Senin, 17 November 2014

Selamat Ulang Tahun, Bye!

Dua tahun sudah berlalu. Dua tahun berakhirnya hubungan kita dimasa lalu. Aku hanya tiba-tiba terkenang masa itu. Bukan karena belum bisa melupakanmu, hanya, entahlah, terkenang saja begitu.

Teringat dengan jelas beberapa minggu sebelum hubungan kita berakhir. Hubungan kita sudah payah. Kamu tak pernah mencoba membalas pesanku. Kamu tak pernah mau mengangkat teleponku. Kamu yang selalu lari dari komentar di social media, kamu menghindari aku.

Dengan rasa yang disebut cinta yang masih tersisa, aku membuka laptop dan mencari foto kita. Dengan deraian air mata, aku menggabungkan beberapa foto kita. Aku bicara “yang, aku kangen” pada gambar dirimu yang kala itu menghiasi wallpaper laptopku. Aku kembali mengambil handphoneku, menghubungimu, namun sia-sia saja karena kamu tak mau mengangkat teleponku.

Aku pergi ke sebuah toko, lalu memberikan foto kita yang kemudian ditempelkan ke gelas. Itu adalah hadiah ulang tahun dariku untukmu. Dengan menahan air mata saat melihat kemesraan kita di gelas tersebut, aku membungkusnya.

Aku mengucapkan “selamat ulang tahun” untukmu sabtu pagi. Aku melihat di social media, sudah banyak foto-foto tentang ulang tahunmu. Kamu terlihat sangat ceria, bahagia. Aku menjerit dalam batinku “kamu senang ya banyak yang ngerayain ulang tahun kamu dan kamu senang karena nggak ada aku”. Aku kembali membuka laptopku, memutar video kacangan yang aku buat untuk kado ulang tahunmu. Tapi aku simpan saja karena aku tak yakin kau mau menyimpannya.

Minggu sorenya, aku meletakan kado yang sudah dibungkus itu diatas mimbar. “selamat ulang tahun ya yang” ucapku tanpa menatap mata indahmu. Aku berlalu, menundukan kepalaku, menahan air mataku. Tak lama kau mengirimkan pesan padaku “kamu mau ketemu aku nggak? Kalau mau turun, kalau nggak aku pulang”. Aku turun, karena aku rindu kamu.

Setelah bicara denganmu, kamupun pulang. Masih ada “yang, aku sudah sampai” kala itu. Tak lama kemudian, akhirnya kamu memutuskan kita. Dengan alasan bertele-telemu yang berputar-putar. Dengan alasan yang membuat kamu merasa tak kuat bersama aku karena kesalahanku, memang aku bukan wanita sempurna, bukan.

Bukannya aku tak tau bahwa diluar sana kau telah memiliki wanita baru. Muridmu, anak didikmu kala itu. Aku hanya sengaja menutup mataku karena sejujurnya aku tak ingin kita berakhir. Aku ingin kita tetap bersama walau kamu terasa sangat amat dingin. Pada kenyataannya aku seperti berdiri di tengah rel kereta, menunggu kereta menabrakku. Aku hanya menunggumu mengakhiri semuanya dan ketika semuanya berakhir, aku mati.


Selamat ulang tahun (mantan) yang terkasih. Selamat menikmati duniamu. Aku sudah move-on kok, hanya sedikit terkenang saja. Bye!

Selasa, 04 November 2014

Mungkin Kebetulan!

Gue tau kita baru kenal, tapi nggak tau kenapa gue ngerasa kita punya banyak kesamaan.

Manusia ini datang dari kota asalnya, merantau ke “Kota Seribu Pabrik”. Dia cantik saat pertama kali gue ngeliat dia. Dia diam dan selalu sibuk dengan gadgetnya. Awalnya gue kenalan sok manja unyu-unyu alay sama dia tapi kok sekarang gue nyesel kenalan sok manja unyu-unyu alay soalnya ternyata dia mahluk tersomplak sedunia.

Gue emang bukan manusia dalam jajaran 'temen deket' dia, gue nggak ngabisin banyak waktu buat belanja gaul dan kuliner wara-wiri sama dia. Gue hanya menghabiskan sedikit waktu untuk ngobrol dan bercerita sesuatu yang nggak penting.

Gue bukan manusia yang pandai basa-basi, begitu juga dia. Dia lebih suka sendirian karena dia ngerasa nggak perlu nyari topik obrolan supaya suasana nggak garing, gue kadang juga begitu. Imajinasi dia tinggi, sama. Dan kita lebih banyak temenan sama pria dari pada wanita.

Gue pernah pacaran sama anak pendeta yang somplak, dia juga. Dia pernah menjalin kasih dengan pria yang berbeda, gue juga. Dan si pria berbeda itu sama-sama pengangkat dari masa lalu kami, unik kan? Kami juga pernah ditaksir pria aneh yang sama. Bukan kebetulan.

Dan kami, mengagumi pria yang sama. Pria yang sama. Orang yang sama, satu tubuh, satu jiwa. Tapi pria itu lebih menyukainya dibanding gue. Entah kenapa, selera kita yang payah atau pria itu memang punya pesona. Tapi sekarang, pria itu mulai dilepaskan. Perbedaanya, dia yang menghindari pria itu sedangkan gue, pria itu yang mengindari gue. Ya, kalian bisa tau kan apa maksudnya. Yang lebih unik waktu kemarin gue ngobrol sama dia. Dia mengeluarkan sebutan “si cowok kurus” dan entah kebetulan atau nggak tapi gue pernah nyebut pria itu dengan sebutan “skinny boy”


Yeah, walaupun nggak deket-deket amat. Tapi dengan sedikit ngobrol sama dia, gue bisa rasa gue sama dia ada persamaan. Gue ngerasa kayak bercermin aja, ada ternyata orang yang beberapa sikapnya mirip dengan gue. Dunia ini lucu, kehidupan ini seru, gue makin penasaran sama apa yang bakal terjadi. Apa gue bakal nemu lagi orang yang sikapnya sama dengan gue? Have a sit and watch! Have a nice movie!~

Rabu, 10 September 2014

Another Little Sweet Momment

Hari ini gue janjian sama temen gue buat hunting foto di perkampungan yang nggak terlalu jauh dari kontrakan gue. Gue dianterin sama Merry sampai ke persimpangan ke arah kampung itu. Merry cuma nganterin doang abis itu dia langsung pergi ke kampus, ada urusan.

Merry adalah temen sekontrakan gue. Sebenernya namanya Maria, cuma gue lebih suka panggil dia Merry. Dia juga gitu, lebih suka manggil gue Mikhy padahal yang lain panggil gue Khael. Merry juga temen sekampus gue tapi beda jurusan. Gue temenan sama Merry dari TK, percaya nggak? Merry sekarang udah lumayan cerewet, nggak sependiem dulu, tapi sifat manjanya yang khas itu nggak berubah dari dulu.
“Sampai sini aja ya Mik, lo tinggal masuk aja ke gang itu, ikutin jalan aja terus, lo pasti bakal nemu sawah-sawah sama sungai dangkal yang keren. Happy hunting ya Mikhy!”
“Thanks ya Mer, lo hati-hati ya!”
“Iya. Eh by the way lo pulangnya gimana?”
“Nanti gue nebeng Devi aja pasti dia bawa motor”
“Oh, oke deh. Have fun ya! Bye”
“Bye Mer, take care!” Gue melambaikan tangan.

Gue masuk ke gang perkampungan itu. Ada pondok kecil yang terbuat dari bilik dan atapnya dari daun-daun gitu. Disitu ada ibu-ibu yang ngejagain pondok yang ternyata adalah warung kecil.
“Permisi bu” ucap gue sambil menundukan kepala tanda hormat
“Oh, iya neng” Kata si Ibu sambil melebarkan senyuman ikhlasnya, gue melanjutkan perjalanan.
Nggak jauh dari situ ada sebuah pos ronda yang disampingnya ada rumah yang terbuat dari triplek. Semua sisinya dipenuhi coretan grafiti yang sama sekali nggak rapih dan nggak nyeni. Ada dua bapak-bapak yang lagi ngopi sambil main catur.
“Permisi pak” ucap gue lagi seramah mungkin pada bapak-bapak itu.
“Mangga neng” (Mangga : Silahkan) jawab bapak-bapak itu sambil senyum ramah. Lalu gue melanjutkan perjalanan.

Nggak kerasa gue jalan udah lumayan jauh. Dan udah nemu sungai dangkal yang tadi Merry bilang. Asli, keren banget. Ada pohon besar dan ada bangku yang terbuat dari kayu. Gue duduk disitu lalu ngeluarin air minum dari tas yang sengaja gue bawa. Untung nggak terlalu panas karena emang udah sore juga. Gue duduk dan mencari handphone di tas gue, dan ternyata handphone gue ketinggalan. Gue lupa nyabut handphone dari chargerannya tadi. Astaga! Gimana caranya Devi tau posisi gue. Gue tetap duduk disitu sambil maki-maki diri gue sendiri. “Tolol!, Pelupa!”. Gue berdoa dalam hati supaya Devi tau gue ada disini sambil ngambil beberapa gambar sungai dan sawah yang asli, keren banget.
“Neng, ikut abang yuk” Tiba-tiba ada suara pria dari belakang gue dan gue kaget karena mukanya absurd dan rambutnya berantakan banget. Gue rasa dia itu orang gila deh. Dia duduk dibangku itu terus gue lari menjauhi dia.
“Awas lu ya kalau lewat sini, gue bunuh lu!” Kata dia sambil negluarin golok yang udah karatan. Asli gue takut banget.

Langit mulai berubah warna jadi jingga, tanda sebentar lagi matahari bakalan pindah ke belahan bumi bagian lain dan gue masih belum beranjak dari tempat gue berdiri menjauhi orang gila itu. Gue melangkah mendekati arah tadi dan orang gila itu masih disana. Dia ngeliat gue dan dia nimpukin gue pakai kerikil yang sukses kena jidat gue lalu meneteskan darah.
“Kampret!” umpat gue ngeliat darah yang menetes dan menimbulkan efek pusing.
“Dasar orang gila! Devi mana sih” Kata gue lagi, ngedumel sendiri dan nggak sadar netesin air mata karena takut + capek + pusing yang numpuk semua.

Jam di pergelangan tangan gue menunjukan 5:45. udah hampir dua jam gue disini dan nggak bisa pulang karena ada orang gila itu. Dan selama 105 menit gue disini nggak ada satupun penduduk asli yang lewat. Gue memutuskan untuk jalan ke arah yang lebih jauh dari orang gila itu, siapa tau gue menemukan jalan ke rumah salah satu penduduk. And thanks God banget gue ngedenger ada suara motor yang jalan ke arah gue, motor yang kayaknya gue kenal. Dan dia pun berhenti lalu buka kaca helmnya.
“Khael” kata dia pakai muka bingung
“Benedict? Ya Tuhan, aku seneng banget ketemu kamu” kata gue sambil meluk dia karena kesenengan
“Kamu ngapain kok bisa sampai ada disini?” kata Ben yang ternyata ngelus kepala gue.
“Aku nyasar” Kata gue mengakui malu-malu sambil ngelepasin pelukan gue.
“Nyasar? Kamu dari mana emang? Bahaya loh kamu jam segini ada disini”
“Iya, aku aja takut dari tadi. Aku dari kontrakan”
“Kalau kamu nyasar kenapa nggak minta jemput?”
“Aku nggak bawa handphone
“Sumpah ya kamu bodoh! Padahal dari sini kamu tinggal ikutin jalan, nanti belok kiri terus ketemu persimpangan tinggal naik ojek atau angkot bisa sampai kontrakan”
“Iya aku tau, tapi di dekat sungai sana ada orang gila. Dia ancem mau bunuh aku kalau lewat situ lagi”
“Hahaha. Orang gila? Serius kamu?”
“Serius, nih liat jidat aku berdarah gara-gara ditimpuk pakai kerikil sama orang gila itu”
“Hahaha. Orang gila ketemu orang bodoh. Ayo naik” kata Ben sambil terus ketawa dan gue naik ke motornya dengan pasrah.

“Kamu mau kemana emang Ben?”
“Aku mau ngiringin temen aku nyanyi”
“Dimana?”
“Di Melodic Mall, aku nggak bisa anter kamu sampai kontrakan loh. Aku harus udah ada disana jam setengah 7. Atau kamu mau ikut aku aja? Ada Raisa loh”
“Raisa? Aku ikut kamu”
“Tapi janji nggak akan ganggu aku ya?”
“Iya, fotoin kamu aja boleh ya?”
“Boleh kok. Pakai nih” Kata Ben memberikan helm warna pink ke gue.
“Kamu bawa helm pink?”
“Iya, tadi aku disuruh jemput Kezia tapi dia udah dijemput Papa. Kamu pakai aja”
“Ini kebetulan atau gimana ya?” Kata gue bingung
“Nggak ngerti, rencana Tuhan kali. Nggak tau kenapa juga tadi aku tiba-tiba pengen banget lewat sini” Kata Ben lalu menutup kaca helmnya. Ben mengendari motornya dengan cepat tapi hati-hati.

“Kita sampai” Kata Ben, lalu narik tangan gue ke salah satu ruangan.
“Hi Ben!” Kata perempuan cantik itu yang gue tebak adalah Vanny yang bakal diiringin sama Ben.
“Hi Van, gue belom telat kan yah?” Kata Ben duduk di kursi disebelah Vanny yang sedang dimake-up.
“Belom kok” Kata Vanny tanpa menoleh ke arah Ben.
“Van, kenalin itu Mikhaela, panggil aja Khael” Kata Ben yang kemudian membersihkan wajahnya
“Hi Vanny” sapa gue pada Vanny yang masih make-up
“Hi, Khael salam kenal ya” Sapanya dari kaca
“Dia gue bawa kesini nggak apa-apa kan, Van? Dia tuh korban kekerasan orang gila”
“Astaga” Kali ini Vanny nengok ke arah gue
“Jidat lo berdarah ya?” Kata Vanny ke gue
“Iya, ditimpuk orang gila”
“Ya ampun, ada-ada aja. Boy, tolong lukanya si Khael ditutupin ya. Biar gue nyisir rambut sendiri aja”
“Nggak apa-apa kok, cuma luka kecil aja” Kata gue berusaha ngelak
“Luka kecil harus ditutupin juga kali Khael, lo kan mau nonton konser gue” Kata Vanny sambil tertawa meledek gue. Akhirnya luka gue diplester sama si Boy-asisten Vanny yang kayak banci itu.

Vanny dan Ben keliatan serasi banget. Selalu kompak diatas panggung. Mereka berdua menjadi penampil diawal dan diakhir acara. Raisa, Tangga dan HiVi! adalah bintang tamu spesial pada acara HUT Melodic Mall yang ke-10. acaranya meriah banget, diadakan di Hall Tengah Mall tersebut. Dengan HTM 50ribu. Gue nonton gratis plus bisa foto sama semua bintang tamu. How lucky I am.
“Van, gue cabs ya!” Kata Ben mengambil tasnya di sofa putih di ruang make-up
“Oke, Ben, thanks ya. Lo main keren hari ini”
“Lo juga. Bye”
“Bye Ben, Bye Khael”
“Bye Vanny, makasih ya buat plester dan foto barengnya”
“Sama-sama, hati-hati ya Khael, Ben” Lalu gue melangkahkan kaki keluar dari ruang make-up tersebut

“Kamu laper?” Tanya Ben saat berjalan menjauhi ruang make-up
“Banget!”
“Sejak kapan?”
“Sejak dikejar orang gila tadi sore”
“Dasar bodoh! Kenapa nggak bilang? Kan aku bisa beliin kamu makanan kecil”
“Kan kamu bilang aku nggak boleh gangguin kamu”
“Bodoh!” Ben narik gue ke salah satu tempat makan.
“Kamu suka bakso kan?” kata Ben lalu memesan tanpa nanya gue mau makan apa. Gue dan Ben makan pesenannya Ben. Enak banget! Nggak salah si Ben pesen makanannya.

Setelah selesai makan gue dan Ben keluar dari Melodic Mall, dia ngajak gue ke Taman Kota yang lagi ngadain pesta kembang api yang keren banget. Gue duduk di rerumputan sambil makan bakpao coklat yang dibeliin Ben tanpa nanya dulu.
“Keren ya” Kata Ben yang memecahkan kesunyian diantara gue dan Ben lalu melepaskan sweaternya.
“Iya keren banget” Kata gue menyandarkan kepala di bahu Ben. Ben ngasih sweaternya buat gue pake tanpa bicara lalu ngelus kepala gue dan nggak sadar gue ketiduran sejenak.
Saat gue membuka mata gue liat jam di pergelangan tangan gue menunjukan 10:00 p.m. Udah malam ternyata, walaupun belum terlalu malam untuk anak-anak Kota. Ben cuma sibuk sama gadgetnya dan menyadari gue bangun.
“Pulang yuk” Kata Ben ke gue lalu masukin gadget kesayangannya itu ke tas.
“Yuk. Nih, sweater kamu”
“Pake aja dulu sampai kontrakan kamu” lalu Ben melangkahkan kaki duluan ke parkiran motor dan Taman Kota pun berlalu.

“Kamu nggak mau mampir dulu? Kayaknya sih ada Andre, ada motornya tuh” Tanya gue ke Ben yang kayaknya kedinginan karena emang cuaca lagi dingin banget.
“Nggak deh, udah malam juga”
“Yakin? Nggak mau minum coklat panas dulu?” Tanya gue sambil ngembaliin sweaternya. Ben cuma senyum sambil gelengin kepala.
“Aku pulang ya, takut dicariin mama” Kata Ben dengan nada sok manja sambil ngelus kepala gue.
“Yaudah. Salam ya buat mama. And thanks udah nganterin aku”
“Gitu doang?”
“Lah, terus?” Tanya gue bingung, Ben cuma senyum terus ketawa sedikit.
“Cepet sembuh ya” Kata Ben yang narik kepala gue lalu cium jidat gue yang diplaster. Gue bingung, gatau harus apa, seneng campur deg-degan.
“Aku pulang ya” Kata Ben yang mau pakai helmnya
“Ben”
“Ya”
“Thanks” kata gue nyium pipinya, malu-malu, Ben senyum lalu gue melambaikan tangan. Ben pun berlalu.

“Mikhy” Jerit Merry dari ruang tengah kontrakan gue yang lumayan beasar ini.
“Lo dari mana? Pulang sama siapa? Lo baik-baik aja kan? Jidat lo kenapa?”
“Sssst! Merry berisik ih. Gue baik-baik aja kok”
“Lo kemana aja? Kenapa handphone nggak dibawa? Devi tadi kesini dan gue kaget dia nggak sama lo. Gue sama Andre nyari ke perkampungan itu, lo nggak ada tapi gue nemu botol air lo ini. Gue khawatir banget Mikhy” kata Merry dengan gaya manjanya yang khas, terus meluk gue.
“Lo dianterin ya Khel? Apa naik ojek? Kayak ada suara motor berhenti tadi” Tanya Andre ke gue
“Iya gue dianterin sama Benedict”
“Ha? Ben? Dia nganterin lo? Terus dia mana?” Tanya Andre dengan wajah bingung campur lega karena gue pulang dengan selamat.
“Pulang, takut dicariin nyokap. Udah ya gue mau cuci muka dan tidur, bye” Kata gue lalu meninggalkan Merry dan Andre di ruang tengah.

Gue ambil handphone gue yang udah penuh sama notification dan juga missed call dari Devi, Andre dan Merry. Lalu gue nge-chat Ben.
“Ben”
“Ha?”
“Udah sampai kah?”
“Udah kok”
“Sekali lagi thanks ya Ben udah jadi Guardian Angel aku”
“Sama-sama Khael. Jangan bodoh lagi ya”
“Menurut kamu aku harus berubah?”
“Berubah aja sedikit. Jangan terlalu sering bodohnya. Bodohnya pas aku bisa nolongin kamu aja dari situasi yang kamu ciptakan atas kebodohan kamu. Ngerti kan?”
“Ngerti kok. Makasih ya orang pinter”
“Sama-sama. Kan nggak akan ada orang pinter tanpa adanya orang bodoh :) Gnite Mikhaela”
Gnite Benedict”

Chat berakhir dan berakhirlah kedekatan gue dan Benedict. Kembali seperti tak saling mengenal, kembali ke dunia Mikhaela dan dunia Benedict. Mikhaela yang cerewet dan Benedict yang pendiam. Tidak ada chat, tidak ada sapaan istimewa. Semuanya serba biasa, seperti biasanya.

Rabu, 04 Juni 2014

Selamat Ulang Tahun

Banyak kata-kata yang tak mampu kurangkai.
Mereka hanya berputar manis diotakku.
Tak mengerti maksudnya, merusak otak saja!

Dalam sepi aku terdiam, diam dalam sepi itu mudah.
Bagaimana caranya diam dikeramaian?

Orang-orang disekitarku tersenyum, aku juga.
Tersenyum dengan palsu, menggelikan.

Kutatap layar gadget, mengharap apa?
Apakah layar gadget mampu memberi ketenangan?

Teman-teman tertawa, aku juga.
Tawa kepalsuan, miris.

Baik, aku akan diam saja disini dengan bodoh.
Sambil menekan tombol lock-unlock digadget.
Mengharapkan sesuatu, mungkin tidak?
Lalu haripun berakhir dengan dua kata “tidak mungkin”.

Aku duduk diam lagi, berusaha meneteskan air dari mata.
Supaya wajahku terasa segar karena air, alasan.
Sayangnya air itu tak keluar, sudah tak mampu sepertinya.

Hanya seperti sesak yang tak mampu dihindari.
Kadang terasa kosong, sesekali hampa.

Kamis, 29 Mei 2014

Indigo needs Indigo. Part I

Mungkin kalian akan bingung dengan ini. Kalian boleh bilang kasihan sama hidup gue yang absurd ini. Ini bukan cerita komedi ataupun horor, cuma kisah klasik, lagu lama, kaset kusut, roman picisan tentang anak muda, keluarga, cinta dan segala macam keanehannya.

Nama gue Velerie. Gue ceritain sedikit tentang fisik gue. Mata gue bulat tapi berukuran agak kecil, alis tebal, wajah oval, dagu panjang, hidung macung, rambut lurus panjang, badan tinggi dan ramping, kulit putih khas Asia, Secara fisik, gue cantik. Secara bokap gue turunan Jepang-Holand dan nyokap Inggris-Bali. Keluarga gue broken abis. Bokap gue tinggal di Amsterdam, Nyokap gue di London, Kakak laki-laki gue di Tokyo, Kakak perempuan gue di Jakarta dan gue tinggal di Bali sama tante gue tercinta.
Tante gue ini keturunan Bali-Inggris, gara-gara Nini (panggilan untuk Nenek dalam Bahasa Bali) menikah sama Bule yang mampir ke Bali, jadilah dia Grandpa (Panggilan untuk Kakek dalam bahasa Inggris, singkatan dari Grand Father) gue. Gue dipanggil Veli sama tante gue yang nggak bisa mengucapkan huruf R, dan dia gue panggil Aunty, so simple.

Ya udah, lupain aja soal keluarga gue. Gue seorang Indigo. Kaget? Biasa aja. Gue cuma anak biasa dengan kecerdasan tinggi, mampu melihat mahluk halus dan melihat masa depan. Di usia gue yang ke 14 tahun gue sudah lulus dari salah satu Sekolah Menengah Atas dengan nilai nyaris sempurna. Yang indigo bukan cuma gue. Tapi Aunty juga. Keturunan dari Nini katanya sih. Tapi yang gue bingungkan adalah kenapa gue yang Indigo? Kan seharusnya yang Indigo itu anaknya Aunty, secara Aunty juga Indigo. Tapi memang harus begitu kata Aunty. Suatu hari nanti juga kalau gue punya anak, kemungkinan besar anak gue nggak akan Indigo. Kalaupun iya, nggak akan sesempurna gue dan Aunty. Paling cuma Gifted (memiliki kecerdasan tinggi) atau Cenayang (mampu melihat masa depan dan mahluk halus), sedangkan gue dan Aunty adalah Talented (Memiliki kecerdasan tinggi, mampu melihat masa depan dan mahluk halus). Begitu sih menurut teori dari Aunty.

Hari ini adalah hari pertama gue jadi Mahasiswi. Gue pindah ke Jakarta sama Aunty. Oh iya, Aunty gue belum menikah, usianya sih udah 30 tahun dan sudah mapan. Pernah suatu hari gue bincang-bincang sama Aunty.
“Aunt, kenapa sih belum nikah?” Tanya gue ke Aunty yang lagi asik sama Laptopnya
“Belum nemu sayang” Katanya sambil tetap natap layarnya.
“Belum nemu gimana? Kemarin udah ada Uncle Randy yang mau sama Aunty” Kata gue lagi, kepo.
“Bukan dia yang Aunty cari” ucapnya lagi, santai.
“Terus yang Aunty cari yang kayak gimana emang? Ucle Randy, almost perfect” Kata gue ngedeketin Aunty, akhirnya Aunty meletakan laptopnya di meja. Lalu mengambil bantal sofa.
“Kamu tau dari mana Uncle Randy almost perfect?”
“Dari cara dia memperlakukan Aunty”
“Memang Randy sangat baik. Tapi bukan yang terbaik untuk Indigo seperti kita”
“Maksud Aunty?”
“Sini, Aunty ceritain sesuatu. Dulu, Aunty benci banget jadi Indigo. Semua anak Indigo pasti ngalamin ini. Dianggap aneh, sok dan sebagainya. Sama seperti kamu kan” Kata Aunty lalu menghela nafas sebentar.
“Iya, jadi Indigo emang nggak enak. Gak punya temen” kata gue, seolah bicara sama diri gue sendiri. Di Bali, hanya ada 2 orang yang benar-benar mau jadi temen gue. Lea (perempuan, keturunan Bali-Amerika) dan Keenan (laki-laki, keturunan Bali-Belanda). Tapi merekapun sekarang jarang main sama gue karena mereka masih sekolah dan gue sudah lulus.
“Dulu Nini pernah bilang sama Aunty, kalau Aunty bakalan ketemu sama jodoh Aunty di usia 17 tahun. Dan pria itu haruslah pria yang tidak bisa kita (Indigo) baca” kata Aunty meletakan bantal sofa lalu meneguk teh yang tadi gue bikinin.
“Maksudnya?” Tanya gue nggak ngerti
“Kata Nini, saat usia kita mencapai 17tahun, kemampuan kita akan bertambah satu, yaitu membaca pikiran orang lain. Jadi kita bisa tau apa yang ada di pikiran orang-orang tentang kita atau tentang orang lain” kata Aunty lagi lalu ngelap kaca matanya pakai tisu yang ada di meja.
“Dulu” lanjutnya “Aunty waktu mulai bisa baca pikiran orang, Aunty baca semua pikiran teman-teman Aunty dan Aunty benci ada dikelas itu karena semua orang memandang aneh Aunty. Sampai suatu hari ada anak baru bernama Hendri yang pikirannya nggak bisa Aunty baca, gerak-geriknya nggak terdeteksi dan ramalan tentang dia tertutup oleh gorden hitam besar” katanya lalu memakai lagi kaca matanya.
“Terus?”
“Karena Aunty benci Indigo, Aunty buang jauh-jauh pikiran tentang dia. Aunty selalu bilang 'saya bukan Indigo' tapi itu malah bikin Aunty stress dan minta sama Nini buat pindah kampus” katanya lalu menerawang keluar jendela “Seandainya waktu itu Aunty bertahan dikelas itu, dekat dengan Hendri, pastilah sekarang Aunty sudah menikah” Katanya lalu menepuk pundak gue “Nanti, kalau usia kamu sudah 17 tahun dan kamu menemukan pria yang pikirannya tidak bisa kamu baca, yakin itu pasti jodoh kamu” Kata Aunty, gue cuma senyum ngangguk-ngangguk lalu Aunty pergi bawa laptopnya.

Anyway, balik lagi dihari pertama gue jadi mahasiswi. Kakak perempuan gue yang di Jakarta pindah ke Washington, DC. Kayaknya emang keluarga gue itu nggak boleh tinggal disatu kota barengan gitu. Harus satu orang di kota yang berbeda. Gue masuk ke salah satu Universitas kenamaan di Jakarta, gampang buat gue ngelewatin semua tesnya. Hari pertama gue nih. I'm ready to go. Bermodalkan Mobil hitam muatan 4-5 orang yang elegan ini, kiriman dari Kakak Laki-laki gue di Tokyo sebagai hadiah ulang tahun yang ke-15, gue ready ke kampus. Gue nggak ikut ospek dengan jutaan alasan yang dibuat-buat. Aunty juga mendukung aksi nggak-ikut-ospek gue itu dengan cara meminta izin secara alangsung pada pihak kampus. Jakarta, beda banget sama Bali, ya jelaslah! Macet, ribet dan yang jelas, jarang ada pantai! Gue melaju dikecepatan normal. Gue sampai dikampus 30 menit sebelum mata kuliah pertama dimulai. Gue parkir disamping Honda Civic warna putih yang keliatan elegan juga. Gue keluar dari mobil gue dan menuju ruangan kelas. Gue udah memprediksi apa yang bakal terjadi hari ini. Bakalan cuma membosankan. Gue duduk di kursi ala anak kuliahan. Duduk di pojokan kelas yang mepet tembok. Sengaja. Didepan gue ada seorang cewek cantik. Dengan malu-malu dia ngajak gue kenalan.
“Hai. Gue Geny” katanya sambil mengulurkan tangan dia.
“Hai. Gue Velerie, panggil aja Veli” kata gue menjabat tangannya.
“Senang bisa kenalan sama lo Vel, semoga kita bisa jadi teman baik ya Vel”
“Iya. Gue juga berharap kayak gitu” ucap gue.

Gue dan Geny ngomongin banyak hal. Kita punya banyak kesamaan. Selera musik dan film. Gue langsung teringat sama gambar yang tiba-tiba gue gambar kemarin. Gue menggambar seorang wanita muda cantik berambut hitam ala orang Indonesia dan bermata sipit. Sepertinya itu bertanda bahwa Geny akan menjadi sahabat terbaik gue dikampus ini. Mungkin.


Hari-hari di kampus kerasa standar abis. Karena apa yang gue lakukan setiap harinya sudah muncul di mimpi gue. Nasib jadi anak Indigo. Bahkan kuis mendadak yang akan diadakan dosen aja ketebak sama gue. Otomatis setiap ada kuis mendadak, gue selalu dapet A. Geni adalah orang yang paling beruntung karena punya temen Indigo kayak gue. Setiap mau ada ujian mendadak gue selalu bilang sama dia. Jadi ya score dia nggak akan pernah sejelek score anak-anak lain dikelas. Karena ke-Indogoan gue ini, sekali lagi, gue dibenci sama temen-temen sekelas gue. Pertama karena gue selalu dapet nilai bagus. Kedua karena gue sering pasang muka aneh dan suka ngejerit kaget dan ngomong sendiri. Gue kayak gitu karena kadang gue ngeliat ada mahluk kampret dikelas. Dan kadang ada yang ngajakin gue ngobrol. Ajaib banget kan hidup gue?

Rabu, 21 Mei 2014

Malam Absurd bersama #SemF...

“Walaupun salah, nggak mau kalah” Statement kekanak-kanakan yang dulu kita buat. Halo sahabat-sahabat binatang gue. Halo Kufu-kufu, Halo Kodok, Halo Cicak, Halo Curut dan Halo Jangkrik. Kapan kita bikin film absurd lagi? Kapan kita bisa ketawa lepas kayak dulu lagi? Kapan?

Semalam kalian dengan agak sedikit memaksa ngajakin gue buat kumpul. Untungnya semalam kelas berakhir cepat, jadi gue bisa datang buat nemuin kalian. Kalian berada diatap rumah Kodok dan gue bersama Kufu-kufu yang jemput gue segera nyusul kalian yang lagi ada diatap. Dengan konyol saat gue udah ditangga menuju keatap kalian menyanyikan lagu “Happy Birthday” ngebawa sebuah Bolu lapis Surabaya dan sebuah lilin yang biasa digunakan untuk mati lampu ditengahnya. Gue tertawa dengan konyolnya, pasalnya “Ultah gue kan bukan hari ini”, mereka tertawa dan bicara “simbolis aja, mumpung kita lagi kumpul” kata Cicak yang megang kue Lapis Surabaya itu.

Kita semua duduk diatap rumah malam itu, meskipun tanpa bintang tapi tetap indah. Menikmati kue dan soda yang dicampur dengan susu. Mengobrol membabi buta, makan tanpa memikirkan berat badan dan tertawa tanpa memikirkan tetangga yang mungkin sudah tidur. Mengambil beberapa gambar sambil mendengarkan Hoobastank yang menyanyikan The Reason. Seketika hening. Keheningan malam yang khas dari rumah yang dikelilingi oleh kebun-kebun. Kita semua bisu beberapa entah berapa lama sampai pada akhirnya Pangerannya Curut yang memecahkan keheningan itu dengan lawakan singkatnya.

Lalu kita sibuk dengan gadget kita masing-masing. Hening. Hanya tetap Hoobastank dengan The Reasonnya yang memecahkan keheningan. Kufu-kufu, Cicak dan gue sibuk dengan blackberry masing-masing. Kodok dengan handphone yang menelepon pangerannya yang jauh disana dan Curut bercanda mesra ala ABG dengan pangerannya yang dia bawa. Sedangkan Jangkrik, tidak bisa hadir. Lalu gue ngerasa kalau kita kaku, entah kita atau hanya gue karena beberapa topik obrolan kalian masih mengenai “kumpul kemarin”. Memang, disetiap kalian ngajak gue untuk kumpul gue selalu yang paling nggak bisa. Alasan klasik “sibuk”. Karena gue harus menghabiskan pagi-sore di Pabrik, sore-malam di Kampus dan sabtu-minggu di Gereja, nyaris nggak punya waktu untuk memanjakan diri sendiri dan dihabiskan bersama orang-orang diluar Kampus dan Gereja.

Candaan kita masih tetap lucu, kekonyolan kita masih tetap sama. Tapi nggak tau kenapa gue ngerasa ketawa kita nggak lepas, ada sesuatu yang mengganjal. Gue kangen masa sekolah dulu, yang kita bisa ngebego bareng, rusuh bareng tanpa gue harus ngerasa kaku. Mungkin karena gue jarang kumpul sama kalian atau apa ya, gue nggak tau. Tapi gimanapun kalian adalah mata gue saat gue sekolah, kalian adalah guru yang mengajarkan sesuatu yang nggak pernah diajarin disekolah ataupun tempat les, kalian adalah orang-orang absurd yang selalu ada buat gue. Kalian tetap sahabat gue. Dan gue? Masih psikolog gagal kalian kan?


♥#SemF...

Selasa, 28 Januari 2014

From this Momment's Story


From this momment life has began, from this momment you are the one” sepenggal lirik lagu dari Shania Twain-From this momment. Lagu yang berputar indah di Gereja sore itu, membuat hatiku bergetar dahsyat. Aku menari bersama lagu itu seraya meneteskan air mata. Terharu? Tidak mungkin. Sedih? Sepertinya iya, begitulah.

Dua tahun yang lalu aku menari bersama lagu ini, mengiringi kakaknya sahabatku yang menikah hari itu. Kakak itu memang benar-benar terlihat cantik dibalut gaun putih khas pengantin. Wajahnya merona berseri, mungkin efek blush-on. Ah, tapi tidak juga, dia memang sedang bahagia makanya air mukanya berbeda. Diujung sana kulihat sudah ada pria berdiri tegak, dengan pakaian serba putih juga, dialah pria beruntung yang akan menjadi suami kakak yang cantik ini. Aku dan kelima sahabatku menari mengantarkan kakak ini pada calon suaminya dan tibalah dia disana dan duduk bersama calon pendamping hidup selamanya lalu mengikuti ibadah pemberkatan pernikahan mereka.

“Hey, kau cantik sekali tadi” ucapmu, priaku.
“Ah masa? Biasa saja” ucapku dengan senyuman malu-malu.
“Tidak Miryamku sayang, kau memang cantik “ ucapnya menggodaku.
“Ah Reinhard kau membuatku malu” ucapku lalu memukulnya dengan lembut
“Tadi aku sempat membayangkan kau menggunakan gaun pengantin yang digunakan Kak Maria”
“Oh ya, lalu?”
“Lalu aku berdiri didepan mimbar sebagai Kak Yosep menunggumu” ucapnya tersenyum
“Ah, kau ini!” aku tersipu malu mendengarkan ucapnnya.

Aku menangis mengingat percakapan singkat kita yang manis itu, itu memang benar-benar manis. Kuangkat kepalaku lalu kuhapus air mataku dengan tissue dan ku poles wajahku dengan pelembab wajah dan foundation lalu aku tutupi bedak. Kurias wajahku secantik mungkin menutupi mata bengkakku yang sudah kelelahan menangis. Aku poles lagi blush-on di pipiku agar aku benar-benar terlihat cantik dan juga lebih berseri.

“Aku tak suka kau make-up berlebihan, aku lebih suka kau natural”
“Aku juga tak suka make-up berlebihan, itu merusak wajahku”
“Tapi aku suka melihatmu memakai lipstick warna pink itu, itu membuatmu terlihat lebih natural”
“Oh ya? Aku tak suka warnanya terlalu tipis”
“Aku pikir itu bagus. Tapi bagaimanapun, dengan atau tanpa make-up kau tetap Miryamku” ucapmu menatapku, tersenyum manis. Aku balas senyumanmu dengan senyumanku dan kau menggenggam tanganku di taman sore itu.

Kulempar lipstick berwarna pink itu, lagi-lagi aku teringat sepenggal percakapan kecil kita yang indah. Aku mengambil kembali lipstick itu dan memakainya sampai bibirku tertutup sempurna oleh warna pink dari lipstik tersebut. Aku menatap diriku dikaca dan mulai berkata “Maju Miryam, kau cantik kok” aku tersenyum pada bayanganku dikaca, tapi bayanganku dikaca malah menangis. Tak bisa ditutupi memang, aku sedih dan merindukanmu.

“Kenapa sih, rambutmu selalu kau ikat seperti ini”
“Kau tidak tau ya kalau Indonesia itu panas”
“Iya aku tau, tapi rubahlah sedikit penampilanmu”
“Kenapa? Kau mulai jenuh padaku?”
“Bukan begitu, tapi aku lebih suka kau begini” ucapmu sambil menarik tali rambutku.
“Reinhard” teriakku manja
“Diam. Aku hanya ingin memberitahumu betapa kau sangat cantik jika begini” ucapmu merapihkan rambutku disisi kanan dan kiri dan merapihkan poni tipisku, aku hanya terdiam menikmati setiap jarimu di rambutku
“Apa kubilang, kau cantik jika begini” ucapnya menarik daguku lalu mencium keningku.
“Terima Kasih, Reinhard” ucapku
I love you, Miryam” ucapmu manis
Me too, Reinhard” balasku menatapmu.

Kenangan itu kembali tergambar, aku ingat, di taman sore-sore. Kau merapihkan rambutku, sesuatu yang akhirnya jadi rutinitasmu tiap kali kau ingin melihat rambutku terurai. Aku menatap wajahku di cermin, eyeliner diatas kantung mataku luntur karena menangis, menutupi warna merona dipipiku. Rambutku telah aku ikat ekor kuda, aku hendak mencepolnya, tapi aku tarik kembali tali rambutku, kurapihkan poniku dan aku gunakan mahkota renda warna putih buatan temanku lalu merapihkan kembali make-up ku yang luntur. “Kau cantik Miryam, lipstick pink dan rambut teruraimu, kau sangat cantik” ucapku membanggakan diriku sendiri.

“Lihat kostum baruku” ucapku memamerkan kostum-kostum baruku
“Wah bagus-bagus”
Aku suka yang warna ungu ini, menurutmu bagaimana?”
“Kau pasti akan terlihat lebih cantik dengan warna peach ini. Lihat! Cocok sekali dengan warna kulitmu”

“Kau benar”
“Yang ini juga bagus, aku ingin saat menikah nanti, semua penari pengiring menggunakan yang putih ini” ucapmu tersenyum padaku, aku hanya membalas senyumanmu dengan senyumanku yang malu-malu.

Persiapanku selesai, aku turun bersama lima penari lainnya. Menggunakan kostum putih dengan rambut terurai beramahkota renda warna putih dan juga lipstick pink ku. “Kak Miryam cantik sekali” ucap seorang gadis mungil si penabur bunga padaku. “Terima Kasih Angelina” ucapku. Aku berbaris dibarisan depan bersama temanku, dua pasang penari lainnya berdiri berurutan dibelakangku dan temanku, pengantin kecil sudah siap dibelakang untuk menaburkan bunga agar meriah. Suara mobil berhenti didepan gereja, mobil pengantin. Pengantin wanita turun dari mobil dan aku tak bisa melihat wajahnya karena tidak dijinkan untuk menoleh kebelakang, aku harus fokus. Didepan mimbar sana, sudah ada sang pria yang menunggu si pengantin wanita, dialah pria beruntung yang mendapatkan wanita ini.

Lagu From This Momment-pun mengalun indah melalui pita suara seorang pemimpin pujian di gerejaku yang suaranya sangat halus, diiringi dentingan piano dan gesekan biola yang indah. Hatiku bergetar, sangat dahsyat, aku menahan perasaanku ini menahannya sangat keras “sebentar lagi berakhir” aku mendengar bisikan sejuk tanpa wujud, maka aku menahan butiran berlianku yang hampir saja menetes. Akhirnya sampai juga dihadapan sipengantin pria, tampan, sangat tampan dengan pakaian serba putih itu. Aku mempersembahkan wanita cantik ini padamu, Reinhard. Aku sudah tak kuasa menahan berlianku, jatuh sudah saat wanita itu lewat dihadapanku lalu tanganmu menggenggam tangannya. Mungkin orang kira aku terharu, bukan! Aku sedih, aku marah dan aku kecewa. Kau mengakhirinya begitu saja Reinhard, kau mengakhiri 3 tahun perjalanan kita, kau bilang kau akan menikahiku tahun ini tapi nyatanya yang kau genggam bukan tanganku. Bukan aku yang ada dibalutan gaun pengantin putih itu tapi wanita lain, wanita itu yang duduk disampingmu sekarang lalu mendengarkan khotbah tentang pernikahan, nyatanya bukan aku yang akan menemani hidupmu Reinhard tapi wanita itu. Aku kembali ke ruang ganti penari, menangis melihatmu duduk disana dengan wanita itu.

Kau datang sore itu, senyuman bahagia terpancar dari wajahmu, kau mengajakku ke taman tempat kita biasa menghabiskan waktu bersama. Kau membelikanku Ice Cream dan boneka Stich yang baru. Kau mengajaku makan, lalu kita mengambil foto bersama. Kubuka tasmu dan kau mengeluarkan benda itu, benda yang membunuhku, kenapa tak kau keluarkan saja pisau, golok atau apalah lalu tusuk aku dengan itu.
“Mir, aku akan menikah dengan Renina” kau mengeluarkan surat undangan berwarna ungu, warna kesukaanku. Aku tak menjawab hanya menumpakan air dari mataku, hujan turun sangat lebat.
“Mir, ayo pulang”
“Kau pulang saja duluan, aku bisa pulang pakai ojek”
“Mir, nanti kau basah, ayo ke mobil”
“Tidak Rein, kau saja!”
“Miryam!” teriakmu, sama seperti waktu kau meneriakiku untuk minum obat maagku.
“Pergilah Rein” ucapku mengusirmu
“Ayo Miryam, nanti kau sakit” ucapmu menarik tanganku
“Apa perdulimu jika aku sakit? Sekarang saja aku sedang sakit, kau tidak tau betapa sakitnya aku Reinhard!”
“Tapi kita kan sudah berakhir dan juga kau tau bahwa aku telah memiliki Renina”
“Iya aku tau, salahku memang belum bisa melupakanmu, makanya kau pergi saja biar aku bisa melupakanmu!”
“Miryam”
“Tak usah perdulikan aku Reinhard. Pergilah, toh sebentar lagi kau juga akan meninggalkanku selamanya”
“Miryam, aku perduli padamu”
“Mulai sekarang berhentilah memperdulikan aku Reinhard, dan aku akan belajar melupakanmu”
“Tapi kau akan menari kan dipernikahanku?” ucapnya menatapku, aku menatapnya rasanya aku memukulnya sekeras mungkin. Betapa jahatnya dia, aku sudah terluka seperti ini tapi dia masih memintaku menari di pernikahannya.
“Iya, aku akan menari” ucapku lalu memeluknya, berharap beban dihatiku hilang atau berharap Reinhard membatalkan pernikahnnya. Tapi itu tak mungkin.

“Selamat menempuh hidup baru Reinhard dan Renina” ucapan selamat yang datang bertubi-tubi kepada pasangan suami-istri yang baru ini.
Selamat Reinhardku sayang, walaupun sebenarnya kau belum benar-benar mengakhiri ini, tapi kau sudah memilih jalan hidupmu! Bahagialah kau! Kau harus bahagia, awas kalau tak bahagia. Aku akan menunggumu, mungkin tidak untuk sekarang tapi akan aku temukan kau dikehidupanku selanjutnya setelah Tuhan datang kembali. Aku mencintaimu, Reindhard~



cr. Maylan H. Saragih | @MaylanHandas