“Hei,
menikahlah denganku” Dia mengeluarkan sebuah cincin berlian yang
sangat indah, aku tahu itu pasti sangat mahal.
“kenapa
kau selalu menolakku? Aku memiliki semua yang kau mau” ucapnya
menyombongkan dirinya
“Aku
tidak mencintamu, Antonius” ucapku
“Aku
tak perduli kau mencintaiku atau tidak, tapi akan ku pastikan bahwa
kau akan menjadi istriku” ucapnya dengan percaya diri
“Siapa
bilang? Aku tidak akan pernah mau menjadi istrimu Antonius”
“Mengapa
kau menolak menjadi istriku, huh? Karena pria bodoh itu?”
“Felix
tidak bodoh Antonius, jaga ucapanmu!”
“teruslah
kau bela pria itu, dia tak akan menikahimu sampai kapanpun”
“Apa
maksud ucapanmu?”
“kau
akan tau segera” Dia menarik tanganku dan mengajakku masuk ke
mobilnya.
Setelah
hampir 1 jam akhirnya aku tiba dirumah.
“Terimakasih
telah mengantarkanku pulang” Aku melepas seatbelt, Anton
melakukan hal yang sama
“Apa
yang kau lakukan?”
“Aku
mau turun, kenapa?”
“Kau
tak perlu mengantarku sampai ke dalam”
“Orang
tua ku ada di dalam, ayo cepat turun”
“Apa
kau bilang? Apa yang orang tuamu lakukan di rumahku?”
“Nanti
juga kau tau, cepat turun”
Aku
bergegas turun ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Saat aku
masuk orang tuaku dan orang tua Anton menyambutku dengan ramah
“Hai
sayang, kau sudah pulang?”
“Kenapa
rumah kita ramai begini ma?”
“Tenanglah,
ayo duduk” aku menuruti perintah mamaku
“Ini
orang tua Anton, mereka datang kemari untuk memintamu menikah dengan
Anton”
“Apa?”
Aku terkejut, pedih sekali mendengar hal tersebut rasanya aku ingin
menangis. Dan disana ku lihat Anton tersenyum menang, senyumnya yang
paling ku benci
“Ada
apa? Kau mencintai Anton kan sayang?” tanya mama menatapku penuh
harapan
“Aku
hanya terkejut ma, tentu aku mencintai Anton” Tersenyum pahit
dihadapan mama dan mencoba tegar menahan air mataku dihadapan mama.
“Kau
baik-baik saja kan sayang?” Ucap mama lagi
“Aku
baik-baik saja ma” Aku tersenyum lagi dihadapan mama, senyum yang
bukan dari hatiku
“Baiklah
acara adat pernikahan akan dilaksanakan besok, jadi siapkan dirimu ya
cantik” ucap mama Anton yang terlihat sangat gembira. Aku mengajak
Anton keluar
“Apa
maksudmu dengan semua ini?”
“Kan
tadi aku sudah bilang, bagaimanapun kau pasti akan menjadi istriku.
Aku tau kau menyayangi orang tuamu dan kau tak mau mereka kecewa kan?
Satu-satunya cara membahagiakan mereka adalah menikah denganku”
“Kau
gila Anton!”
“Aku
memang gila karenamu, sayang” Anton tersenyum manja membuat ku
ingin muntah
“Sudah
takdirmu itu menikah denganku, terimalah! Aku pasti akan menjamin
kebahagianmu” dia memelukku, tapi aku mencoba melepaskan tubuhku
dari pelukannya
“mama
memperhatikan kita sayang” bisiknya ke telingaku. Aku membiarkan
diriku dipelukannya 'demi mama' dan aku menangis dipelukan Anton,
mengapa semua ini terjadi padaku. Aku merasakan Anton membelai
rambutku yang membuat aku semakin muak. Akhirnya dia melepaskan aku
dari pelukanya
“Kau
menangis Cassia?” Menatapku
“Aku
benci kau Antonius!”
“Pria
yang kau benci ini akan segera menjadi suamimu” dia tersenyum
menang aku benci senyumannya, rasanya aku ingin sekali menghajarnya.
“Tersenyumlah
calon istriku” Aku kembali menangis, menyadari bahwa aku akan
segera menjadi istrinya Antonius Nainggolan, Jurnalis muda berbakat
dan juga tampan, Pewaris tunggal perusahaan besar milik keluarganya,
Pria dengan adat batak yang kuat, Pria idaman orangtua ku, tapi aku
tak pernah mencintai dia, aku hanya mencintai Felix.
“Aku
tak akan pernah mencintaimu. Aku hanya mencintai Felix”
“Tapi
pada kenyataannya, kau akan menjadi istriku dan Felix hanya akan
menjadi masa lalumu”
“Tapi
aku akan tetap mencintai Felix”
“Terserah
kau saja, yang penting besok semua orang akan tau bahwa Cassia
Hutagalung akan menjadi istriku” Dia tertawa dengan sangat jahat,
aku kembali menangis
“Kau
tau Cassia, kau cantik jika tersenyum. Aku benci melihat kau menangis
seperti ini” Dia mencoba menghapus air mata ku.
“Aku
ingin bertemu dengan Felix” Ucapku menyingkirkan tangannya dari
wajahku
“Baiklah,
akan ku antar kau menemui Felix” Dia mengajak ku pergi.
Saat
aku tiba disana, ku lihat Felix duduk di bangku taman membelakangi
mobil ini
“Aku
tunggu kau di mobil, pergi temui dia dan katakan bahwa kau akan
menikah denganku” Aku berjalan menemui Felix
“Hai
Cassia, kau datang” Aku tersenyum dan tanpa berkata-kata lalu aku
memeluk Felix, Felix membelai rambutku
“Aku
sudah mendengar berita pernikanmu”
“Kau
tau dari mana?” Melepaskan diriku dari pelukannya
“Dari
calon suamimu, dia memintaku secara halus untuk melepaskanmu”
“Dan
kau mau melepaskanku begitu saja?”
“Awalnya
tidak, tapi aku tau ini semua demi kebahagianmu”
“Bahagiaku
bersamamu Felix”
“Tidak
Cassia, aku tak mampu memberikan apa yang kau inginkan dan orang
tuamu pun tak menyetujui hubungan kita”
“Aku
mencintaimu Felix”
“Aku
juga sangat mencintaimu Cassia tapi kita memang harus berakhir
walaupun aku tau, aku tak akan mampu tanpamu” Aku melihat air mata
Felix yang jatuh, dan aku kembali memeluk Felix
“Maafkan
aku Cassia aku tak bisa memberikanmu kebahagiaan selama ini, pergilah
kau akan bahagia bersama Antonius, aku yakin” ucapnya sambil
tersenyum berat.
“Felix,
aku mencintamu” memeluknya semakin erat
“Mulai
sekarang berhentilah mencintaiku dan belajarlah mencintai Antonius,
dia yang akan menemanimu sampai kau tua nanti” dia melepaskan
dirinya dari pelukanku
“Pergilah
Cassia, Antonius menunggumu” ucapnya lagi sambil tersenyum berat
“Aku
tak ingin pergi” Meneteskan air mataku
“Tapi
kau harus pergi Cassia” Dia tersenyum meyakinkanku. Aku mulai
melangkahkan kaki ku menjauhi dia. Tapi aku kembali lagi memeluk
Felix
“Felix....”
Lagi-lagi aku menagis dipelukannya
“Pergilah
sayang, Antonius itu kebahagianmu” Dia menciumku dan menyuruhku
pergi. Aku kembali melangkahkan kaki dan dia melambaikan tangannya
sambil tersenyum dan mengeluarkan air matanya, aku tak sanggup ingin
rasanya aku kembali ke Felix tapi Felix seolah-olah berkata “pergilah
sayang, demi kebahagianmu dan orang tuamu” aku melanjutkan
perjalananku sampai ke mobil Anton dan segera masuk.
“Aku
jadi tak tega memisahkanmu dengan Felix” Aku hanya terdiam
mendengar ucapan Anton dan menatap ke arah Felix yang masih duduk
dibangku taman itu.
“Cassia,
kau mendengarku?”
“Iya,
aku mendengarkanmu. Lalu mau mu apa?” Jawabku menahan emosi dan air
mata. Dia menatapku sesaat kemudian menghidupkan mobilnya.
“pakai
seatbeltmu” Perintahnya dan mulai menjalankan mobilnya,
dijalan Anton mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi
“Apa
kau sudah gila? Kau mau membunuh ku?” teriakku di mobil lalu Anton
memperlambat laju mobilnya
“maaf”
dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal. Anton mendadak
aneh, dia terlihat tak seperti Anton yang ku kenal. Tapi aku mencoba
untuk tak perduli karena aku masih kesal dengannya. Satu jam kemudian
sampailah aku dirumah
“Terimakasih
telah mengantarku” dia tak menjawab, dia hanya tersenyum seadanya
lalu pergi begitu saja.
Pagi
hari saat aku membuka mata, ku lihat kamarku penuh dengan
barang-barang
“Cassia
sudah bangun ya” Ucap seorang wanita cantik dengan kaos merah
panjang yang sedang berdandan, dia adalah seorang wanita yang aku
kenali, kakak sepupu Anton
“Kak
Aurel, apa yang kau lakukan dikamarku? Dan mengapa semua
barang-barang ini berada dikamarku” Tanyaku bingung
“Apa
kau lupa dengan hari ini?” Tanyanya sambil mengoleskan blush-on
ke pipinya
“hari
ini?”
“iya,
pesta adat pernikahanmu dengan Pewaris tunggal perusahaan Bapa Udaku,
Anton. Betapa beruntungnya dirimu menikah dengan dia” Ucapnya
sambil meletakkan blush-onnya di meja.
“Oh,
iya” ucapku parau, menundukan kepalaku dan menyembunyikan air
mataku yang jatuh menetes.
“Kau
menangis Cassia?”
“Tidak,
aku tidak menangis” ucapku setegar mungkin
“Kau
pasti bohong, aku tau kau tidak mencintai Anton” dia menghampiriku
lalu duduk disebelahku
“Aku...”
Lalu Aurel memotong ucapanku
“Anton
sudah menceritakan semuanya tentang dirimu kepada ku, aku sudah
mengetahui kau, kisahmu dengan Anton dan semuanya. Tapi Anton begitu
mencintaimu sehingga dia menggunakan cara ini. Sebenarnya, cara ini
jahat sekali, akupun tak setuju, tapi keputusan Anton yang kuat yang
akhirnya membuat kau harus seperti ini” aku hanya menundukan
kepalaku
“Tapi
menikah dengan Anton tak akan membuatmu mati, nikmati saja karena
akan menjadi menyenangkan pada akhirnya” ucap Aurel bijaksana
“lebih
baik kau mendi sekarang sebelum penata rias datang” Lanjutnya.
Aku
bangkit dari tempat tidurku menuju kamar mandi menghidupkan shower
duduk lemah dibawah air yang mengalir sambil menangis. Tuhan, kenapa
semua ini harus terjadi padaku? Beberapa jam lagi Anton akan menjadi
suamiku dan aku akan menjadi Nyonya Besar Nainggolan. Aku menangis
sejadi-jadinya berharap ini hanya mimpi buruk yang akan segera
berakhir.
Saat
aku keluar dari kamar mandi sudah banyak sekali orang berkumpul di
kamar ku yang kecil ini. Ya, mereka adalah penata rias sewaan yang
akan mendandani ku.
“Ini
Rel pengantinnya?” tanya seorang wanita cantik kepada Aurel
“Iya
yang ini” Ucap Aurel tersenyum
“Yaudah,
ayo cepetan sini saya make-upin”
Aku
duduk di kursi yang mengarah langsung ke kaca
“Abis
nangis ya non?” tanya penata rias yang akan mendandani wajahku
“Nggak,
perasaan lo aja kali” ucapku dengan ketusnya
“Jutek
bener sih mau nikah juga” ucapnya sambil mendandaniku, aku tak
menghiraukan ucapannya.
“Calon
suaminya ganteng deh non” ucapnya lagi berusaha mengajak ku bicara
“terus
kalau ganteng lo mau?”
“Idih,
gitu banget sih jawabnya. Kalau calon suami situ mau sama saya sih
saya nggak nolak” ucapnya dengan genit
“Ambil
gih kalau lo mau” ucapku berharap itu benar-benar bisa terjadi
“Cassia”
panggil Aurel
“Ya
kak” menoleh kearahnya
“telepon
untukmu” dia menyerahkan ponselnya
“dari
siapa?”
“bicaralah”
aku meletakan ponsel tersebut ke telingaku
“Halo”
“Selamat
pagi calon istriku, aku tak menyangka hari ini tiba. Kau akan segara
menjadi Nyonya Nainggolan, dan kita akan hidup bahagia selamanya. Ku
tunggu kau di gereja sayang, dandan yang cantik dan jangan lupa
sarapan. Antonius Nainggolan mencintaimu” lalu dia menutup
teleponnya tanpa mengijinkanku bicara, aku kembali menangis yang
menyebabkan maskara yang telah aku gunakan luntur terkena air mataku
“Ya
ampun Non, situ kenapa nangis. Ancur deh make-upnya” ucap si
penata rias dengan hebohnya, Aurel menghampiriku dan memelukku
“Kau
akan baik-baik saja Cassia, tak akan terjadi hal buruk. Anton akan
menjadi pendamping hidupmu. Terimalah dengan senyuman Cassia, ini
demi orang tua mu kan?” berbisik pelan ditelingaku lalu ku angkat
kepalaku menatap Aurel, dia tersenyum padaku
“Mungkin
ini yang harus kau hadapi Cassia, kau melakukan ini demi orang tua mu
kan? Percayalah Cassia, kau pasti akan bahagia dengan Anton walaupun
akan membutuhkan banyak waktu” Aurel tersenyum mencoba
menegarkanku. Para penata Rias kembali membersihkan wajahku dan
memperbaiki make-upnya, tak lama kemudian mama masuk
“Putri
mama” ucap mama memelukku dari belakang
“kau
sangat cantik hari ini, mama tak sangka putri mama yang dulu masih
mama suapi makan sekarang sudah akan menikah” mama meneteskan air
matanya, air mata bahagia. Aku tak mampu menahan air mataku, air mata
sedih ku bercampur bahagia. Aku tau menikah dengan Anton adalah
kebahagiaan mama, tapi ini bertentangan dengan yang aku rasakan.
“Jangan
menangis sayang, mama bahagia. Kau pasti bahagia dengan Anton, dia
pria yang sangat tepat untuk mu” mama meninggalkanku, kau harus
kuat Cassia demi mama.
Persiapan
yang panjang akhirnya selesai dan aku menuju ke Gereja untuk
pemberkatan pernikahan lalu menuju gedung untuk pesta adat. 45 menit
kemudian aku tiba di gedung pernikahan yang telah Anton sewa, berapa
ratus juta uang yang dia keluarkan untuk semua ini? Untuk orang yang
tidak mencintainya, Anton terlalu bodoh. Aku tiba lalu turun dari
mobil, Anton menggandengku menuju gedung tersebut dan mulailah pesta
adat batak yang sangat panjang dan melelahkan serta penuh haru dari
seluruh keluargaku. Jadi ini rasanya menikah? Rasanya indah, bahagia
melihat orang-orang yang aku cintai bahagia dengan pernikanku ini.
Andai saja aku menikah dengan orang yang benar-benar aku cintai,
pasti aku lebih bahagia dari ini. Melihat pria disampingku ini,
rasanya aku ingin muntah, ingin teriak, ingin sekali kabur dari
gedung ini. Namun apa dayaku, aku harus melakukan ini dengan senyuman
demi kebahagiaan mereka, orang-orang yang aku cintai.
Akhirnya
acara adat yang panjang selesai, aku telah menggati pakaian ku dan
kami pergi meninggalkan gedung. Aku tak mengerti, Anton tak heboh
seperti biasanya. Dia hanya duduk manis, tersenyum dan bicara
se-adanya. Lalu kami memasuki perumahan yang sangat mewah, aku
bingung kenapa kami dibawa kemari
“kita
mau kemana lagi?” tanyaku pada Anton
“kerumah
baru kita” bicara seadanya dengan senyuman khasnya
Lalu
mobil berhenti didepan sebuah rumah yang sangat mewah, dan ada
beberapa wanita dan pria yang sudah menunggu dihalaman dengan pakaian
yang sangat rapi
“ini
rumah baru kita, dan mereka adalah pelayan kita” Anton turun lalu
membuka pintu mobil dan menuntunku ke dalam
“Selamat
malam Tuan dan Nyonya” Anton hanya tersenyum manis kepada mereka
dan langsung mengajakku menuju kamar. Saat Anton membuka pintu kamar,
aku takjub melihatnya. Kamar yang sungguh luar biasa dengan ornamen
China serta Mesir dan dicampur sedikit ornamen-ornamen khas Batak
“Kamar
yang indah” ucapku mengagguminya
“untukmu”
Anton tersenyum dan mengajakku masuk
“Berapa
ratus juta biaya yang kau keluarkan untuk semua ini?”
“itu
bukan hal yang penting” Anton tersenyum memandangku
“Hari
ini kau sangat cantik” lanjutnya sambil menatapku, aku benci
melihat tatapan Anton yang menjijikan itu dia menggendongku lalu
meletakanku ditempat tidur.
“Malam
ini, kau resmi menjadi Nyonya Nainggolan” Anton mencium bibirku,
aku benci merasakan ini tapi aku menikmatnya. Hatiku berkata aku tak
mau melakukan ini bersama Anton tapi otakku berkata aku menikmatinya,
teruskan. Aku mencoba melawan menyingkarkan badan Anton, tapi apa
dayaku tenaga Anton lebih kuat maka aku tak mampu mengindar darinya
akhirnya aku menikmati apa yang
Anton lakukan padaku, maka malam itu terjadilah.
Pagi
hari saat aku membuka mataku, aku melihat Pria disebelahku aku
mencoba mengingat apa yang terjadi kemarin. Oh iya, aku menikah.
Dengan siapa? Dengan Pria yang sangat ku benci, dia pria itu yang ada
disampingku. Aku telah mengingat semua yang terjadi semalam, dan aku
mulai meneteskan air mataku lagi. Kenapa harus pria yang sangat aku
benci ini yang menjadi teman tidurku? Kenapa?
Aku
dikejutkan dengan sebuah ciuman yang mendarat di pipiku
“selamat
pagi” ucap pria disampingku sambil tersenyum
“aku
benci kau, Anton” membalikan badanku agar tak menatapnya
“kenapa
kau masih saja membenciku? Kau istriku sekarang” Anton mencium
pundak ku lalu menarik ku, membaringkanku dan lagi-lagi berhasil
membungkamkan mulutku dengan ciumannya
“Aku
mencintaimu Cassia Hutagalung” dia beranjak dari tempat tidur
setelah menciumku dan pergi ke kamar mandi. Lagi-lagi aku menangis
karena aku sadar, dia telah mengambil semuanya dariku
1
bulan sudah aku tinggal bersama Anton, hari-hari yang aku lalui aku
rasa biasa saja, aku selalu menghindari Anton, katakanlah aku ini
tidak terlalu bahagia. Aku menjalani kehidupanku dengan kemewahan
yang Anton berikan, mungkin hanya ini satu-satunya alasan aku bahagia
bersama Anton. Apapun bisa aku dapatkan dari pewaris tunggal ini
kecuali cinta, tapi aku tersadar sepertinya aku memang harus mulai
mencintai Anton, tak mungkin aku terus hidup dengan kepura-puraan
ini. Aku melihat Anton yang sedang duduk dipinggir kolam renang di
lantai 3, ku pandangi dia dari kejauhan dan baru ku sadari bahwa
Anton memang sangat tampan. Mulai muncul getaran-getaran kecil dari
dalam hatiku, apa ini artinya aku mulai mencintai Anton? Ku siapkan
jus kesukaan Anton dan cemilan, ku bawa kepada Anton yang duduk
disana
“Apa
yang kau lakukan disini Anton?” Meletakkan Jus dan cemilan di
sampingnya
“Aku?
Harusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan disini” menatapku
lagi, dan lagi-lagi aku merasakan getaran-getaran yang aneh
“Aku
hanya ingin mengantarkan ini” menunjukkan Jus dan cemilan yang aku
bawa
“Tumben
sekali, tapi aku menghargainya. Terimakasih” ucapnya sambil meneguk
Jus itu
“3
hari ini kau terlihat berbeda, ada apa denganmu? Apa perusahaan papa
bangkrut?”
“kau
memperhatikanku rupanya? Tak ku sangka” ucapnya sambil tertawa, aku
tak menjawab tapi aku menikmati tawanya, entahlah tawanya membuatku
senang
“Kau
mau tau kenapa aku berbeda? Aku sedang memikirkan seorang wanita”
ucapnya lagi sambil memakan cemilan yang ku bawakan
“Wanita?
Maksudmu apa? Kau sudah menikah Anton” ucapku dengan kesal
“menang
jika aku sudah menikah aku tak boleh memikirkan wanita?” tanyanya
dengan wajah menyebalkan
“Tentu
saja tidak”
“Kenapa?
kau cemburu?” menarik hidungku, aku terdiam dan mulai bertanya pada
diriku 'iya ya, kenapa juga aku harus memperdulikannya'
“Tidak.
Memang wanita itu siapa?” tanyaku dengan pasrah
“kau”
ucapnya sangat lembut
“kenapa
kau belum bisa mencintaiku?” tanyanya sambil menatapku. Aku tak
berusaha menjawab pertanyaannya, aku terdiam memalingkan wajahku
menatap jus yang aku buat tadi lalu meminumnya
“Hei
Cassia” Aku menoleh meletakkan gelas jus ku. Anton menggenggam
kedua tanganku kemudian menatapku, ku tatap matanya lagi dan Ya Tuhan
lagi-lagi aku menyadari bahwa pria yang selama sebulan ini menamani
tidurku ternayata tampan. Aku menundukan kepalaku berusaha lepas dari
tatapan matanya yang menyihirku sehingga membuat wajahku memerah,
kemudian dia memelukku.
“Hei
Cassia, belajarlah mencintai suamimu ini. Aku tak mungkin
menceraikanmu. Kau sudah aku tiduri, apa masih ada pria lain yang
menginginkanmu nanti?” ucapnya meledekku
“Meskipun
nanti statusku janda, pasti masih ada pria yang menginganku” Ucapku
tak mau kalah dengannya, lalu dia melepaskanku dari pelukannya
“Oh
iya tentu saja, dan kau mau tau siapa pria yang akan mengejarmu?
Antonius Nainggolan. Kalaupun nanti kau pergi ke ujung dunia, akan ku
kejar kau terus, terus dan terus tanpa rasa lelah. Kau menegrti”
ucapnya dengan bersemangat. Aku tertawa mendengar ucapannya yang
menurutku konyol itu
“Boleh
ku minta sesuatu?” tanyanya dengan senyuman khasnya
“Apa
itu?”
“Bisakah
kau setiap hari seperti ini?”
“Maksudmu?”
“Ya
seperti ini, tertawa denganku memberikan senyuman manismu itu untukku
setiap hari” ucapnya tersenyum, dan lagi-lagi aku merasakan getaran
aneh itu
“Aku
sedang berusaha untuk menjadi Nyonya Naninggolan yang baik” ucapku
tanpa sadar.
“Benarkah?”
Anton tersenyum senang, dan aku menyukai senyumannya itu. Aku
tersenyum padanya dan aku sadari sekarang, aku tak meragukan perasaan
ku lagi, aku mencintai dia Pria yang sangat ku benci, Antonius
Nainggolan♥
created
by : Maylan Handayani Saragih | @MaylanHandas
