kebun-kebun. Kita semua bisu beberapa entah berapa lama sampai pada akhirnya Pangerannya Curut yang memecahkan keheningan itu dengan lawakan singkatnya.

Lalu kita sibuk dengan gadget kita masing-masing. Hening. Hanya tetap Hoobastank dengan The Reasonnya yang memecahkan keheningan. Kufu-kufu, Cicak dan gue sibuk dengan blackberry masing-masing. Kodok dengan handphone yang menelepon pangerannya yang jauh disana dan Curut bercanda mesra ala ABG dengan pangerannya yang dia bawa. Sedangkan Jangkrik, tidak bisa hadir. Lalu gue ngerasa kalau kita kaku, entah kita atau hanya gue karena beberapa topik obrolan kalian masih mengenai “kumpul kemarin”. Memang, disetiap kalian ngajak gue untuk kumpul gue selalu yang paling nggak bisa. Alasan klasik “sibuk”. Karena gue harus menghabiskan pagi-sore di Pabrik, sore-malam di Kampus dan sabtu-minggu di Gereja, nyaris nggak punya waktu untuk memanjakan diri sendiri dan dihabiskan bersama orang-orang diluar Kampus dan Gereja.

Candaan kita masih tetap lucu, kekonyolan kita masih tetap sama. Tapi nggak tau kenapa gue ngerasa ketawa kita nggak lepas, ada sesuatu yang mengganjal. Gue kangen masa sekolah dulu, yang kita bisa ngebego bareng, rusuh bareng tanpa gue harus ngerasa kaku. Mungkin karena gue jarang kumpul sama kalian atau apa ya, gue nggak tau. Tapi gimanapun kalian adalah mata gue saat gue sekolah, kalian adalah guru yang mengajarkan sesuatu yang nggak pernah diajarin disekolah ataupun tempat les, kalian adalah orang-orang absurd yang selalu ada buat gue. Kalian tetap sahabat gue. Dan gue? Masih psikolog gagal kalian kan?


♥#SemF...