Dua tahun sudah berlalu. Dua tahun
berakhirnya hubungan kita dimasa lalu. Aku hanya tiba-tiba terkenang
masa itu. Bukan karena belum bisa melupakanmu, hanya, entahlah,
terkenang saja begitu.
Teringat dengan jelas beberapa minggu
sebelum hubungan kita berakhir. Hubungan kita sudah payah. Kamu tak
pernah mencoba membalas pesanku. Kamu tak pernah mau mengangkat
teleponku. Kamu yang selalu lari dari komentar di social media, kamu
menghindari aku.
Dengan rasa yang disebut cinta yang
masih tersisa, aku membuka laptop dan mencari foto kita. Dengan
deraian air mata, aku menggabungkan beberapa foto kita. Aku bicara
“yang, aku kangen” pada gambar dirimu yang kala itu menghiasi
wallpaper laptopku. Aku kembali mengambil handphoneku, menghubungimu,
namun sia-sia saja karena kamu tak mau mengangkat teleponku.
Aku pergi ke sebuah toko, lalu
memberikan foto kita yang kemudian ditempelkan ke gelas. Itu adalah
hadiah ulang tahun dariku untukmu. Dengan menahan air mata saat
melihat kemesraan kita di gelas tersebut, aku membungkusnya.
Aku mengucapkan “selamat ulang tahun”
untukmu sabtu pagi. Aku melihat di social media, sudah banyak
foto-foto tentang ulang tahunmu. Kamu terlihat sangat ceria, bahagia.
Aku menjerit dalam batinku “kamu senang ya banyak yang ngerayain
ulang tahun kamu dan kamu senang karena nggak ada aku”. Aku kembali
membuka laptopku, memutar video kacangan yang aku buat untuk kado
ulang tahunmu. Tapi aku simpan saja karena aku tak yakin kau mau
menyimpannya.
Minggu sorenya, aku meletakan kado yang
sudah dibungkus itu diatas mimbar. “selamat ulang tahun ya yang”
ucapku tanpa menatap mata indahmu. Aku berlalu, menundukan kepalaku,
menahan air mataku. Tak lama kau mengirimkan pesan padaku “kamu mau
ketemu aku nggak? Kalau mau turun, kalau nggak aku pulang”. Aku
turun, karena aku rindu kamu.
Setelah bicara denganmu, kamupun
pulang. Masih ada “yang, aku sudah sampai” kala itu. Tak lama
kemudian, akhirnya kamu memutuskan kita. Dengan alasan bertele-telemu
yang berputar-putar. Dengan alasan yang membuat kamu merasa tak kuat
bersama aku karena kesalahanku, memang aku bukan wanita sempurna,
bukan.
Bukannya aku tak tau bahwa diluar sana
kau telah memiliki wanita baru. Muridmu, anak didikmu kala itu. Aku
hanya sengaja menutup mataku karena sejujurnya aku tak ingin kita
berakhir. Aku ingin kita tetap bersama walau kamu terasa sangat amat
dingin. Pada kenyataannya aku seperti berdiri di tengah rel kereta,
menunggu kereta menabrakku. Aku hanya menunggumu mengakhiri semuanya
dan ketika semuanya berakhir, aku mati.
Selamat ulang tahun (mantan) yang
terkasih. Selamat menikmati duniamu. Aku sudah move-on kok, hanya
sedikit terkenang saja. Bye!