“From
this momment life has began, from this momment you are the one”
sepenggal lirik lagu dari Shania Twain-From this momment. Lagu yang
berputar indah di Gereja sore itu, membuat hatiku bergetar dahsyat.
Aku menari bersama lagu itu seraya meneteskan air mata. Terharu?
Tidak mungkin. Sedih? Sepertinya iya, begitulah.
Dua
tahun yang lalu aku menari bersama lagu ini, mengiringi kakaknya
sahabatku yang menikah hari itu. Kakak itu memang benar-benar
terlihat cantik dibalut gaun putih khas pengantin. Wajahnya merona
berseri, mungkin efek blush-on. Ah, tapi tidak juga, dia memang
sedang bahagia makanya air mukanya berbeda. Diujung sana kulihat
sudah ada pria berdiri tegak, dengan pakaian serba putih juga, dialah
pria beruntung yang akan menjadi suami kakak yang cantik ini. Aku dan
kelima sahabatku menari mengantarkan kakak ini pada calon suaminya
dan tibalah dia disana dan duduk bersama calon pendamping hidup
selamanya lalu mengikuti ibadah pemberkatan pernikahan mereka.
“Hey,
kau cantik sekali tadi” ucapmu, priaku.
“Ah
masa? Biasa saja” ucapku dengan senyuman malu-malu.
“Tidak
Miryamku sayang, kau memang cantik “ ucapnya menggodaku.
“Ah
Reinhard kau membuatku malu” ucapku lalu memukulnya dengan lembut
“Tadi
aku sempat membayangkan kau menggunakan gaun pengantin yang digunakan
Kak Maria”
“Oh
ya, lalu?”
“Lalu
aku berdiri didepan mimbar sebagai Kak Yosep menunggumu” ucapnya
tersenyum
“Ah,
kau ini!” aku tersipu malu mendengarkan ucapnnya.
Aku
menangis mengingat percakapan singkat kita yang manis itu, itu memang
benar-benar manis. Kuangkat kepalaku lalu kuhapus air mataku dengan
tissue dan ku poles wajahku dengan pelembab wajah dan
foundation lalu aku tutupi bedak. Kurias wajahku secantik
mungkin menutupi mata bengkakku yang sudah kelelahan menangis. Aku
poles lagi blush-on di pipiku agar aku benar-benar terlihat
cantik dan juga lebih berseri.
“Aku
tak suka kau make-up berlebihan, aku lebih suka kau natural”
“Aku
juga tak suka make-up berlebihan, itu merusak wajahku”
“Tapi
aku suka melihatmu memakai lipstick warna pink itu, itu
membuatmu terlihat lebih natural”
“Oh
ya? Aku tak suka warnanya terlalu tipis”
“Aku
pikir itu bagus. Tapi bagaimanapun, dengan atau tanpa make-up
kau tetap Miryamku” ucapmu menatapku, tersenyum manis. Aku balas
senyumanmu dengan senyumanku dan kau menggenggam tanganku di taman
sore itu.
Kulempar
lipstick berwarna pink itu, lagi-lagi aku teringat
sepenggal percakapan kecil kita yang indah. Aku mengambil kembali
lipstick itu dan memakainya sampai bibirku tertutup sempurna
oleh warna pink dari lipstik tersebut. Aku menatap
diriku dikaca dan mulai berkata “Maju Miryam, kau cantik kok” aku
tersenyum pada bayanganku dikaca, tapi bayanganku dikaca malah
menangis. Tak bisa ditutupi memang, aku sedih dan merindukanmu.
“Kenapa
sih, rambutmu selalu kau ikat seperti ini”
“Kau
tidak tau ya kalau Indonesia itu panas”
“Iya
aku tau, tapi rubahlah sedikit penampilanmu”
“Kenapa?
Kau mulai jenuh padaku?”
“Bukan
begitu, tapi aku lebih suka kau begini” ucapmu sambil menarik tali
rambutku.
“Reinhard”
teriakku manja
“Diam.
Aku hanya ingin memberitahumu betapa kau sangat cantik jika begini”
ucapmu merapihkan rambutku disisi kanan dan kiri dan merapihkan poni
tipisku, aku hanya terdiam menikmati setiap jarimu di rambutku
“Apa
kubilang, kau cantik jika begini” ucapnya menarik daguku lalu
mencium keningku.
“Terima
Kasih, Reinhard” ucapku
“I
love you, Miryam” ucapmu manis
“Me
too, Reinhard” balasku menatapmu.
Kenangan
itu kembali tergambar, aku ingat, di taman sore-sore. Kau merapihkan
rambutku, sesuatu yang akhirnya jadi rutinitasmu tiap kali kau ingin
melihat rambutku terurai. Aku menatap wajahku di cermin, eyeliner
diatas kantung mataku luntur karena menangis, menutupi warna merona
dipipiku. Rambutku telah aku ikat ekor kuda, aku hendak mencepolnya,
tapi aku tarik kembali tali rambutku, kurapihkan poniku dan aku
gunakan mahkota renda warna putih buatan temanku lalu merapihkan
kembali make-up ku yang luntur. “Kau cantik Miryam, lipstick
pink dan rambut teruraimu, kau sangat cantik” ucapku
membanggakan diriku sendiri.
“Lihat
kostum baruku” ucapku memamerkan kostum-kostum baruku
“Wah
bagus-bagus”
“Aku
suka yang warna ungu ini, menurutmu bagaimana?”
“Kau pasti
akan terlihat lebih cantik dengan warna peach ini. Lihat!
Cocok sekali dengan warna kulitmu”
“Kau
benar”
“Yang
ini juga bagus, aku ingin saat menikah nanti, semua penari pengiring
menggunakan yang putih ini” ucapmu tersenyum padaku, aku hanya
membalas senyumanmu dengan senyumanku yang malu-malu.
Persiapanku
selesai, aku turun bersama lima penari lainnya. Menggunakan kostum
putih dengan rambut terurai beramahkota renda warna putih dan juga
lipstick pink ku. “Kak Miryam cantik sekali” ucap seorang
gadis mungil si penabur bunga padaku. “Terima Kasih Angelina”
ucapku. Aku berbaris dibarisan depan bersama temanku, dua pasang
penari lainnya berdiri berurutan dibelakangku dan temanku, pengantin
kecil sudah siap dibelakang untuk menaburkan bunga agar meriah. Suara
mobil berhenti didepan gereja, mobil pengantin. Pengantin wanita
turun dari mobil dan aku tak bisa melihat wajahnya karena tidak
dijinkan untuk menoleh kebelakang, aku harus fokus. Didepan mimbar
sana, sudah ada sang pria yang menunggu si pengantin wanita, dialah
pria beruntung yang mendapatkan wanita ini.
Lagu
From This Momment-pun mengalun indah melalui pita suara
seorang pemimpin pujian di gerejaku yang suaranya sangat halus,
diiringi dentingan piano dan gesekan biola yang indah. Hatiku
bergetar, sangat dahsyat, aku menahan perasaanku ini menahannya
sangat keras “sebentar lagi berakhir” aku mendengar bisikan sejuk
tanpa wujud, maka aku menahan butiran berlianku yang hampir saja
menetes. Akhirnya sampai juga dihadapan sipengantin pria, tampan,
sangat tampan dengan pakaian serba putih itu. Aku mempersembahkan
wanita cantik ini padamu, Reinhard. Aku sudah tak kuasa menahan
berlianku, jatuh sudah saat wanita itu lewat dihadapanku lalu
tanganmu menggenggam tangannya. Mungkin orang kira aku terharu,
bukan! Aku sedih, aku marah dan aku kecewa. Kau mengakhirinya begitu
saja Reinhard, kau mengakhiri 3 tahun perjalanan kita, kau bilang kau
akan menikahiku tahun ini tapi nyatanya yang kau genggam bukan
tanganku. Bukan aku yang ada dibalutan gaun pengantin putih itu tapi
wanita lain, wanita itu yang duduk disampingmu sekarang lalu
mendengarkan khotbah tentang pernikahan, nyatanya bukan aku yang akan
menemani hidupmu Reinhard tapi wanita itu. Aku kembali ke ruang ganti
penari, menangis melihatmu duduk disana dengan wanita itu.
Kau
datang sore itu, senyuman bahagia terpancar dari wajahmu, kau
mengajakku ke taman tempat kita biasa menghabiskan waktu bersama. Kau
membelikanku Ice Cream dan boneka Stich yang baru. Kau
mengajaku makan, lalu kita mengambil foto bersama. Kubuka tasmu dan
kau mengeluarkan benda itu, benda yang membunuhku, kenapa tak kau
keluarkan saja pisau, golok atau apalah lalu tusuk aku dengan itu.
“Mir,
aku akan menikah dengan Renina” kau mengeluarkan surat undangan
berwarna ungu, warna kesukaanku. Aku tak menjawab hanya menumpakan
air dari mataku, hujan turun sangat lebat.
“Mir,
ayo pulang”
“Kau
pulang saja duluan, aku bisa pulang pakai ojek”
“Mir,
nanti kau basah, ayo ke mobil”
“Tidak
Rein, kau saja!”
“Miryam!”
teriakmu, sama seperti waktu kau meneriakiku untuk minum obat maagku.
“Pergilah
Rein” ucapku mengusirmu
“Ayo
Miryam, nanti kau sakit” ucapmu menarik tanganku
“Apa
perdulimu jika aku sakit? Sekarang saja aku sedang sakit, kau tidak
tau betapa sakitnya aku Reinhard!”
“Tapi
kita kan sudah berakhir dan juga kau tau bahwa aku telah memiliki
Renina”
“Iya
aku tau, salahku memang belum bisa melupakanmu, makanya kau pergi
saja biar aku bisa melupakanmu!”
“Miryam”
“Tak
usah perdulikan aku Reinhard. Pergilah, toh sebentar lagi kau juga
akan meninggalkanku selamanya”
“Miryam,
aku perduli padamu”
“Mulai
sekarang berhentilah memperdulikan aku Reinhard, dan aku akan belajar
melupakanmu”
“Tapi
kau akan menari kan dipernikahanku?” ucapnya menatapku, aku
menatapnya rasanya aku memukulnya sekeras mungkin. Betapa jahatnya
dia, aku sudah terluka seperti ini tapi dia masih memintaku menari di
pernikahannya.
“Iya,
aku akan menari” ucapku lalu memeluknya, berharap beban dihatiku
hilang atau berharap Reinhard membatalkan pernikahnnya. Tapi itu tak
mungkin.
“Selamat
menempuh hidup baru Reinhard dan Renina” ucapan selamat yang datang
bertubi-tubi kepada pasangan suami-istri yang baru ini.
Selamat
Reinhardku sayang, walaupun sebenarnya kau belum benar-benar
mengakhiri ini, tapi kau sudah memilih jalan hidupmu! Bahagialah kau!
Kau harus bahagia, awas kalau tak bahagia. Aku akan menunggumu,
mungkin tidak untuk sekarang tapi akan aku temukan kau dikehidupanku
selanjutnya setelah Tuhan datang kembali. Aku mencintaimu, Reindhard~
cr.
Maylan H. Saragih | @MaylanHandas
