Rabu, 10 September 2014

Another Little Sweet Momment

Hari ini gue janjian sama temen gue buat hunting foto di perkampungan yang nggak terlalu jauh dari kontrakan gue. Gue dianterin sama Merry sampai ke persimpangan ke arah kampung itu. Merry cuma nganterin doang abis itu dia langsung pergi ke kampus, ada urusan.

Merry adalah temen sekontrakan gue. Sebenernya namanya Maria, cuma gue lebih suka panggil dia Merry. Dia juga gitu, lebih suka manggil gue Mikhy padahal yang lain panggil gue Khael. Merry juga temen sekampus gue tapi beda jurusan. Gue temenan sama Merry dari TK, percaya nggak? Merry sekarang udah lumayan cerewet, nggak sependiem dulu, tapi sifat manjanya yang khas itu nggak berubah dari dulu.
“Sampai sini aja ya Mik, lo tinggal masuk aja ke gang itu, ikutin jalan aja terus, lo pasti bakal nemu sawah-sawah sama sungai dangkal yang keren. Happy hunting ya Mikhy!”
“Thanks ya Mer, lo hati-hati ya!”
“Iya. Eh by the way lo pulangnya gimana?”
“Nanti gue nebeng Devi aja pasti dia bawa motor”
“Oh, oke deh. Have fun ya! Bye”
“Bye Mer, take care!” Gue melambaikan tangan.

Gue masuk ke gang perkampungan itu. Ada pondok kecil yang terbuat dari bilik dan atapnya dari daun-daun gitu. Disitu ada ibu-ibu yang ngejagain pondok yang ternyata adalah warung kecil.
“Permisi bu” ucap gue sambil menundukan kepala tanda hormat
“Oh, iya neng” Kata si Ibu sambil melebarkan senyuman ikhlasnya, gue melanjutkan perjalanan.
Nggak jauh dari situ ada sebuah pos ronda yang disampingnya ada rumah yang terbuat dari triplek. Semua sisinya dipenuhi coretan grafiti yang sama sekali nggak rapih dan nggak nyeni. Ada dua bapak-bapak yang lagi ngopi sambil main catur.
“Permisi pak” ucap gue lagi seramah mungkin pada bapak-bapak itu.
“Mangga neng” (Mangga : Silahkan) jawab bapak-bapak itu sambil senyum ramah. Lalu gue melanjutkan perjalanan.

Nggak kerasa gue jalan udah lumayan jauh. Dan udah nemu sungai dangkal yang tadi Merry bilang. Asli, keren banget. Ada pohon besar dan ada bangku yang terbuat dari kayu. Gue duduk disitu lalu ngeluarin air minum dari tas yang sengaja gue bawa. Untung nggak terlalu panas karena emang udah sore juga. Gue duduk dan mencari handphone di tas gue, dan ternyata handphone gue ketinggalan. Gue lupa nyabut handphone dari chargerannya tadi. Astaga! Gimana caranya Devi tau posisi gue. Gue tetap duduk disitu sambil maki-maki diri gue sendiri. “Tolol!, Pelupa!”. Gue berdoa dalam hati supaya Devi tau gue ada disini sambil ngambil beberapa gambar sungai dan sawah yang asli, keren banget.
“Neng, ikut abang yuk” Tiba-tiba ada suara pria dari belakang gue dan gue kaget karena mukanya absurd dan rambutnya berantakan banget. Gue rasa dia itu orang gila deh. Dia duduk dibangku itu terus gue lari menjauhi dia.
“Awas lu ya kalau lewat sini, gue bunuh lu!” Kata dia sambil negluarin golok yang udah karatan. Asli gue takut banget.

Langit mulai berubah warna jadi jingga, tanda sebentar lagi matahari bakalan pindah ke belahan bumi bagian lain dan gue masih belum beranjak dari tempat gue berdiri menjauhi orang gila itu. Gue melangkah mendekati arah tadi dan orang gila itu masih disana. Dia ngeliat gue dan dia nimpukin gue pakai kerikil yang sukses kena jidat gue lalu meneteskan darah.
“Kampret!” umpat gue ngeliat darah yang menetes dan menimbulkan efek pusing.
“Dasar orang gila! Devi mana sih” Kata gue lagi, ngedumel sendiri dan nggak sadar netesin air mata karena takut + capek + pusing yang numpuk semua.

Jam di pergelangan tangan gue menunjukan 5:45. udah hampir dua jam gue disini dan nggak bisa pulang karena ada orang gila itu. Dan selama 105 menit gue disini nggak ada satupun penduduk asli yang lewat. Gue memutuskan untuk jalan ke arah yang lebih jauh dari orang gila itu, siapa tau gue menemukan jalan ke rumah salah satu penduduk. And thanks God banget gue ngedenger ada suara motor yang jalan ke arah gue, motor yang kayaknya gue kenal. Dan dia pun berhenti lalu buka kaca helmnya.
“Khael” kata dia pakai muka bingung
“Benedict? Ya Tuhan, aku seneng banget ketemu kamu” kata gue sambil meluk dia karena kesenengan
“Kamu ngapain kok bisa sampai ada disini?” kata Ben yang ternyata ngelus kepala gue.
“Aku nyasar” Kata gue mengakui malu-malu sambil ngelepasin pelukan gue.
“Nyasar? Kamu dari mana emang? Bahaya loh kamu jam segini ada disini”
“Iya, aku aja takut dari tadi. Aku dari kontrakan”
“Kalau kamu nyasar kenapa nggak minta jemput?”
“Aku nggak bawa handphone
“Sumpah ya kamu bodoh! Padahal dari sini kamu tinggal ikutin jalan, nanti belok kiri terus ketemu persimpangan tinggal naik ojek atau angkot bisa sampai kontrakan”
“Iya aku tau, tapi di dekat sungai sana ada orang gila. Dia ancem mau bunuh aku kalau lewat situ lagi”
“Hahaha. Orang gila? Serius kamu?”
“Serius, nih liat jidat aku berdarah gara-gara ditimpuk pakai kerikil sama orang gila itu”
“Hahaha. Orang gila ketemu orang bodoh. Ayo naik” kata Ben sambil terus ketawa dan gue naik ke motornya dengan pasrah.

“Kamu mau kemana emang Ben?”
“Aku mau ngiringin temen aku nyanyi”
“Dimana?”
“Di Melodic Mall, aku nggak bisa anter kamu sampai kontrakan loh. Aku harus udah ada disana jam setengah 7. Atau kamu mau ikut aku aja? Ada Raisa loh”
“Raisa? Aku ikut kamu”
“Tapi janji nggak akan ganggu aku ya?”
“Iya, fotoin kamu aja boleh ya?”
“Boleh kok. Pakai nih” Kata Ben memberikan helm warna pink ke gue.
“Kamu bawa helm pink?”
“Iya, tadi aku disuruh jemput Kezia tapi dia udah dijemput Papa. Kamu pakai aja”
“Ini kebetulan atau gimana ya?” Kata gue bingung
“Nggak ngerti, rencana Tuhan kali. Nggak tau kenapa juga tadi aku tiba-tiba pengen banget lewat sini” Kata Ben lalu menutup kaca helmnya. Ben mengendari motornya dengan cepat tapi hati-hati.

“Kita sampai” Kata Ben, lalu narik tangan gue ke salah satu ruangan.
“Hi Ben!” Kata perempuan cantik itu yang gue tebak adalah Vanny yang bakal diiringin sama Ben.
“Hi Van, gue belom telat kan yah?” Kata Ben duduk di kursi disebelah Vanny yang sedang dimake-up.
“Belom kok” Kata Vanny tanpa menoleh ke arah Ben.
“Van, kenalin itu Mikhaela, panggil aja Khael” Kata Ben yang kemudian membersihkan wajahnya
“Hi Vanny” sapa gue pada Vanny yang masih make-up
“Hi, Khael salam kenal ya” Sapanya dari kaca
“Dia gue bawa kesini nggak apa-apa kan, Van? Dia tuh korban kekerasan orang gila”
“Astaga” Kali ini Vanny nengok ke arah gue
“Jidat lo berdarah ya?” Kata Vanny ke gue
“Iya, ditimpuk orang gila”
“Ya ampun, ada-ada aja. Boy, tolong lukanya si Khael ditutupin ya. Biar gue nyisir rambut sendiri aja”
“Nggak apa-apa kok, cuma luka kecil aja” Kata gue berusaha ngelak
“Luka kecil harus ditutupin juga kali Khael, lo kan mau nonton konser gue” Kata Vanny sambil tertawa meledek gue. Akhirnya luka gue diplester sama si Boy-asisten Vanny yang kayak banci itu.

Vanny dan Ben keliatan serasi banget. Selalu kompak diatas panggung. Mereka berdua menjadi penampil diawal dan diakhir acara. Raisa, Tangga dan HiVi! adalah bintang tamu spesial pada acara HUT Melodic Mall yang ke-10. acaranya meriah banget, diadakan di Hall Tengah Mall tersebut. Dengan HTM 50ribu. Gue nonton gratis plus bisa foto sama semua bintang tamu. How lucky I am.
“Van, gue cabs ya!” Kata Ben mengambil tasnya di sofa putih di ruang make-up
“Oke, Ben, thanks ya. Lo main keren hari ini”
“Lo juga. Bye”
“Bye Ben, Bye Khael”
“Bye Vanny, makasih ya buat plester dan foto barengnya”
“Sama-sama, hati-hati ya Khael, Ben” Lalu gue melangkahkan kaki keluar dari ruang make-up tersebut

“Kamu laper?” Tanya Ben saat berjalan menjauhi ruang make-up
“Banget!”
“Sejak kapan?”
“Sejak dikejar orang gila tadi sore”
“Dasar bodoh! Kenapa nggak bilang? Kan aku bisa beliin kamu makanan kecil”
“Kan kamu bilang aku nggak boleh gangguin kamu”
“Bodoh!” Ben narik gue ke salah satu tempat makan.
“Kamu suka bakso kan?” kata Ben lalu memesan tanpa nanya gue mau makan apa. Gue dan Ben makan pesenannya Ben. Enak banget! Nggak salah si Ben pesen makanannya.

Setelah selesai makan gue dan Ben keluar dari Melodic Mall, dia ngajak gue ke Taman Kota yang lagi ngadain pesta kembang api yang keren banget. Gue duduk di rerumputan sambil makan bakpao coklat yang dibeliin Ben tanpa nanya dulu.
“Keren ya” Kata Ben yang memecahkan kesunyian diantara gue dan Ben lalu melepaskan sweaternya.
“Iya keren banget” Kata gue menyandarkan kepala di bahu Ben. Ben ngasih sweaternya buat gue pake tanpa bicara lalu ngelus kepala gue dan nggak sadar gue ketiduran sejenak.
Saat gue membuka mata gue liat jam di pergelangan tangan gue menunjukan 10:00 p.m. Udah malam ternyata, walaupun belum terlalu malam untuk anak-anak Kota. Ben cuma sibuk sama gadgetnya dan menyadari gue bangun.
“Pulang yuk” Kata Ben ke gue lalu masukin gadget kesayangannya itu ke tas.
“Yuk. Nih, sweater kamu”
“Pake aja dulu sampai kontrakan kamu” lalu Ben melangkahkan kaki duluan ke parkiran motor dan Taman Kota pun berlalu.

“Kamu nggak mau mampir dulu? Kayaknya sih ada Andre, ada motornya tuh” Tanya gue ke Ben yang kayaknya kedinginan karena emang cuaca lagi dingin banget.
“Nggak deh, udah malam juga”
“Yakin? Nggak mau minum coklat panas dulu?” Tanya gue sambil ngembaliin sweaternya. Ben cuma senyum sambil gelengin kepala.
“Aku pulang ya, takut dicariin mama” Kata Ben dengan nada sok manja sambil ngelus kepala gue.
“Yaudah. Salam ya buat mama. And thanks udah nganterin aku”
“Gitu doang?”
“Lah, terus?” Tanya gue bingung, Ben cuma senyum terus ketawa sedikit.
“Cepet sembuh ya” Kata Ben yang narik kepala gue lalu cium jidat gue yang diplaster. Gue bingung, gatau harus apa, seneng campur deg-degan.
“Aku pulang ya” Kata Ben yang mau pakai helmnya
“Ben”
“Ya”
“Thanks” kata gue nyium pipinya, malu-malu, Ben senyum lalu gue melambaikan tangan. Ben pun berlalu.

“Mikhy” Jerit Merry dari ruang tengah kontrakan gue yang lumayan beasar ini.
“Lo dari mana? Pulang sama siapa? Lo baik-baik aja kan? Jidat lo kenapa?”
“Sssst! Merry berisik ih. Gue baik-baik aja kok”
“Lo kemana aja? Kenapa handphone nggak dibawa? Devi tadi kesini dan gue kaget dia nggak sama lo. Gue sama Andre nyari ke perkampungan itu, lo nggak ada tapi gue nemu botol air lo ini. Gue khawatir banget Mikhy” kata Merry dengan gaya manjanya yang khas, terus meluk gue.
“Lo dianterin ya Khel? Apa naik ojek? Kayak ada suara motor berhenti tadi” Tanya Andre ke gue
“Iya gue dianterin sama Benedict”
“Ha? Ben? Dia nganterin lo? Terus dia mana?” Tanya Andre dengan wajah bingung campur lega karena gue pulang dengan selamat.
“Pulang, takut dicariin nyokap. Udah ya gue mau cuci muka dan tidur, bye” Kata gue lalu meninggalkan Merry dan Andre di ruang tengah.

Gue ambil handphone gue yang udah penuh sama notification dan juga missed call dari Devi, Andre dan Merry. Lalu gue nge-chat Ben.
“Ben”
“Ha?”
“Udah sampai kah?”
“Udah kok”
“Sekali lagi thanks ya Ben udah jadi Guardian Angel aku”
“Sama-sama Khael. Jangan bodoh lagi ya”
“Menurut kamu aku harus berubah?”
“Berubah aja sedikit. Jangan terlalu sering bodohnya. Bodohnya pas aku bisa nolongin kamu aja dari situasi yang kamu ciptakan atas kebodohan kamu. Ngerti kan?”
“Ngerti kok. Makasih ya orang pinter”
“Sama-sama. Kan nggak akan ada orang pinter tanpa adanya orang bodoh :) Gnite Mikhaela”
Gnite Benedict”

Chat berakhir dan berakhirlah kedekatan gue dan Benedict. Kembali seperti tak saling mengenal, kembali ke dunia Mikhaela dan dunia Benedict. Mikhaela yang cerewet dan Benedict yang pendiam. Tidak ada chat, tidak ada sapaan istimewa. Semuanya serba biasa, seperti biasanya.